Pak Tedjo Buat Genteng di Pantog Kulon

  • 20 Mei 2015 08:05:41
  • 1888 views

Daerah Pantog, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo memiliki tanah yang cocok untuk membuat genteng. Tak heran tanah di sekitar sini banyak dibawa ke luar daerah sebagai bahan pembuatan genteng. Para pengrajin juga sudah ada sejak lama, namun umumnya hanya berbentuk usaha pribadi yang menghasilkan produk berkualitas seadanya. Melihat potensi nya, Pemkab Kulon Progo melalui pemerintah desa Banjaroya memberikan bantuan berupa 3 alat press genteng dan 2 mesin penggiling.

Wabup Kulon Progo, Drs. H. Sutejo Rabu (20/5) mengunjungi salah satu tempat produksi genteng pres Super Menoreh di Pantog Kulon. Di tempat ini Pak Tedjo, panggilan akrabnya, sempat membuat genteng sendiri dengan bimbingan Dalhuri, penanggung jawab kelompok pengrajin genteng. Usai membuat genteng, dirinya menandatangani genteng buatannya sebagai kenang-kenangan. Menurut Sutedjo, dirinya menilai usaha pembuatan genteng di Pantog Kulon sudah bagus dan alat-alatnya sudah cukup lengkap. Dengan alat yang ada para pengrajin sudah menghasilkan genteng dengan kualitas baik. Bahkan para pengrajin itu sudah tahu cara membuat genteng yang baik kualitasnya, seperti cara merapatkan pori-pori tanah.

“Sehingga kami dari pemerintah daerah punya kewajiban moral untuk membantu pemasarannya. Kami akan selalu mempromosikan genteng-genteng dari Kulon Progo ini. Apa lagi ada sentra genteng di Selo, meskipun di Pantog ini bukan sentra tetapi kualitasnya sudah baik dan sudah membentuk kelompok. Artinya beberapa kelompok pengrajin genteng ini sudah punya organisasi, sehingga kewajiban moral bagi pemda untuk memasarkan dan kami punya komitmen untuk memakai produk lokal dalam proyek-proyek daerah,” tuturnya.

Dia menambahkan kalau ada investor yang ingin menanamkan modal dalam usaha genteng ini, Pemkab akan melihat dahulu pola penanaman modalnya.

“Yang penting bagi kami jangan sampai penanaman modal itu justru akan mengurangi peluang pengrajin lokal untuk berkembang. Sepanjang itu akan memacu perkembangan pengrajin lokal, mengapa tidak. Tetapi kalau tidak ada komitmen seperti itu tentu perlu dipelajari dulu, meskipun pada prinsipnya pemkab terbuka terhadap investor, tapi tentu saja kita berharap investor bisa memantik pergerakan ekonomi di Kulon Progo, termasuk geliat ekonomi masyarakat yang meningkat. Jangan sampai melemahkan atau membunuh usaha ekonomi yang sudah berjalan di Kulon Progo. Yang penting investor bisa memberi manfaat kepada rakyat, kita akan menyambut baik jika bisa memberi peluang kerja atau usaha pada rakyat lebih banyak. Bisa saja dibuat koperasi, hanya saja pembentukan itu sebisa mungkin dari masyarakat sendiri yang harus berinisiatif,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Kalibawang, Setiawan Tri Widada menjelaskan bahwa kalau investor itu masih melibatkan warga masyarakat yang ada di sekitar, tentu dirinya mendukung karena memang kendala yang dihadapi kelompok adalah permodalan, seperti untuk penjemuran yang menggunakan terpal. “Kelompok berharap untuk tempat penjemuran yang permanen, sehingga ini perlu modal yang besar. Jika ada investor harapannya bisa melibatkan warga masyarakat. Saat ini masih ada kendala belum punya alat pencetak kerpus, sehingga perlu adanya bantuan. Kalau memang sudah berkembang saya kira akan bisa membentuk koperasi. Kita akan mendukung itu,” kata Setiawan.

Senada dengan Setiawan, Kades Banjaroya, Anton Supriyono mengatakan bahwa desa siap menerima dan memfasilitasi investor karena desa sangat terbuka untuk investor yang menanamkan modalnya. Namun begitu saat ini belum ada investor yang tertarik.

Dijelaskan Anton, potensi tanah di sekitar Banjaroya yang baik untuk membuat genteng dimanfaatkan salah satu warga Pantog Wetan untuk membuka usaha genteng press. Pemerintah desa membantu dengan mengusulkan ke Pemkab untuk memberikan bantuan mesin press dan mesin giling serta pelatihan. Usaha ini dinilai bisa menjadi tambahan penghasilan karena masyarakat yang terlibat dalam satu usaha genteng sekitar 8 orang.

“Dampak yang terlihat adalah warga yang dulu hanya jual tanah dan dibawa ke luar Kulon Progo sekarang bisa ikut memproduksi atau titip bahan untuk digarapkan. Pemdes juga memberikan bantuan modal untuk kelompok usaha genteng ini melalui anggaran desa,” kata Anton.

Menurut Dalhuri, tempat pembuatan genteng saat ini ada 4 tempat dengan total mesin giling 3 unit dan mesin pres 5 unit. Namun tobong pembakaran hanya ada satu dengan kapasitas 5000 – 6000 buah, dengan kapasitas produksi antara 5000 – 10.000 buah per bulan.

“Saat ini kendala yang dihadapi adalah tidak adanya pencetak wuwung/krepus, kurangnya modal usaha dan transportasi serta rumah produksi dan pengeriny yang kurang layak. Untuk itu kami berharap pelatihan dan pencetak batu bata merah dari pemerintah untuk menambah kelompok baru,” katanya.***