Pemkab Lampung Barat Belajar KTR di Kulon Progo

  • 27 April 2015 12:52:13
  • 1867 views

Senin (27/04), bertempat di Joglo Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, Pemkab Kulon Progo menerima kunjungan dari tim Kawasan Tanpa Rokok Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung dalam rangka Kaji Banding Kawasan Tanpa Rokok  di Kabupaten Kulon Progo. Rombongan Lampung Barat yang berjumlah 40 orang dipimpin oleh Asisten Sekda Bidang Administrasi Pembangunan Kabupaten Lampung Barat, Ir Nopiardi Kuswan dan diterima oleh Staf Ahli Bidang Bidang Kemasyarakatan dan SDM, dr. Lestaryono, M.Kes.

Membacakan sambutan Bupati Kulon Progo, dr. Lestaryono menyatakan bahwa di Kabupaten Kulon Progo dalam rangka kampanye bahaya rokok telah diterbitkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).   Namun demikian Perda No. 5 Tahun 2014 tentang KTR ini bukan berarti melarang orang untuk merokok, tetapi hanya mengatur tempat-tempat yang bebas asap rokok maupun tempat mana yang diperkenankan untuk merokok, karena perokok pasif juga berbahaya.

Dengan Perda KTR ini diharapkan dapat menekan adanya perokok pemula. Kita ketahui bersama bahwa perokok beratpun tentu tidak mau kalau anaknya diajari untuk menjadi perokok. Saya yakin seorang perokok beratpun tidak rela kalau anaknya diajari untuk jadi perokok.

Menurut Kadinkes Kulon Progo, dr. Bambang Haryatno, kemiskinan memiliki kaitan erat dengan kebiasaan merokok di masyarakat. Bahkan masyarakat miskin sulit bila diminta berhenti merokok, karena hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemberlakukan kawasan tanpa rokok. Namun Bambang menjelaskan, paling tidak para perokok tersebut tidak merokok di dalam rumah. Sebelum adanya perda KTR di Kulon Progo, sebenarnya sudah ada desa yang berkomitmen untuk membuat kawasan tanpa asap rokok.

“Karena semangat perda KTR ini adalah bukan melarang orang untuk merokok, tetapi mengatur agar orang-orang yang mempunyai hak atas udara bersih bisa mendapatkannya. Apalagi di rumah tersebut ada balita dan ibu hamil, ini yang kami tekankan,” tambah Bambang.

Menurutnya pihak Pemkab peduli terhadap rokok bukan kepada mereka yang sudah merokok, tetapi pada penurunan jumlah perokok baru, sehingga jangan sampai ada perokok baru di Kulon Progo. Bahkan bagi siswa sekolah asap rokok ini bisa mengurangi asupan oksigen dan menyebabkan anemia. Selain itu kebiasaan merokok juga mengurangi angka perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Terkait implementasi Perda KTR di masyarakat, dr. Bambang menjelaskan bahwa secara luas artinya perda itu bukan diarahkan pada larangan merokok, tetapi jangan sampai menambah perokok pemula, sehingga para perokok tidak begitu terdampak. Meski demikian para perokok juga diberi sosialisasi tentang bahaya merokok dan diajak senam bersama. Selain itu bagi perokok yang ingin berhenti merokok juga disediakan klinik berhenti merokok di Puskesmas. Sedangkan terkait dengan kebiasaan merokok dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti perkumpulan, pengajian, dan lain sebagainya, pemerintah desa sendiri membuat peraturan desa yang mengatur hal tersebut, meskipun dalam Perda KTR tidak ada aturan yang tegas mengatur merokok dalam pertemuan.