91,68 Persen Penduduk Indonesia Lebih Suka Menonton TV daripada Membaca

  • 22 April 2016 14:34:30
  • 4547 views

WATES, Minat baca masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah, karena berdasarkan data dari BPS tahun 2012, bahwa 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi dan hanya 17,66 persen penduduk yang menyukai membaca surat kabar, buku dan majalah. Demikian diantaranya sambutan tertulis Kepala Perpustakaan Nasional RI yang dibacakan Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI, Dra.Sri Sumekar, M.Si pada acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Aula Adikarta Pemkab. Kulon Progo (Jumat, 22/4-2016).

Lebih lanjut dikatakan, Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2015 telah melakukan kajian mengenai minat baca masyarakat Indonesia. Kajian dilaksanakan di 12 Provinsi dan 28 Kabupaten/Kota atau sudah tercakup 75 persen populasi wilayah Indonesia, ternyata nilai budaya baca secara nasional 25,1 atau berada pada peringkat rendah. Ada 4 (empat) indikator utama dalam menentukan minat baca masyarakat Indonesia tersebut, yaitu : Frekuensi membaca per minggu, Lama waktu membaca, Jumlah halaman yang dibaca perminggu dan Alokasi dana untuk membeli buku pertahun.

Pada bagian lain disampaikan, Data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki minat baca, apalagi menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Apabila dibandingkan dengan negara lain, minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah, karena di Amerika Serikat minat baca masyarakatnya bisa mencapai 20-25 buku per tahun, Jepang (10-15 buku per tahun), ASEAN (2-3 buku per tahun), sedangkan Indonesia hanya (0-1 buku per tahun).

Hal senada juga disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI, MY.Esti Wijayanti, bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menonton televisi lebih tinggi daripada membaca buku. "Masyarakat Indonesia, termasuk pelajar paling suka berlama-lama di depan TV bisa sampai 5 jam per hari" ujarnya. Berdasarkan penelitian, menurut Esti, Masyarakat Indonesia belum tentu bisa menyelesaikan 1 judul buku per tahun, padahal di negara lain bisa 4-5 judul buku per tahun. Anggota DPR RI mengajak dan mendorong kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan gerakan bersama gemar membaca mulai dari keluarga.

Persoalan ini menjadi bahan yang menarik dalam acara Talkshow Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca, yang dihadiri 5 (lima) Narasumber yaitu, Dra. Sri Sumekar, M.Si (Kepala Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI), MY. Esti Wijayanti (Anggota Komisi X DPR RI, DAPIL DIY), dr.Lestaryono, M.Kes (Staf Ahli Bupati Bidang Pengembangan SDM dan Kesra), Drs.Bambang Sulistya, MM (Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan BPAD DIY) dan Drs. Harminto, MM (Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kulon Progo).

Beberapa solusi yang mengemuka pada acara talkshow Safari Gerakan Nasional Gemar membaca ini, antara lain adalah melengkapi fasilitas penunjang perpustakaan, karena saat ini menurut kepala Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI, Dra.Sri Sumekar, M.Si, sudah mulai membangun gedung perpustakaan 24 lantai untuk pengembangan sarana dan prasarana perpustakaan. Selain itu, berupaya meningkatkan anggaran melalui Bappenas dan kementerian terkait. Perpustakaan Nasional Sampai saat ini juga terus berupaya menciptakan program pembudayaan gemar membaca melalui peningkatan kualitas dan kuantitas perpustakaan, seperti Gerakan Nasional Gemar Membaca dan Kunjungan Perpustakaan, serta Kampanye Nasional Indonesia Gemar Membaca.

Lebih jauh, dalam makalahnya, Sri Sumekar menyampaikan Pembudayaan Kegemaran Membaca dilakukan melalui keluarga yaitu dengan penyediaan perpustakaan keluarga walau sederhana dengan bahan-bahan bacaan seadanya, berikutnya dapat melalui satuan pendidikan dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai bagian integral proses pembelajaran, serta melalui masyarakat dengan penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan berkualitas. Sri Sumekar menambahkan, strategi pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca, dapat dilaksanakan dengan mengevaluasi pemberdayaan perpustakaan secara terkoordinir antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Perlu Komitmen dan kesungguhan aksi dari semua komponen bangsa baik di pusat maupun daerah, sehingga diharapkan dapat terdorong untuk membaca dan belajar sepanjang hayat (long life education).

Sementara itu, Dalam Sambutan tertulisnya Bupati Kulon Progo, dr.H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) yang dibacakan staf ahli Bupati Bidang Pengembangan SDM dan Kesra, dr.Lestaryono, M.Kes, menekankan perlunya peningkatan budaya membaca di berbagai lini masyarakat, apalagi membaca adalah jendela dunia, sehingga dengan membaca dapat mengetahui segala aspek ilmu dan pengetahuan. Yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan peran perpustakaan di daerah.
(Budi)