Reproduksi Kemiskinan ( 1 )

  • 23 Maret 2015 12:21:26
  • 2134 views

Makna reproduksi kemiskinan yakni sebagai berikut , reproduksi bisa diartikan dengan proses melahirkan kembali sesuatu hal oragnisme yang secara umum hampir menyerupai kondisi dari induk generatifnya. Sedangkan kemiskinan dimaknai sebagai sebuah kondisi sosial ekonomi yang berada dibawah standar kesejahteraan hidup di suatu daerah pada kurun waktu tertentu. Bila dimaknai secara holistic dapat dikatakan bahwa reproduksi kemiskinan merupakan fenomena proses social ekonomi biologi dari suatu keluarga atau masyarakat yang berada dalam kondisi dibawah standar hidup sejahatera yang menurunkan kemiskinannya tersebut kepada generasi berikutnya. Keadaan tersebut akan terus terjadi ketika tidak ada proses perubahan social baik berkaitan dengan takdir , nasib maupun intervensi secara sengaja.

Reproduksi kemiskinan menyangkut berbagai bidang kehidupan diantaranya miskin secara social , miskin secara ekonomi, miskin terhadap  ilmu pengetahuan, miskin terhadap politik , miskin terhadap rasa keamanan serta kenyamanan , miskin secara mental dan karakter dan sebagainya. Keadaan tersebut diyakni menjadi salah satu penyakit social yang akut dan harus segera dicari jalan keluarnya bersama antara pemerintah, masyarakat yang peduli dan dunia usaha pada umumnya. Reproduksi kemiskinan akan menciptakan generasi bangsa yang miskin, bodoh dan terbelakang  dengan mental dan karakter yang buruk bagi proses pembangunan bangsa dan bahkan ditengarai menjadi biang keladi ambruknya moral dan sistem bermasyarakat dan bernegara.

Banyak sekali forum seminar, diskusi, workshop  dan kajian ilmiah yang mendiskusikan fenomena reproduksi  kemiskinan tersebut  bahwa  penyebab utama terjadinya reproduksi kemiskinan yakni  faktor orang tua/ keluarga yang berada pada kondisi kemiskinan tidak berusaha keras memutus mata rantai kemiskinan bagi anak keturunannya.  Mudah dipahami bahwa pada umumnya orang tua yang berada pada kemiskinan memang sangat sedikit memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk memetus mata rantai kemiskinan tersebut. Maka peran pemerintah dan masyarakat di sekitar lingkungan menjadi penting untuk peduli memberikan nasihat/ informasi terkait konsep perubahan social ekonomi keluarga miskin tersebut.

Dari berbagai kajian beberapa factor penyebab reproduksi kemiskinan adalah ;

1.       Hambatan psikologis dari keluarga miskin untuk bergaul dengan masyarakat maupun keluarga yang sudah sejahtera karena merasa miskin dan tidak patut bermasyarakat.

2.       Minimnya  pengetahuan dan pengalaman orang tua untuk diberikan pada anaknya supaya berusaha keras melakukan perubahan social vertical melalui pendidikan, kemasyarakatan, dan berbagai cara lain.

3.       Hambatan psikologis dan minimnya pengetahuan dan pengalaman menyebabkan keluarga miskin tidak memiliki akses yang cukup signifikan terhadap sumber-sumber penghasilan ekonomi dan modal social untuk melakukan perubahan kesejahteraan

4.       Masyarakat kapitalis yang mementingkan kesejahteraan pribadi sebagai gaya hidup yang cenderung bersifat tidak peduli terhadap kondisi social ekonomi di lingkungan sekitar rumahnya menambah factor penyebabnya.

5.       Program-program ( keagamaan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, kesehatan,  pemberdayaan, politik, pertanian, infrastruktur ) pemerintah yang belum signifikan berhasil  menyasar titik reproduksi kemiskinan  keluarga sehingga fenomena tersebut akan terus berulang tiap tahun dan semakin besar.

6.       Dinamika social di era modern yang serba cepat dan dinamis ( gaya hidup, hubungan interpersonal dalam keluarga, lingkungan masyarakat, individu dengan negara, kerusuhan social, keretakan hubungan dalam keluarga ) menjadi factor penyebab lain dari kesulitan sebuah keluarga dan masyarakat memutus reproduksi kemiskinan.

7.       Semangat, motivasi dan keimanan seseorang untuk keluar dari jurang kemiskinan juga dinilai sangat menentukan sebuah keluarga atau masyarakat mampu memutus reproduksi kemiskinan pada generasi berikutnya. Yang perlu dimunculkan adalah sentiment positif terhadap pemaknaan kesejahteraan dan kemakmuran yang dimiliki orang lain supaya muncul rasa optimis dan keinginan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

 

Satu hal yang menarik jika melihat fenomena tersebut dari  tinjauan paradigma pembangunan bahwa keadaan tersebut jelas merupakan salah penyakit pembangunan yang perlu segera dicari solusinya. Selama ini program pemerintah yang menyasar pada penanganan masalah kemiskinan belum signifikan menghilangkan fenomena social reproduki kemiskinan tersebut. Jumlah penduduk miskin yang sangat banyak di negara ini bila tidak digarap dengan serius akan terus melahirkan generasi miskin yang lebih banyak lagi dan tentu program-program pemerintah akan sangat kesulitan mengatasinya. Mencari akar permasalahan kemiskinan dan mengatasi persoalan pokoknya tentu akan lebih arif, efektif dan efisien mengingat keterbatasan dana pemerintah pusat maupun daerah maupun swasta dalam hal penanggulangan kemiskinan.

Program pemberdayaan dan penguatan kapasitas orang tua dan keluarga untuk memutus mata rantai kemiskinan menjadi hal yang sangat diperlukan. Kurikulum pemberdayaan yang holistic dan integrative merupakan harapan penting dalam rangka pembekalan pendidikan dan ketrampilan orang tua dan keluarga untuk memahamkan pada generasi berikutnya tidak melakukan hal-hal yang kontraproduktif terhadap perang melawan kemiskinan. Kurikulum yang dimaksud meliputi pengetahuan ekonomi untuk meningkatkan penghasilan keluarga, pengetahuan psikologi tantang motivasi dan mental orang tua yang positif supaya dicontohkan pada anaknya, pengetahuan tentang pentingnya mengakses pendidikan setinggi-tingginya sebagai media untuk melakukan perubahan sosial vertikal, pengetahuan keagamaan  sebagai landasan moral dan keyakinan tiap individu terhadap arti pentingnya penghargaan terhadap kehidupan yang diberikan Tuhan.

Kemampuan masyarakat untuk mengatasi persoalan hidupnya sendiri merupakan sebuah seni dan kreatifitas pemangku kepentingan terutama pemerintah dalam rangka menggerakan kemandirian dan kepercayaan diri bangsa. Ketika proses pembangunan sudah bisa melibatkan masyarakat secara aktif dan bahkan masyarakat mampu menjadi aktor utama pembangunan tersebut  maka kesejahteraan bangsa tinggal menunggu waktu saja.  Pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan pemantik proses pembangunan berbangsa dan bernegara itulah hakikat dari demokrasi  kerakyatan.