MEP UGM Tertarik Bantu Desa di Kulon Progo

  • 12 Maret 2015 13:48:35
  • 1546 views

Dalam rangka untuk mendekatkan kalangan akademisi dan menerapkan ilmu yang didapat, Magister Ekonomi Pembangunan (MEP) UGM memiliki program kemitraan dengan pedesaan sehingga masyarakat desa bisa mendapatkan manfaat dari kalangan akademisi. Menurut Direktur MEP, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D., saat audiensi dengan Sekretaris Daerah Kulon Progo, Ir. RM Astungkoro M.Hum, program ini akan mendorong mahasiswa memiliki perhatian kepada masyarakat pedesaan, meskipun mereka sekolah di bidang ekonomi.

Dalam audiensi hari Kamis (12/3) tersebut, Lincolin menjelaskan bahwa pihak MEP ingin membantu desa dengan menganggap desa sebagai mitra. Bantuan tersebut sesuai dengan kebutuhan desa dan disinergikan dengan program-program Pemerintah supaya tidak terjadi tumpang tindih.

Dalam program yang bertajuk Education for Sustainable Development (EFSD) ini, terdapat 3 pilar yang menjadi komponen sehingga bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat desa. Pilar tersebut adalah kesinambungan bidang ekonomi (keseimbangan produksi dan konsumsi), keadilan sosial (harmoni, selaras, partisipasi) dan kelestarian lingkungan (reduce, reuse, recycle). Ketiga pilar tersebut harus terjabar secara seimabang dalam setiap kegiatan supaya permasalahan yang ditemui di masyarakat bisa diselesaikan hingga ke akar-akarnya.

"Dengan demikian ketiga pilar ini harus ada supaya kemitraan ini bisa sustainable," kata Lincolin.

Untuk saat ini, tim pengabdian kepada masyarakat MEP UGM mengajukan kepada Pemkab Kulon Progo 2 desa, yaitu Desa Banaran dan Desa Banjaroya. Program ini rencananya berjalan secara berkelanjutan dan memanfaatkan KKN mahasiswa untuk mendukung kontinuitas dan sinergi program.

Sebelumnya tim dari MEP sudah melakukan survei di kedua desa tersebut, dan keduanya dianggap sesuai dengan program ini. Namun untuk perkenalan, rencananya nanti akan dilakukan bakti sosial terlebih dahulu.

Sementara itu Sekda Kulon Progo, Ir RM Astungkoro meyakini apa yang dilakukan pihak MEP ini mempunyai misi yang menguntungkan masyarakat. Pemilihan desa di sekitar pantai diharapkan bisa mengurangi konflik yang terjadi di daerah pantai, khususnya di Desa Banaran.

"Bantuan yang berwawasan lingkungan juga bisa bermanfaat bagi masyarakat, khususnya karena di daerah ini banyak dibangun tambak sehingga bisa membantu masyarakat memperbaiki lingkungan yang diakibatkan pembangunan tambak yang terlalu banyak," kata Astungkoro.

Astungkoro berharap, agar pihak MEP juga membantu Pemerintah Desa terkait manajemen keuangan. Apalagi ke depan desa akan menerima bantuan pemerintah dalam jumlah yang besar, jika bantuan dana ini tidak dikelola dengan baik dikhawatirkan menyebabkan kesalahan fatal yang dapat menyeret pengelola kedalam masalah hukum.

"Dengan program ini diharapkan juga bisa menyajak masyarakat agar memanfaatkan anggaran untuk kegiatan pemberdayaan, membantu kades menata keuangan, terutama manajemen keuangan dan aset," kata Sekda.

Terkait dengan pemberdayaan masyarakat,  Astungkoro mempersilahkan pihak MEP untuk memulai dari data kemiskinan yang dimiliki Pemkab Kulon Progo. Selain itu pemberdayaan bisa dilakukan dengan terjun langsung membangun proses produksi di UKM atau industri rumah tangga sehingga mereka bisa memasarkan produknya.

Menutup audiensi, Lincolin berharap dengan program yang sustainable, desa bisa terus menjadi mitra dan aparatur desa bisa meningkat kualitasnya. Untuk itu MEP siap memberikan pendampingan untuk menjaga sustainability program ini.***