Pemda Kulon Progo Cegah Perkawinan Usia Anak

  • 06 Agustus 2018 09:39:10
  • 1558 views

 

Perkawinan Usia Anak berarti perkawinan yang dilakukan antara pria dan wanita yang salah satu atau keduanya belum berusia 18 tahun. Seperti yang tersebut dalam peraturan Bupati Kulon Progo Nomor. 9 tahun 2016 tentang Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak.

 

Hingga Juli 2018 tercatat, 23 pasangan Pernikahan Usia Anak Kulon Progo dan 36 pasang pada tahun 2017. Dari pasang pernikahan usia anak, 29 anak sudah mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), 7 pasang belum hamil dengan alasan desakan orang tua atau mengikuti calon suami yang akan keluar daerah. Kasus yang cukup besar untuk pernikahan di usia anak.

 

“Padahal hak dasar anak yaitu hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, terlindungi dari pengaruh buruk, penyiksaan dan eksploitasi dan berpartisipasi secara optimasi dalam lingkup keluarga, kehidupan sosial dan budaya,” ungkap Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulon Progo, Eka Pranyata, Kamis (2/8).

 

Menyikapi hal tersebut, Pemda Kulon Progo melalui Dinsos Kulon Progo melancarkan aksinya sebagai bentuk pencegahan perkawinan usia anak, dengan sosialisasi dengan sasaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan masyarakat tentang Hak Dasar Anak, dampak perkawinan usia anak. Dinas Sosial dan PPPA melalui P2TP2A akan melakukan pendampingan psikologi bagi calon pengantin anak yang melakukan perkawinan sebagai referensi pengadilan agama untuk memutuskan perkawinan anak. Melakukan home visit untuk keluarga muda yang melakukan perkawinan usia anak. Meningkatkan jejaring untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan perkawinan usia anak (Kecamatan, Desa, LSM dll)

 

“Tujuan kebijakan yang kami keluarkan, untuk menjamin terpenuhi hak dasar anak, mewujudkan perlindungan anak, mewujudkan perlindungan anak, mewujudkan peran serta pemerintah, masyarakat, orang tua, anak dan pihak yang berkepentingan dalam mencegah perkawinan pada usia anak, wujudkan keluarga yang harmonis, meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup ibu dan anak, mencegah tindakan KDRT, menurunkan angka kemiskinan, dan menurunkan angka kematian ibu dan anak.” kata Eka

Berdasarkan pantauan lapangan Dinsos Kulon Progo, perkawinan pada usia anak Kulon Progo masih tinggi. Nyatanya, perkawinan usia anak baik secara paksa maupun sukarela merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Menikah di usia anak membutuhkan kesiapan, baik kematangan mental, sosial, dan ekonomi, agar terhindar dari perceraian serta menjadi keluarga Sakinah Mawadah Warohmah (SAMAWA).

 

Dinsos Kulon Progo mengarahkan, setiap pasangan perkawinan usia anak di masyaratkan untuk mendapat pendampingan psikologi di Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) sebagai referensi dari Perlindungan Anak untuk memutuskan pernikahan anak bisa di lanjut atau tidak.

“Seperti 8 orang (pasangang, red) dintaranya yang telah bercerai.” ujar Eka.