Bupati Ingin Rasa Tempe Standar

  • 22 Januari 2016 10:45:31
  • 1377 views

Bupati Kulon Progo dr H Hasto Wardoyo SpOG(K) berharap agar rasa tempe bisa ajeg atau standar dan dijaga higienis-nya. Menurut dr. Hasto, bila itu dipenuhi maka tempe akan laris. Mengkonsumsi tempe ini banyak manfaatnya, sebab kaya akan protein dan vitamin, demikian pesan dr. Hasto saat meresmikan "Omah Tempe" di Pedukuhan Dobangsan Desa Giripeni dan Pedukuhan Kuncen Desa Bendungan Kecamatan Wates, Kamis (21/1/2016).

"Makanan berbahan dasar kedelai ini mengandung fitoestrogen yang tidak hilang selama proses fermentasi. Kandungan fitoestrogen bisa membuat kulit keriput kembali kencang," jelas dr. Hasto. Pada kesempatan itu Bupati juga melihat proses pembuatan tempe dan mencoba membuatnya, serta menyaksikan penandatanganan kerja sama antara Omah Tempe milik Suhardi dan Arif Ruswanto dengan RSUD Wates dan RS Nyi Ageng Serang untuk mensuplai kebutuhan tempe ke rumah sakit tersebut.

Tiga perajin tempe telah menerima bantuan sosial dari Kementerian Koperasi dan UKM RI dalam meningkatkan kualitas tempe melalui peningkatan proses pengolahan yang higienis. Penerima bantuan menggunakannya untuk membuat "Omah Tempe", tempat untuk memproduksi tempe higienis.

Sekretaris Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Sutirto menyatakan, saat ini di Kulon Progo ada sebanyak 281 orang perajin tempe tahu. Bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM diberikan pada Suhardi Dobangsan Giripeni, Arif Rusmanto Kuncen Bendungan, dan Nuraini Temon.

"Kami difasilitasi usulannya oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kulon Progo. Bantuan ini memberikan motivasi yang berdampak positif, seperti tenaga tambah, makanan menjadi higienis dan pengolahan ramah lingkungan, sehingga diharapkan produksinya akan bertambah pula," kata Sutirto.

Suhardi salah seorang perajin tempe yang menerima bantuan mengaku senang. Dengan alat yang higienis dan Omah Tempe tersebut, diharapkan dapat bekerjasama dengan seperti rumah sakit ataupun restoran. Kedepan omzet penjualan bisa ditingkatkan sehingga akan mampu menyerap tenaga kerja. Saat ini tenaga kerja baru dua untuk produksi dan marketing.

"Saat ini kami baru memproduksi 50 hingga 60 kilogram kedelai perhari, yang dijadikan dua produk tempe, dengan merek "Telogo" (Tempe Kulon Progo) untuk kalangan menengah ke atas dijual Rp 3.500 dan "Ardi Suhardi" untuk menengah ke bawah dengan harga Rp 2.000. Sementara ini pemasarannya di pasar pagi Wates, Bendungan, Clrereng, Nguri, dan lainnya," kata Suhardi sembari menambahkan mulai Senin (18/1/2016) pihaknya sudah mensuplai RSUD Wates tempe sebanyak 6 hingga 9 kilo tempe.