Swadaya Desa Banyuroto Tertinggi di Nanggulan

  • 31 Mei 2016 04:22:39
  • 1779 views

Dari 2015 hingga sekarang, pembangunan di Nanggulan dapat berjalan dengan baik, lancar dan sukses. Peningkatan kesejahteraan di Nanggulan sudah berlipat-lipat dibanding pertengahan tahun 1970an. Hal tersebut dijelaskan Wabup, Drs. Sutedjo, dimana saat itu dirinya pernah menjadi Kades di Wijimulyo. Menurutnya setiap musim kemarau, sebagian daerah Nanggulan kesulitan air, sehingga tanaman sulit tumbuh dan kondisinya memprihatinkan.
Dalam kunjungan kerja BBGRM di Nanggulan, Selasa (31/5) tersebut, Wabup menceritakan sekitar tahun 1978-1979, daerah Donomulyo mendapatkan irigasi dari Kalibawang, sejak itu masyarakat mulai mencetak sawah baru, termasuk di Wijimulyo. Di tempat-tempat yang tinggi dimana air sulit untuk mengalir, para petani berusaha menaikkan air dengan berbagai kreatifitasnya sehingga bisa mengalir di lahan pertanian.
"Oleh karena itu, kemajuan-kemajuan tersebut mari kita lestarikan. Dan kami berterimakasih karena swadaya 6 desa di Nanggulan sangat bagus dibandingkan dengan bantuan Dana Alokasi Desa, Dana Desa, Bagi Hasil Pajak, dan hasil retribusi yang berjumlah lebih dari Rp 9 milyar. Di Donomulyo jumlahnya mencapai Rp 1,8 milyar. Sedangkan swadaya yang tertinggi dari Desa Banyuroto, yang mencapai lebih dari Rp 1 milyar. Meskipun bantuan ADD sekitar Rp 1,5 milyar, sehingga prosentase swadayanya bisa mencapai 75-80%," katanya.
Sementara di seluruh kecamatan, jumlah swadaya mencapai sekitar Rp 3,8 milyar. Terhadap bantuan pemerintah, Wabup meminta agar dikelola dengan maksimal, karena bantuan tersebut hanyalah sekedar untuk memicu keberdayaan masyarakat.
Menurut Camat Nanggulan, Jasil Ambar Was`an, kecamatan yang dipimpinnya memiliki berbagai potensi yang menarik untuk dikembangkan, seperti produktifitas tanaman pertanian yang tinggi, hijauan makanan ternak berlimpah, banyak drainase yang potensial untuk pengembangan perikanan darat, UMKM, maupun penambangan bahan galian C.
Meski begitu, diakuinya masih ada permasalahan yang dihadapi, seperti rawan kekurangan air di Banyuroto dan Donomulyo, kerusakan jalan, RTLH, sertifikasi tanah, dan kebiasaan BAB sembarangan.  Sementara isu strategis yang dihadapi adalah pengembangan wilayah perkotaan Dekso – Kalibawang yang membawa perubahan masyarakat sekitar, pengembangan kawasan minapolitan, kawasan hinterland sebagai penyokong kawasan agropolitan dan program swasembada beras.
Menurut Jazil, gotong royong di daerahnya saat ini masih berjalan, ditandai dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Gotong royong ini diperlukan dan diaplikasikan dalam pembangunan baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian hasil-hasil pembangunan. Oleh karena itu pemerintah perlu memfasilitasi pelestarian gotong royong supaya gotong royong supaya tidak hanya formalitas sesaat tetapi mampu diterapkan dalam sistem perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian hasil-hasil pembangunan.***