Wabup Dukung Upaya Gapoktan Swasembada Benih Padi

  • 04 Juni 2014 10:21:51
  • 1213 views

Wakil Bupati Kulon Progo Drs.H.Sutedjo sangat mendukung upaya Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Catur Manunggal untuk memenuhi kebutuhan benih padi secara mandiri (swasembada). Sehingga kedepan kebutuhan benih padi petani setempat bisa dipenuhi sendiri, tanpa harus membeli dari daerah lain.

Hal tersebut disampaikan Wabup saat peninjauan kegiatan proses pembuatan bibit padi bersertifikasi milik Gapoktan Catur Manunggal yang diketuai oleh Ngudi Saryono di Desa Karangwuluh Temon, Selasa (3/6/2014). Dalam rangka Bulan Bhakti Gotong Royong (BBGRM) ke-XI, Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XXI dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-42 di Kecamatan Temon.

"Ini merupakan langkah nyata Bela dan Beli Kulon Progo" Kata Wabup seusai menerima penjelasan dari Ngudi Saryono dan pengurus lainnya.

Sebelumnya Ngudi Saryono menjelaskan bahwa Gapoktan Catur Manunggal meskipun proses pembuatan benih bersertifikasi baru dilakukan mulai tahun 2013, tetapi terus berupaya meningkatkan produksi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan petani setempat.

Pada tahun 2013 pertama produksi, dari 5 ton gabah kering pungut, setelah dilakukan proses produksi dengan menjemur, diblower menghasilkan 3.750 Kg benih padi. Pada tahun 2014 ini meningkat, dari 9 ton gabah kering pungut menjadi 7,5 ton benih padi untuk 1 MT (Musim Tanam).

"Untuk kebutuhan benih padi se-Kecamatan Temon, diperkirakan sekitar 20 ton benih, sedangkan produksi benih kami baru 7,5 ton untuk satu MT, sehingga kami masih perlu meningkatkan produksi" kata Ngudi.

Tetapi usaha tersebut saat ini masih terkendala lantai jemur dan gudang yang belum luas dan belum memadai. Lantai jemur yang luas diperlukan karena setelah panen, padi harus segera dijemur selama dua hari, untuk menjaga kualitas benih.

"Standart BPSP 13 persen maksimal kekeringannya" tambahnya.

Benih padi dari Catur Manunggal sangat digemari petani setempat, karena Label Sertifikasi masih menggunakan label ungu, dan kualitasnya masih mendekati label putih. Sehingga masih bagus sekali. Untuk konsumsi sebenarnya petani cukup menanam benih label biru, yang kualitasnya dibawah label ungu, tetapi petani setempat lebih memilih ungu.

Dengan membuat benih bersertifikasi sendiri, hasil yang didapat gapoktan juga lebih tinggi. Selain itu perputaran uang tidak lari keluar daerah, tetapi masih di lingkup petani sendiri. (at.MC)