Memaknai Hari Keluarga

  • 30 Juni 2015 08:08:19
  • 2151 views

Tanpa terasa, hari ini atau tepatnya 29 Juni 2015, kita telah memperingati Hari Keluarga yang ke-22. Namun sejauh ini, peringatan yang kita laksanakan setiap tahun ternyata belum mampu secara optimal menggugah kesadaran dan kepedulian keluarga-keluarga di Indonesia untuk berupaya memperbaiki kualitas diri. Hal ini dibuktikan dengan masih tetap banyaknya kasus-kasus perceraian, keretakan dan ketidakharmonisan hubungan antar anggota keluarga, juga kecenderungan meningkatnya kasus-kasus perselingkuhan baik oleh suami sebagai kepala keluarga maupun isteri sebagai pendamping suami. Sementara mereka mestinya dapat menjadi dapat menjadi contoh dan teladan yang baik anak-anaknya.


Di kalangan anak-anak sendiri sebagai generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa, juga telah mengalami degradasi mental dan moral yang cukup serius karena salah dalam pengasuhan dan pembinaan, terutama oleh keluarga. Sebagai dampak dari pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga yang kurang berjalan baik seperti fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan pemibinaan lingkungan, banyak di antara anak-anak kita yang terjebak dalam jiwa hedonisme, konsumerisme, pemboros, tidak menghargai norma dan aturan, serta tidak berdisiplin dan bertanggung jawab. Selain itu yang mencemaskan, remaja kita mulai akrab dengan minum-minuman keras, kehidupan seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba yang menyulut kenakalan remaja dan perilaku negatif lainnya yang bersinggungan dengan kriminalitas dan hukum.


Hari Keluarga sebenarnya merupakan momentum yang tepat sebagai pijakan dan landasan bagi setiap keluarga di Indonesia untuk merefleksi dan merenungi diri dalam rangka menumbuhkan kesadaran dimana letak kesalahan atau kekeliruan keluarga hingga belum mampu tampil sebagai wahana pembentukan generasi masa depan yang berkualitas. Dari kesadaran ini diharapkan akan tumbuh kepedulian dan semangat pada seluruh keluarga di Indonesia untuk berbuat sesuatu sehingga peran dan fungsinya dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu, karena tidak pernah tumbuh persoalan serius dalam keluarganya baik dalam hubungan antar suami isteri, orangtua dengan anak-anaknya maupun dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.


Kita semua telah memahami bahwa keluarga adalah unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi tumbuh kembang setiap individu dalam keluarga, terutama anak. Hal ini terkait erat dengan tugas keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang membentuk kepribadian generasi penerus, menumbuhkan dan memupuk jiwa besar, berdisiplin serta bertanggung jawab. Keluarga, terutama orangtua merupakan tokoh yang ditiru oleh anak. Maka sudah seharusnya orangtua memiliki kepribadian yang baik menyangkut sikap, kebiasaan, perilaku dan tata cara hidupnya.


Begitu sentralnya peranan orangtua, penyair kelas dunia Kahlil Gibran menyatakan bahwa orangtua adalah "busur" yang merupakan sarana meluncurkan anak sebagai "anak panah hidup" ke masa depan. Artinya, orang tua adalah pencetak generasi yang bentuk dan pola kepribadiannya menjadi model bagi anak-anaknya. Sehingga para orangtua harus secara sadar memilih nilai-nilai yang akan ditanamkan pada anak, serta mencari peluang dan kesempatan untuk menekankan dan mencontohkan perilaku yang patut diteladani. Meskipun orangtua tidak akan mampu menjamin anak-anaknya tumbuh dan berkembang tepat seperti harapan dan keinginan mereka, namun jika anak dibesarkan dengan nilai-nilai dan kebiasaan yang positif, dipastikan ia akan menerapkan nilai-nilai dan kebiasaan positif itu pada masa dewasanya sehingga memberikan sumbangsih teradap kebiasaan masyarakat.


Ayah sebagai pemimpin atau kepala keluarga, diibaratkan sebagai mata air. Kalau mata airnya keruh, keruh pula alira sungainya. Sebaliknya kalau mata airnya jernih, maka akan jernih pula aliran sungai itu. Sedangkan ibu dengan sifat halus yang dimiliki, diberi kepercayaan mendidik anak. Anak-anak memiliki tugas belajar agar nantinya dapat menggantikan peran sebagai orangtua. Bila terjadi konflik, penyelesaiannya tidak menggunakan pendekatan hitam putih, tetapi menggunakan cara paling baik untuk keluarga. Orang Jawa dalam menyelesaikan konflik menggunakan falsafah "menang tanpa ngasorake" sehingga orang yang salah tidak kehilangan muka dan yang benar tidak dirugikan.


Dalam konteks yang lebih luas, keluarga memiliki tanggung jawab kepada masyarakat. Mempunyai anak adalah sebuah tindakan moral. Karena dengan memiliki anak, orangtua mempunyai kewajiban terhadap masyarakat. Kenakalan anak akibat pengasuhan dan pembinaan yang salah tidak hanya membuat hati orangtua berduka dan pemakai narkoba tidak hanya membuat sedih orangtuanya, mereka juga menguras uang, sumber daya dan kesabaran masyarakat. Sebaliknya anak-anak yang diasuh dengan baik, bukan cuma menjadi sumber kebahagiaan keluarganya, tetapi juga menjadi landasan bagi masyarakat yang sukses dan patut dibanggakan.


Atas dasar itu, tidakah terlalu salah bila kita menggambarkan tentang hubungan orangtua dan anaknya terutama yang sudah remaja sebagai hubungan antar manusia yang mengemban tanggung jawab moral terbesar. Salah satu tanggung jawab orangtua adalah menanamkan nilai-nilai yang baik, mengajarkan tanggung jawab, serta meningkatkan akhlak yang baik. Tanggung jawab lainnya adalah menjamin kesejahteraan anak, mencurahkan perhatian, serta memahami perasaan dan kebutuhan anak. Keluarga yang harmonis akan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk menerima dasar-dasar perkembangan, latihan-latihan sikap dan kebiasaan yang baik. Keharmonisan keluarga juga akan memberikan rasa aman bagi anggotanya untuk dapat berkembang secara wajar dalam menerima pengalaman-pengalaman sosial sebagai kehidupan bersama di dalam masyarakat.


Melalui peringatan Hari Keluarga ke-22 tahun 2015 ini, kita perlu memaknai keluarga tidak hanya dalam arti sempit, tetapi untuk menyadarkan lebih dari 59 juta keluarga di Indonesia agar lebih peduli terhadap pentingnya membangun keharmonisan dalam keluarga karena kita telah dibukakan wawasan tentang betapa besar peran sebuah keluarga sebagai wahana pembentukan generasi masa depan yang berkualitas dan berkepribadian yang secara langsung maupun akan menentukan cerah buramnya masa depan bangsa dan negara ini di kemudian hari.


Drs. Mardiya, Ka Sub Bid Advokasi konseling dan Pembinaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada BPMPDPKB Kabupaten Kulon Progo.