Bupati Apresiasi Capaian Penurunan Kemiskinan di Panjatan

  • 27 Juni 2014 13:55:49
  • 1327 views

Penurunan kemiskinan di Panjatan mencapai 3% dalam dua tahun, ini termasuk yang tinggi karena kalau di tingkat Kabupaten hanya 0,5% per tahun. Hal itu terungkap pada acara Bulan Bakti dan Gotong Royong Masyarakat di Kecamatan Panjatan, Kamis (27/06).

Terkait prestasi itu, Bupati Kulon Progo, dr. Hasto Wardoyo menyatakan apresiasinya dan ke depan akan mencari kecamatan yang paling berprestasi dalam menurunkan angka kemiskinan bersamaan dengan launching program PNS sebagai Bapak Asuh Warga Miskin.

Menurut Camat Panjatan, Sudarmanto penurunan angka kemiskinan ini merupakan hasil dari karena kerja sama semua pihak, dari kecamatan, desa dan juga leading teknis pengampu. "Yang pasti kita secara rutin, membantu pengembangan ekonomi bagi kelompok pengembangan usaha melalui Bazcam. Jadi selain untuk fakir miskin, Bazcam juga diberikan kepada usaha kecil yang bisa menstimulan mereka. Bedah rumah juga secara signifikan juga berperan karena bisa mengatasi RTLH," katanya.

Ditambahkannya, kecamatan dalam hal ini bertugas mensinergikan, menjadi penghubung antara instansi yang menjadi leading sector dan masyarakat. Kecamatan juga meng-create swadaya masyarakat. Ke depan, Kecamatan Panjatan juga akan mendorong masyarakat untuk memaksimalkan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain tingginya penurunan kemiskinan, kecamatan ini juga memiliki layanan kesehatan yang mumpuni, terlihat dari Puskesmas Panjatan II yang memiliki layanan bak rumah sakit tipe D. Bahkan menurut dr. Hasto Wardoyo saat meninjau puskesmas itu, ruang rawat inapnya tidak kalah dengan ruang kelas satu di RSUD Wates, bedanya hanya tidak memiliki TV di ruangan itu.

"Saya tahu bahwa Puskesmas Panjatan II memiliki dokter teladan nasional, saya percaya dokter yang ada di situ juga dokter-dokter yang baik, termasuk petugasnya. Saya lihat tata cara peletakkan ruangan dan settingnya bagus sekali. Karena kinerja juga bisa dilihat dari penempatan alat. Jika puskesmas ini bisa memberikan pelayanan yang bagus akan menjadi contoh bagi puskesmas lain," kata Bupati yang juga memiliki klinik ini.

Diharapkan Bupati, puskesmas ini bisa menjadi referensi, termasuk sistem informasi kesehatan di dalam puskesmas, sehingga bisa mengetahui biaya pengobatan dengan cepat. Sisten informasi internal puskesmas ini perlu digetok tularkan. Sebenarnya puskesmas pasti mampu melaksanakan sistem ini, karena sistemnya sederhana, hanya SDMnya perlu disiapkan. Terkait peningkatan layanan di puskesmas lain di Kulon Progo, dr. Hasto menargetkan ke depan puskesmas rawat inap yang pasiennya banyak seperti Temon dan Sentolo ditargetkan memiliki puskesmas yang standar, termasuk Puskesmas Kalibawang juga perlu mencontoh Puskemas Panjatan II.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Bambang Haryatno menjelaskan bahwa Dinkes sudah berkomitmen semua gedung puskesmas di Kulon Progo nantinya akan dibangun supaya representatif secara bergantian. Menurutnya, hampir semua puskesmas di Kulon Progo sudah bagus, tinggal beberapa yang belum.

"Beberapa puskesmas yang melayani rawat inap kita dorong untuk mempersiapkan layanan dengan baik dalam menerima pasien-pasien BPJS. Apalagi RSUD Wates sangat terbatas ruangannya, sehingga puskesmas rawat inap kita dorong untuk mengembangkan kemampuannya agar bisa menampung pasien-pasien. Apalagi Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan standar pelayanan kesehatan di fasilitas primer pada 145 diagnose yang bisa dilakukan di puskesmas," tutur Bambang.

Hal ini dimaksudkan untuk membantu RSUD yang sudah overload pasien. Sehingga Puskesmas rawat didorong untuk menampung luberan dari rumah sakit. Bahkan ada orang yang sudah di rumah sakit kemudian malah pindah ke puskesmas, karena lebih nyaman, baik dan pelayanannya sama.

Terkait Puskesmas Pengasih II, dijelaskannya bahwa  saat pembangunannya memang dirancang untuk memenuhi standar rumah sakit, sehingga bisa memberi kenyamanan. Artinya masyarakat yang tidak mampu bisa mendapatkan layanan yang nyaman layanan keseahtan. Hal itu terlihat dari jumlah pasien 2 orang per kamar, kamar mandi dalam dan disediakan kipas angin.

Saat ini puskesmas yang melayani rawat inap di Kulon Progo ada 6 dari 21 puskesmas. Kedepan, puskesmas yang jauh dari fasilitas rawat inap akan dikembangkan jadi rawat inap, seperti Puskesmas Kalibawang. Temon I, samigaluh I, Girimulyo Ii, Galur II, Sentolo I, dan Panjatan II. Pertimbangannya adalah pasien membutuhkan layanan cepat meski tinggal jauh dari RSUD Wates.

Acara BBGRM di Panjatan ini merupakan penutup dari rangkaian acara BBGRM tahun 2014. Dalam penutupan ini, BBGRM dihadiri oleh Forkorpimda Kulon progo dan beberapa instansi Pemda Kulon Progo.***