FGD Regional Growth Strategy di Kulon Progo

  • 28 September 2018 17:15:44
  • 627 views

Kulon Progo, Dalam rangka untuk mengali potensi yang ada di setiap daerah di Indonesia, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengadakan RoadshowRegional Growth Strategy dalam Diskusi Panel Focus Group Discussion (FGD) dengan tema : Menuju Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi, Merata dan Berkualitas, di Ruang Rapat Sermo, Gedung Binangun I, Komplek Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Kamis (27/9).

Acara dihadiri Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta, Perwakilan dari BI DIY, Kepala BPS DIY, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, Kepala Bappeda Kabupaten dan Kota di DIY, Akademisi, dan OPD terkait se –DIY. 

Tujuan utama dari FGD Regional Growth Strategy ini adalah menghasilkan rekomendasi kebijakan pembangunan regional yang tinggi, merata, dan berkualitas untuk disampaikan kepada Presiden RI.

Sedangkan tujuan teknis dari FGD Regional GrowthStrategy ini  yaitu : (1). Teridentifikasinya potensi, tantangan, serta peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah yang lebih tinggi, merata dan berkualitas; (2). Teridentifikasinya target, sasaran dan tantangan pertumbuhan ekonomi berkualitas di masing-masing wilayah sesuai karakteristik dan potensi yang ada; (3).  Tersusunnya kerangka kebijakan strategis yang terukur, implementatif dan kredibel untuk mendorong pertumbuhan ekonomidaerah yang lebih tinggi, stabil dan berkualitas dalam rangka mendukung pencapaian ekonomi Indonesia.     

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, Arief Budimanta, mengatakan, Kegiatan FGD Regional Growth Strategy ini dilatarbelakangi oleh persoalan pada tahun 2018 saat ini yaitu perekonomian Indonesia masih dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi global yang kompleks serta berbagai tantangan domestik yang harus dihadapi.

“Perekonomian Indonesia pada tahun 2017 hanya mampu tumbuh sebesar 5,06 persen dan pada tahun 2018 pemerintah Indonesia hanya mampu menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, sesuai yang tertuang dalam dokumen Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).” Jelas Arief

Arief menambahkan meski demikian, Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Jokowi berharap bahwa perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih tinggi dari yang ditargetkan. Optimisme ini bukan bukanlah suatu hal yang berlebihan karena beberapa lembaga seperti Bank Dunia (World Bank), International Monetary Fund(IMF), Asian Development Bank (ADB) dan beberapa lembaga ekonomi lainnya memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahu 2017 berkisar 5,3-5,5 persen.

 “Berdasarkan kajian dari KEIN pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dapat tercapai diantaranya  dengan mendorong investasi agar dapat tumbuh 10 persen, mendorong nilai ekspor bersih yang positif serta dibarengi dengan percepatan pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur strategis nasional.” Tambah Wakil Ketua KEIN.

Menurut Arief, hasil kajian KEIN menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah bersifat tidak  merata (timpang). Terdapat beberapa daerah yang dapat tumbuh stabil dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Demikian sebaliknya terdapat daerah-daerah yang pertumbuhan ekonominya tidak stabil dan berfluktuasi.

“Oleh sebab itu, berdasarkan latar belakang tersebut, KEIN memandang perlu adanya kajian lebih mendalam dengan menggali potensi yang ada di setiap daerah, mengidentifikasi tantangan-tantangan yang ada serta memformulasikan kebijakan untuk bisa mendorong perekonomian yang lebih tinggi, merata dan berkualitas.” Tegas Arief.

Untuk itu, Arief berharap pemerintah daerah  dan semua stakeholder secara bersama-sama dapat menyusun kerangka strategis yang terukur,  implementatif, dan kredibel yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih tinggi, stabil dan berkesinambungan.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo, dr.H.Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), sebagai tuan rumah pertemuan FGD  Regional Growth Strategy, menjelaskan, Kabupaten Kulon Progo, sudah melaksanakan berbagai program pembangunan dalam upaya untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dengan berbagai inovasi daerah seperti membuat air isi ulang “AirKU”, mengubah beras Raskin menjadi beras Daerah RASDA, mengubah nama toko berjejaring menjadi Toko Milik Rakyat (TOMIRA) dengan memasukan produk-produk lokal, membuat Kopi lokal “Starprog” . Ini semua dalam upaya untuk menggerakan ekonomi masyarakat Kulon progo jangan sampai keluar, sehingga tercipta kemandirian ekonomi dan terjadi perputaran uang hanya di Kulon Progo.

Hasto menjelaskan, selain itu, Kulon Progo juga berkomitmen untuk menanggulangi kemiskinan secara cepat,  memberikan kemudahan pelayanan kesehatan, dan menggelorakan gerakan hidup sederhana.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bappeda dari Kabupaten dan Kota di DIY juga menyampaikan kondisi perekonomian daerah masing-masing, seperti kondisi Pertumbuhan Ekonomi, Gini Ratio, Kemiskinan, dan inovasi-inovasi daerah.

Menurut perwakilan dari Bank Indonesia DIY, Budi, bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta, investasi di DIY terus mengalami pertumbuhan.

“Geliat perekonomian di DIY menunjukkan hal yang positif, sebagian besar bergerak dalam  bidang Pariwisata, Perhotelan, UMKM, Industri Kecil, Industri Kreatif, Textil, Furniture, animasi dan game.” Ujar Budi.

(Bud-Humas KP)