Pemkab Laksanakan Integrasi Program 100 Hari dengan Pendidikan Karakter

  • 15 Agustus 2017 14:20:11
  • 1602 views

Bupati bersama beberapa SKPD gabungkan Program Kerja dengan Pendidikan Karakter. Dalam ujicoba pertama, program 100 hari kerja digabungkan dengan program pendidikan karakter untuk anak-anak sekolah. Pada salah satu program 100 hari kerja, ada program lantainisasi dan program bedah rumah di beberapa tempat, untuk warga yang tidak mampu karena kita masih punya warga yang belum terlantainisasi. Kedua, Pemkab memulai melakukan, melaksanakan program pendidikan karakter yang didalamnya ada unsur gotongroyong.

"Jadi kami sekaligus mencoba bagaimana implementasi kurikulum ekstra kurikuler wajib yang namanya pendidikan karakter ini kita terapkan di sekolah. Kita gabungkan antara program gotong royong lantainisasi dengan program pendidikan karakter di sekolah" kata Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), saat pelaksanaan lantainisasi rumah milik Panut Warga Kalinongko Kedungsari Pengasih, Selasa (15/8/2017).

Pada saat gotong royong, tidak hanya warga sekitar yang hadir, tapi juga siswa SMP N 2 Pengasih dan siswa SD Bopkri Kalinongko juga tampak ikut bergotong royong. Para siswa penuh ceria dan kadang sambil bercanda ikut bergotong royong membantu meranting/ mengangkat pasir meskipun sesuai dengan kemampuan. Bahkan para siswa SMP N 2 juga menyerahkan makanan untuk keluarga panut dan ikut menyumbang.

Selesai gotong royong, Bupati meminta tanggapan beberapa siswa terhadap kegiatan ini, dan meminta masukan kepada para sekolah. Para siswa menyambut baik kegiatan ini. Salah satunya Arta Yuliyanto Siswa Kelas IX SMP N 2 Pengasih, menyatakan senang bisa membantu warga sekitar dan bergotong royong bersama-sama.

Saat ditanya Bupati terkait masukan dan plus minusnya kegiatan ini, Kepala SMP N 2 Pengasih Drs.Wazim menyatakan kegiatan ini sangat bermakna, bermanfaat.

"Karena disitulah implementasi pendidikan penguatan karakter itu malah sifatnya anak-anak langsung terjun ke masyarakat. Anak-anak akan mengenali lingkungannya dimana tinggal bahkan jika ada anak didik yang rumahnya belum berlantai semen, kami siap membantu pada kesempatan lain" kata Drs.Wazim

Selesai acara, Bupati Kulon Progo dokter Hasto menyatakan senang karena anak-anak sekolah terlihat saat ikut ranting pasir/material tidak canggung. Kemudian senang karena anak-anak familier dengan makanan rakyat, bisa makan pisang godhok dengan nikmat.

"Secara spontan menjawab masih bisa menikmati, itu optimisme bagi kita bahwa masih mencintai produk dalam negeri kita. Kalau yang cinta produk kita hanya orang tua, sudah cemaslah. Tetapi kenyataan hari ini kita tidak seperti itu, mereka (anak-anak) masih mencintai produknya sendiri." Tandas dokter Hasto dengan penuh semangat.

Mendengar tanggapan positif dari para siswa dan kepala sekolah terkait integrasi pendidikan karakter ini, Bupati melanjutkan semua sekolah melaksanakan seperti ini, di-*joint-*kan dengan program Baznas, CSR, dan anak sekolah bisa ada jam untuk ekstra kurikuler untuk pendidikan karakter.

Dokter Hasto menyampaikan prakteknya pendidikan karakter adalah seperti berkunjung kepada orang miskin, punya kepedulian sosial, bisa bergotong royong. Pancasila kalau diringkas jadi satu sila namanya gotong royong.

"Pendidikan ini akan dilaksanakan kontinyu, terus menerus, dan Dinas Pendidikan yang akan mengatur jadwal, cuma tetap tidak mengganggu jam sekolah, tetapi tetap terlaksana ekstra kurikuler karakter" jelas dokter Hasto.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Sumarsana,MSi menyampaikan, nilai karakter ada 20, kalau diringkas ada 5 nilai pokok karakter yang pertama religius, nasionalis, mandiri, gotongroyong, integritas.

"Hari ini anak-anak , anak SMP N 2 Pengasih dan SD Bopkri Kalinongko melaksanakan pendidikan karakter gotong royong" kata Sumarsana.

Dengan ikut gotong royong, anak-anak bisa mengetahui apa gotongroyong, jika mungkin selama ini hanya mengenal gotong royong kalimat apa gotong royong, tapi bentuk gotong royong ada warga yang kesusahan, ada yang rumahnya belum berlantainisasi, masyarakat bersama-sama, finansial, tenaga, bersama-sama membangun.

"Gotong royong bukan hanya orang tua, anak-anak kita kenalkan gotong royong" kata Sumarsana,MSi.

Disampaikan juga, Pendidikan bukan hanya tugas Dinas Pendidikan, tapi multi dinas yang ada juga bisa berperan. Contoh hari ini, Dinas Pendidikan kerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, dan suatu saat akan kerjasama dengan Dinas Kebudayaan, Dinas Perikanan, dan lainnya, karena pendidikan merupakan tugas semua pihak.

"Dimana Trisentra pendidikan peran dari sekolah, keluarga dan masyarakat. Pemerintah banyak instansi banyak berperan dalam segala hal pendidikan" tambah Sumarsana.

Dari 73 KK penerima Bantuan Sosial Lantainisasi, sekolah yang terlibat 38 dengan pertimbangan jarak antara sekolah dengan lokasi lantainisasi.

(at@humaskp).