Pemkab Segera Atasi Bencana Banjir

  • 29 April 2015 09:49:18
  • 1603 views

Beberapa wilayah di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Jumat (24/4) hingga Sabtu (25/4) pagi. Keempat kecamatan yang direndam banjir adalah Temon, Wates, Panjatan dan Lendah. Kecamatan paling parah terendam banjir adalah Kecamatan Panjatan yang mencapai 797 rumah. Di kecamatan ini, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) membentuk posko dan dapur umum. Ketinggian air bervariasi antara 30 centimeter hingga satu meter. Namun di luar rumah, ketinggian air bisa lebih tinggi. Air hujan juga membuat sejumlah perkantoran dan gedung sekolah juga terendam, misalnya di Polsek Panjatan dan beberapa sekolah.

Bupati Kulon Progo, dr. Hasto Wardoyo mengatakan pemkab akan mengalokasikan dana tak terduga melalui BPBD untuk menangani permasalahan bencana khususnya banjir. Pemkab melalui Dinsosnakertrans membangun posko dan dapur umum, agar bisa membantu warga yang rumahnya terendam. Bupati juga sudah menengok langsung di lapangan dan mengunjungi beberapa sawah yang terendam, rumah-rumah yang kena longsor, dan jalan yang tertutup. Pada prinsipnya ada kriteria yang bisa dipilah terkait bencana tersebut. 

"Ada bencana yang memang betul-betul unpredictable dan sumber bencana atau penyebabnya itu tidak bisa kita kendalikan, seperti banjir yang besar karena hujan yang sangat berlebih disuatu area tertentu sehingga menimbulkan suatu kerusakan seperti jembatan, 40 tahun terakhir cerita orang di daerah Hargomulyo tidak pernah ada kejadian seperti ini (jembatan rusak)," kata Bupati di ruang kerjanya, Selasa (28/4).  

Menurutnya baru sekarang terjadi kejadian seperti ini. Ini merupakan suatu force majeure atau kejadian luar biasa, Namun hal seperti ini masih bisa diatasi. Jembatan yang rusak tersebut bisa diatasi dengan dana tak terduga dari BPBD maupun dari Dinas Sosial yang bisa mendukung untuk revitalisasi sarana fisik yang rusak itu. 

"Yang kedua ada juga yang penyebabnya cukup jelas seperti gorong-gorong rusak dan akhirnya air itu melewati gorong-gorong, tidak segera masuk ke sungai yang besar. Tetapi gara-gara ada gorong-gorong yang jebol, kemudian ada daerah tertentu yang akhirnya tenggelam," tambah dr. Hasto. 

Kalau kejadiannya seperti ini, untuk mengatasinya, gorong-gorong yang rusak segera diperbaiki, diutup saat airnya berlebih sehingga air di selokan larinya tidak ke sawah, tetapi ke sungai. Itu contoh yang disebabkan oleh adanya kerusakan gorong-gorong. Secara umum saat ini memang terjadi over estimate hujan secara.

Ada satu kriteria becana yang dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi seperti kemiskinan. Ini adalah suatu hal yang sifatnya sistemis dan multi disipliner. Karena rumah rumah orang miskin masih tidak layak huni, dengan adanya angin, hujan, ataupun gempa, rumah seperti ini relatif rentan, tidak sekuat rumah orang dengan kehidupan yang lebih mapan. Hal seperti ini dibantu sesuai mekanisme dan kemampuan pemerintah daerah yang ada, tapi juga secara sistematis harus bisa meningkatkan kemampuan kualitas ekonomi rumah tangga masyarakat. (aj)