Bupati Resmikan Sekolah Berbasis Budaya

  • 25 Juli 2015 12:33:38
  • 2517 views

Bupati resmikan SD N Mendiro Gulurejo Lendah sebagai Sekolah Berbasis Budaya. Dengan peresmian ini menjadikan SD Mendiro menjadi satu-satunya sekolah yang mendeklarasikan diri sebagai sekolah berbasis budaya di Kulon Progo. Melihat siswa SD sudah bisa membuat batik sendiri dan sudah berkarya, Bupati menilai menjadi hal yang luar biasa.

"Luar biasa siswa sudah bisa buat batik sendiri, sudah bisa berkarya" kata Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), usai meresmikan sekolah berbasis budaya, bertempat di Balai Desa Gulurejo, Sabtu (25/7).

Dengan membatik, akan dapat meningkatkan Olah Rasa pada siswa. Karena saat membatik, harus dengan rasa, tidak sekedar pikir dan skill.

"Penting harus mencetak generasi dalam 3 hal. Olah Pikir, Skill dan Olah Rasa. Sekolah budaya harus kembangkan rasa. Rasa harus berkembang di kalangan anak-anak" tambah dokter Hasto.

Untuk mendukung menjadi Sekolah Berbasis Budaya, dokter Hasto meminta Kepala Sekolah dan Kades untuk mencari lokasi yang bisa digunakan untuk laboratorium budaya. Sehingga di laboratorium budaya ini, selain siswa dapat berlatih batik, juga dapat berlatih tari, karawitan dan sebagainya.


Kepala SD Mendiro, Agus Sudarmaji,SPd menyampaikan latar belakang dijadikannya sekolah berbasis budaya setelah dilakukan analis SWOT, terdapat potensi budaya lokal baik batik, karawitan maupun tari.

"Dari 141 Siswa, banyak potensi yang perlu dikembangkan. Namun belum dikembangkan maksimal karena belum didukung oleh berbagai lini" kata Agus.

Maka sekolah bersama beberapa pihak merapatkan barisan, satukan tekad untuk mengemangkan potensi lokal. Februari 2015 sepakat mencoba dikembangkan potensi budaya lokal di SD Mendiro, dengan menggunakan anggaran sekolah, dan ternyata juga sesuai dengan BOS Daerah DIY yang digunakan untuk kegiatan budaya.

Sekitar 4 bulan, sudah menghasilkan batik kreasi siswa. Sudah 138 baju batik hasil kreasi anak. Beberapa anak juga punya potensi bakat tari. Untuk Karawitan sekitar 4 bulan dibantu desa dan dusun Wonolopo yang memiliki seperangkat gamelan.

"Satu hal sangat kami beranikan, demi anak dan masyarakat" tambah Agus. Saat ini SD ini satu-satunya yang kembangkan batik secara massal untuk pakaian, biasanya siswa di SD lain baru membatik pada sapu tangan dan taplak meja.

"Diharapkan kedepan jadi anak berkarakter dan berbudaya" harap Agus.

Sar Sugeng,SPd salah satu Guru Kelas SD Mendiro juga menyampaikan, bahwa membatik di SD Mendiro dilakukan dari siswa kelas 1 sd 6, masuk pelajaran Muatan Lokal pilihan, dan ada guru batiknya.

Untuk Karawitan untuk kelas 3 sd 6, ekstra diluar jam sekolah, setiap sabtu. Untuk tari, ekstra diluar jam sekolah sesuai kelasnya.

"Selain melestarikan budaya, juga untuk membentuk sekolah unggul di bidang budaya dan melatih anak-anak mencintai budaya sendiri" kata Sugeng.

Siswa juga senang saat belajar membatik. Untuk membatik dan tari dibimbing oleh guru Fitriyani SSn.


Kepala Dinas Pendidikan, Sumarsono,MSi juga menyampaikan, bahwa Menteri Pendidikan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri nomor 21 tahun 2015 untuk menumbuh kembangkan daya anak, agar anak lebih berbudaya.

Untuk batik, di daerah Mendiro juga menjadi salah satu yang mengangkat perekonomian. Keadaan dahulu dan sekarang jauh berbeda. (akhmad)