GKR Hemas Kunjungi Kulon Progo

  • 03 Maret 2015 16:57:25
  • 2175 views

Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas Lakukan Kunjungan Kerja dan Penyerapan Aspirasi, yang dilaksanakan di Balai Desa Tanjungharjo Nanggulan Kulon Progo terkait implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, dilanjutkan peninjauan Klinik Kesehatan Tanaman "Prima" (Pelayanan Rekomendasi Informasi Hama dan Agens) Nanggulan sebagai Kecamatan PHT di Sadang Tanjungharjo Nanggulan.

Melalui kunjungan kerja saat reses ini, GKR Hemas akan mendengar keluhan masyarakat terutama masalah implementasi undang-undang desa. Karena saat ini masyarakat desa, pemahaman tentang undang-undang desa ini hanya ada dana besar. Padahal terkait penggunaan dana desa ini harus dipersiapkan khususnya oleh Kepala Daerah, agar nantinya implementasi dana desa dengan peraturan UU Desa ini harus waspada.

"Ojo nganti nanti menggunakan dana desa ini banyak kepala desa sing sekolah (red-dipenjara)" kata GKR Hemas.

Diharapkan, Kepala Desa harus betul-betul punya pemahaman yang jelas. Ini perlu dikawal Pemerintah Daerah, melalui Bupati agar secepatnya dikawal tentang bagaimana penggunaan atau pemahaman UU Desa sampai dengan penggunaan dana desa.

Yang lebih penting terkait UU Desa ini adalah bagaimana pamong desa dapat mengoptimalkan dana yang ada untuk pembangunan desa.

Dalam UU Desa ini, desa telah diposisikan sebagai subjek bukan sebagai objek. Kepala Desa bertugas mengelola mengatur dan melaporkan penggunaan anggaran, menerima secara transparan, profesional dan akuntabel.

"Hal ini harus dilakukan pelatihan dahulu, sehingga lebih siap" tambah beliau.

Adapun tujuan UU Desa ini antara lain, memberi pengakuan dan penghormatan atas desa yang sudah ada sebelum NKRI ada, memberi kejelasan status dan kepastian hukum atas desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia, melestarikan dan Majukan adat tradisi masyarakat desa, mendorong prakarsa dan partisipasi masyarakat desa.

Didampingi Ka Dinas Pertanian DIY Ir.Sasongko,MSi, Ka DPU DIY Ir.Rani Sjamsinarsi,MT,
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Yogyakarta Agus Suprapto, Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo, GKR Hemas akan menyerap aspirasi dan menyampaikan permasalahan yang dihadapi baik kepada Pemerintah maupun kepada Pemerintah Daerah.

Dalam kesempatan tersebut hadir juga Muspika Nanggulan, Kades se-Nanggulan, Ketua BPD se-Nanggulan, Ketua LPMD se-Nanggulan dan Kelompok Tani Tanjungharjo.

Menanggapi Kunjungan ini, Wabup, menyatakan Terimakasih dan memberi peluang bagi masyarakat Kulon Progo untuk diperjuangkan aspirasinya. Dengan kunjugan ini juga akan meningkatkan spirit bagi warga Kulon Progo untuk membangun wilayah Kulon Progo.


Dalam acara dialog, warga menyampaikan beberapa hal antara lain Budi Raharjo Direktur Klinik Tanaman Prima, yang menyampaikan perlunya perbaikan saluran irigasi dan jalan inspeksi dari Sumbermulyo sampai dengan Banyuroto. Hal ini akan ditindaklanjuti oleh BBWSSO dan Dinas PU DIY dengan mengecek lapangan terlebih dahulu.

Sedangkan Tukimin HS petani dari Tanggul Angin Tanjungharjo, menyampaikan harapan agar harga beras tetap dipertahankan diharga Rp 10 ribu, karena akan menguntungkan petani. Kerajinan di Kulon Progo jangan hanya jadi produsen tapi jika bisa Kulon Progo juga sebagai eksporternya.

Fungki Timur warga Temon, menyampaikan bahwa pertanian di pegunungan menoreh saat ini belum dilakukan secara sistematis. Hal ini berbeda jauh dengan yang di Malang. Dengan ketinggian yang hampir sama, tetapi sistem pertanian sudah dilakukan secara sistematis. Di Kulon Progo ketrampilan teknis dari petani juga masih sangat kurang, sehingga perlu mendapat perhatian.

Sujiyo warga Tanjungharjo menyampaikan perlunya peningkatan fungsi KUD seperti sedia kala, karena semenjah ada peraturan 3 menteri dinilai mengurangi gerak KUD.

Semua permasalahan yang disampaikan dibahas, dan akan ditindaklanjuti oleh SKPD terkait. Kedepan GKR Hemas juga akan melakukan melihat lagi Klinik ini agar mengetahui perkembangannya. Diharapkan dengan adanya klinik kesehatan tanaman ini akan dapat digunakan petani untuk belajar, mempertajam pengetahuan petani, dan yang penting bagaimana agar ilmu yang dimiliki bisa langsung digunakan dan diimplementasikan. (at.MC)