KIE Program KKBPK Melalui Lagu, Mengapa Tidak?

  • 30 Agustus 2016 12:56:09
  • 1623 views

Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXIII Kabupaten Kulon Progo Tahun 2016 yang pelaksanaannya dipusatkan di Pedukuhan Tegiri 2, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, hari ini, Senin (22/8). Betapa tidak, bila di tahun-tahun sebelumnya, Harganas selalu diperingati dengan kegiatan upacara, gerak jalan, ekspose kegiatan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), dan pelayanan KB, maka ditahun ini selain kegiatan tersebut, juga dilakukan launching lagu "Ngopo Tuku" karya Pak Ndut/Drs. Mardiya yang sekarang berposisi sebagai Ka Sub Bid Advokasi Konseling dan Pembinaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi pada Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDPKB) Kabupaten Kulon Progo.


Launching lagu "Ngopo Tuku" yang musik dan aransemennya digarap oleh Budi Jolong dari Aspek Musik Jakarta serta dinyanyikan oleh Sunaryo, SPd dan Deni Widiastuti dengan latar belakang penari warga Pedukuhan Tegiri 2, dimaksudkan sebagai media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) program KKBPK yang endingnya untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera atau sekarang lebih dikenal dengan istilah keluarga berkualitas. Lagu tersebut menjadi media KIE program KKBPK karena di dalam lagu "Ngopo Tuku" sarat dengan pesan-pesan untuk menghidupkan dan mengoptimalkan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga. Mulai dari fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.


Harus kita akui bahwa selama ini lagu lebih banyak difungsikan sebagai sarana hiburan semata untuk membuat hati senang atau mengurangi stress. Meskipun ada juga yang memfungsikan untuk penyembuhan. Konon, menurut jurnal medis di Italia, lagu selain dapat menekan rasa sakit yang kronis, juga dapat untuk mengurangi denyut jantung dan tekanan darah yang artinya meminimalisir resiko stroke. Selain itu, ada yang memfungsikan untuk menstimulasi sel otak, meningkatkan performa dalam olah raga, dan membuat tidur lebih nyenyak serta meningkatkan optimisme. Namun dari semua itu, fungsi lagu belumlah lengkap bila belum dimanfaatkan untuk hal yang lebih jauh, yakni sebagai media KIE.


Pertanyaannya, dapatkah lagu digunakan sebagai media KIE program KKBPK? Terkait dengan pertanyaan tersebut, penulis dengan tegas menjawab ya. Karena di dalam sebuah lagu pasti ada liriknya, dan lirik itu bisa diisi dengan pesan-pesan sesuai keinginan penulisnya, siapapun orangnya. Pesan-pesan tersebut akan dapat merasuk pada jiwa seseorang dan mempengaruhi tutur kata, sikap dan perilaku yang bersangkutan, manakala lagu tersebut sangat disukai. Sehingga ada yang mengatakan, isi sebuah lagu bisa jadi menjadi sebuah "doktrin" bagi seseorang yang dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, apabila lirik dalam lagu tersebut berisi pesan-pesan tentang program KKBPK yang dikemas secara menarik, dipastikan ini menjadi media KIE yang efektif sekaligus efisien. Efektif, karena sekali sebuah lagu yang mendukung program KKBPK diciptakan, masyarakat atau kelompok sasaran akan mengulang-ulang sendiri lagu tersebut hingga hafal sekaligus meresapi dan menjiwai. Efisien karena KIE melalui media lagu hemat waktu, tenaga dan biaya serta praktis mengingat lagu dapat diputar kapan saya, oleh siapa saja dan di mana saja. Apalagi sekarang ini teknologi internet telah berkembang pesat yang memungkinkan lagu dapat disebarluaskan melalui YouTube atau jejaring sosial lainnya dan dapat diakses oleh siapapun cukup hanya dengan smartphone yang saat ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat kita.


Program KKBPK yang setidaknya menangani lima aspek garapan, mulai dari Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, hingga Pengelolaan Kependudukan, substansi isinya dapat dikemas dalam bentuk lagu. Tentu saja setelah melalui pemilihan kata-kata dan istilah yang pas sehingga mendapatkan lirik yang baik. Lagu yang berjudul "Rabine Diundur Wae" dan "Generasi Berencana" karya penulis adalah salah satu contoh dari pesan PUP yang dikemas dalam bentuk lagu. Begitu pula dengan lagu " KB Pancen Nyoto" karya penulis yang diproduksi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY menjadi contoh lagu dengan substansi pesan Pengaturan Kelahiran. Lagu "Wis Tekan Jamane" contoh untuk pesan Pembinaan Ketahanan Kelluarga dan lagu "Ayo Dho Usaha" untuk pesan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga melalui kegiatan ekonomi produktif. Sedangkan lagu "Donyane Wis Kebak" menjadi contoh lagu yang mengangkat pesan tentag Pengelolaan Kependudukan. Semua lagu tersebut sekarang ini dapat dengan mudah diakses melalui Google atau YouTube. Cukup dengan mengetik "Drs. Mardiya" pada kolom search, maka lagu-lagu yang dimaksud akan muncul di halaman pertama.


Berdasarkan pengalaman di lapangan, pemutaran lagu terutama yang ada videoklipnya, mampu menciptakan suasana segar saat dilakukan pertemuan penyuluhan program KKBPK. Masyarakat sasaran terlihat lebih bersemangat dan bergairah untuk menerima pesan yang disampaikan tanpa meninggalkan kesan santai/tidak tegang. Penyuluhan pun berjalan lebih lancar dari biasanya. Hasil akhirnya, masyarakat lebih mudah menerima pesan yang dibungkus dengan kesederhanaan sekaligus siap melaksanakan apa yang menjadi harapan pemerintah sesuai dengan porsinya. Dengan demikian, KIE program KKBPK melalui lagu, mengapa tidak?