Open House Bupati Bahas Berbagai Permasalahan

  • 16 Februari 2018 11:27:01
  • 1192 views

Open house yang digelar setiap kamis pagi benar-benar selalu ditunggu warga, tidak hanya warga Kulon Progo tetapi juga warga dari berbagai daerah, dengan berbagai topik dan permasalahan yang dibahas. Bahkan beberapa warga sudah mendaftar beberapa hari sebelum kamis agar dapat bertemu Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo.

Seperti saat open house yang dilaksanakan Kamis (15/2), puluhan rombongan masyarakat rela menunggu antrian agar dapat berdialog dengan Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K). Yang sebagian besar masyarakat menyampaikan permasalahan sesuai bidang masing-masing.

Selain beberapa warga Kulon Progo yang menyampaikan permasalahannya, ada Karang Taruna Bedi, Paguyuban PKL/UKM Parsel (Pedagang Area Selatan) Kulon Progo Bapak Heri, Fisipol UMY, kunjungan Kepala Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta, Badan Pengurus Cabang Wanita Industri Pariwisata Indonesia (Indonesia Women In Travel) yang diketuai Ibu Helfi Dirix, Perkenalan Laskar Wiro (Yohanes Yuniardi), panitia Pembangunan SD Muh Degan (Dedi Hartono), Perkumpulan YGC (Yogyakarta Green and Clean), Forum Adiwiyata.

Dari Paguyuban PKL/UKM Parsel (Pedagang Area Selatan) Kulon Progo menyampaikan, sudah membentuk paguyuban dan kedepan akan membentuk koperasi, dan meminta pesan dan arahan Bupati Kulon Progo. Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) pun memberikan beberapa pesan dan harapannya.

"Saya berharap teman-teman pedagang bisa bekerja dengan jujur, tekun, gigih dan mengamalkan hidup sederhana, tidak boros dan punya kepedulian yang tinggi terhadap semua. InsyaAlloh dengan cara ini maka kita akan mendapatkan limpahan rezeki yang cukup dari-Nya." Pesan Bupati Kulon Progo yang didampingi Staf Ahli Bupati.


Kepada Bapak Damar dan rombongan dari YGC (Yogyakarta Green and Clean) dan Forum Adiwiyata yang didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Suharjoko, Bupati Kulon Progo menyampaikan terimakasih dan diadakannya kegiatan dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional tanggal 18 Februari 2018 dengan mengadakan gropyokan sampah, dan beberapa kegiatan lain seperti pembuatan briket, kompos, ecobricks.

"Terimakasih sudah ada gerakan, saya harapkan ada kegiatan peduli terhadap lingkungan ini yang sustainable. Karena dibeberapa tempat masih ada sebagian masyarakat yang masih perlu dirubah mindsetnya, masih memiliki kebiasaan jorok, membuang sampah disembarang tempat. Saya minta kejar siapa saja yang buang sampah sembarangan. Saya risih ada sampah sembarangan di pinggir jalan, maka kita bersihkan. Kita gaji 20 orang di TPA untuk memilah sampah, agar sampah agar zero residu di TPA, sehingga masyarakat sekitar tidak mengganggu. Gas metan di TPA juga dimanfaatkan untuk memasak warga sekitar. Kita bentuk KSM mengelola sampah dari masyarakat, kita rubah mindset kita. Jangan hanya Business By Ussual, tapi lakukanlah inovasi dan revolusi" kata Bupati yang akrab dipanggil Dokter Hasto.


Kepada Kepala UT Yogyakarta, Bupati menyampaikan terimakasih yang ingin bekerja sama dengan Kulon Progo untuk meningkatkan jumlah mahasiswanya yang sebagian dari Kulon Progo, baik dari kalangan PNS, maupun masyarakat umum, karena Kulon Progo juga wajib menaikkan derajat lama pendidikan masyarakat.

"Apalagi jika di UT bisa sambil kerja, dengan biaya lebih murah. Juga didukung teknologi yang baik. Untuk Kulon Progo juga bisa melalui bidik misi, dan sangat tepat untuk menyalurkan CSR dari berbagai perusahaan untuk meningkatkan pendidikan, karena masih banyak masyarakat kurang mampu yang membutuhkan peningkatan pendidikan." Kata Dokter Hasto.

Kepada Wanita Industri Pariwisata Indonesia (Indonesia Women In Travel) yang ingin mengajukan kegiatan dengan tema pemberdayaan sumber daya alam guna peningkatan pariwisata, ekonomi, sosial dan budaya di Kulon Progo, Bupati berpesan agar pada pertemuan harus di create, apa yang diharapkan, target yang ingin dicapai. Dan ada yang di tindak lanjuti sehingga ada hasilnya.

"Bisa berbasis program, seperti pemasaran gula semut. Atau berbasis destinasi atau sistem.
PHRI yang ada di WIPI bisa ikut memasarkan produk warga miskin, sehingga akan lebih memberikan banyak bermanfaat. Jangan mengulang sesuatu kegiatan yang tidak ada hasilnya. Sehingga harus ada tema, fokus, totality. Misal ingin melatih produksi ya sampai ke pemasarannya. Jangan puas hanya dengan mengukur output, tapi juga outcame dan impactnya.
(at@humaskp)