Balai Diklat Kementrian Keuangan Bencmarking di Kulon Progo

  • 30 Mei 2017 15:11:07
  • 1496 views

Balai Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Kementerian Keuangan yang berlokasi di Magelang yang sedang menyelenggarakan Diklat Kepemimpinan (Diklatpim) Tk.IV Angkatan ke-211 yang diikuti oleh 18 (delapan belas) orang peserta yang berasal dari unit-unit Esolon I di lingkungan Kementerian Keuangan laksanakan Bencmarking ke Best Practices.

Salah satu agenda pembelajaran yaitu Agenda Inovasi, dengan tujuan agar para peserta mampu merancang pengembangan potensi dirinya, melakukan inovasi terkait pengelolan tugas dan fungsi pada unit instansinya, membantu membangun budaya kerja untuk efektifitas kepemimpinannya dan mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan pegelolaan tugas dan fungsi organisasi lain ke unit kerjanya.

Sehingga diharapkan peserta dapat menggali informasi terkait keberhasilan Bupati Kulon Progo menjadi pemimpin perubahan di kabupaten Kulon Progo malalui sharing session dengan Bupati secara langsung.

Kepala Balai Diklat Kepemimpinan Kementerian Keuangan RI Heni Kartikawati beserta 18 peserta Diklat diterima langsung oleh Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) atau Dokter Hasto, dengan didampingi oleh Kepala BKPP, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kulon Progo. Dalam kesempatan tersebut peserta antusias menanyakan berbagai hal terkait inovasi, tantangan, langkah yang dilakukan dalam melakukan perubahan.

Heni Kartikawati menyampaikan melakukan Bencmarking di Kulon Progo untuk belajar dari figur pemimpin yang bisa menginspirasi peserta. Dari apa yang dipahami, terkait ideologinya untuk menjadikan kemiskinan itu menjadi musuh bersama, dan melalui ideologi tersebut, banyak sekali inovasi yang sudah dilakukan.

"Dan saya melihat dari sekian banyak inovasi itu, hampir semuanya saya lihat berhasil dilakukan" kata Heni Kartikawati.

Heni menambahkan, intinya hal tersebut tidak lepas dari peran Bupati yang mempunyai gagasan dan kemudian menggerakkan jajaran dibawahnya maupun masyarakat di Kulon Progo untuk bisa mencapai keberhasilan tersebut.

"Itulah mengapa saya ingin mengajak teman-teman (peserta diklat), meskipun mereka berasal dari kementerian keuangan yang seringkali dianggap sebagai kementerian yang terdepan yang melakukan perubahan, tapi kenyataannya minim sekali mereka mendapatkan contoh langsung pemimpin perubahan yang sejati" jelas Heni.

Sehingga Heni berharap, peserta diklat bisa bertatap muka secara langsung, menyimak secara langsung pemaparan, mendengarkan pengalaman-pengalaman Bupati saat melakukan perubahan, sehingga peserta diklat mendapatkan inspirasi yang nyata, inspirasi yang riil, bagaimana menjadi pemimpin perubahan dan diharapkan bisa membentuk didalam sendiri di dalam pemimpin di Kementerian Keuangan.

Beberapa peserta Diklatpim mengaku terinspirasi dengan paparan Dokter Hasto, salah satunya Romi peserta Diklat dari Sorong Papua Barat menyampaikan sangat berterimakasih atas kesempatan yang diberikan oleh Pemkab Kulon Progo terlebih Pak Hasto yang telah berkenan menyampaikan beberapa kegiatan terkait perubahan yang dilakukan oleh dokter Hasto baik di periode pertama maupun periode kedua di Kabupaten Kulon Progo.


"Kami sangat terinspirasi pada apa yang disampaikan oleh Beliau bahwa perubahan itu tidak mesti dari yang besar, teknologi yang canggih, tinggi. Tapi perubahan itu bisa dimulai dari hal-hal yang sangat kecil, yang dirasakan oleh masyarakat, kemudian masyarakat merasa memiliki dan yang paling penting lagi merubah pola pikir masyarakat, sehingga kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, baik masyarakat biasa terlebih pejabat pemerintah" kata Romi.

Bahkan melakukan sesuatu itu tidak yang biasa-biasa saja, melakukan pekerjaan yang normatif, tetapi sesuatu yang baru yang memiliki manfaat lebih, itulah pelajaran yang bisa dibawa.

Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) atau Dokter Hasto menyampaikan ideologi beliau terkait berbagai inovasi yang dilakukan di Kulon Progo. Seperti Bela Beli Kulon Progo, bila ingin membela Kulon Progo salah satunya dengan membeli produk Kulon Progo. Dalam melakukan inovasi, mencari terlebih dahulu titik constrain yang paling membutuhkan intervensi.

"Inovasi bisa dimulai dari yang kecil, tapi tetap harus selalu berpikir besar. Start Small Think Big. Lakukan apa yang bisa dilakukan" kata Dokter Hasto.

Untuk melakukan inovasi juga harus siap keluar dari zona aman, zona nyaman, dan tidak hanya bekerja tapi harus berkarya.

"Seperti PDAM Perusahaan Daerah Air Minum, masa tidak bisa membuat air minum. Bikin air putih saja masa tidak bisa" tambah Dokter Hasto.

Saat ini kita tidak boleh melarang produk asing, karena sudah free trade area. Sehingga solusinya atau jawabannya adalah dengan ideologi, seperti membela Indonesia dengan membeli produk Indonesia. (at@humaskp)