Pemkab Kulon Progo Lindungi Anak dan Ibu Hamil dari Bahaya Rokok

  • 30 Mei 2014 14:21:40
  • 1951 views

Sejak tahun 1987, setiap tanggal 31 Mei, WHO dan mitranya di seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini digemakan di seluruh dunia untuk menyerukan para perokok agar berpuasa merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Selain itu, peringatan ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa. Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia juga menjadi momentum bagi upaya penyadaran masyarakat akan bahayanya produk tembakau dalam bentuk rokok.

Menurut Bambang Haryatno, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, di ruang kerjanya, Jumat (30/5) menjelaskan bahwa Kulon Progo sebenarnya sudah mempunyai Perda yang mengatur tentang kawasan tanpa rokok, yaitu Perda No 5 tahun 2014. Perda ini sebenarnya tidak melarang secara mutlak untuk merokok, tetapi lebih untuk memberikan perlindungan dan hak kepada orang-orang yang tidak merokok terhadap udara yang bersih. Selain itu perda ini juga mengatur orang-orang yang merokok untuk tidak memberikan efek perokok pasif bagi ibu hamil, anak-anak dan orang-orang yang tidak merokok.

"Untuk itu, menurut saya Perda ini seharusnya bisa memberikan kesadaran bagi perokok supaya tidak menjadikan orang lain sebagai perokok pasif dengan mengendalikan kegiatannya dan merokok di tempat-tempat yang telah diperuntukkan untuk merokok. Sehingga mereka juga memberikan hak bagi orang yang tidak merokok untuk memperoleh udara yang bersih," tutur Bambang.

Bagi keluarga yang memiliki perokok namun terdapat ibu hamil dan anak kecil, diharapkan para perokok mau menyediakan tempat untuk merokok di luar rumah, atau paling tidak merokok pada jarak 5 meter dari pintu keluar. Ditambahkan Bambang, Perda kawasan tanpa rokok ini juga diikuti beberapa desa dengan membuat perdes kawasan tanpa rokok, seperti Desa Jatimulyo, Girimulyo. Hal ini menunjukkan mereka mulai sadar untuk melindungi anak kecil dan ibu hamil dan diberikan haknya akan udara bersih dan sehat bebas dari asap rokok.

Kepada para penjual rokok, Bambang menghimbau untuk tidak menjual kepada anak-anak sekolah dan bagi produsen rokok untuk tidak memasang iklannya dengan mencantumkan gambar perokok.

Bambang berharap kepada perokok supaya bisa memahami bahwa dengan merokok bisa menyebabkan beberapa penyakit seperti jantung, paru-paru, dan kanker kemudian juga sadar bahwa orang-orang yang bukan perokok di sekitarnya mempunyai hak untuk memperoleh udara bersih dan sehat.

Sementara itu, dr. Lies Indriyati menjelaskan bahwa RSUD akan menggerakkan kembali pelaksanaan kawasan bebas rokok dengan mengkampanyekan kawasan tanpa rokok di RSUD Wates, di awal Juni nanti. Meski begitu dirinya mengakui di RSUD saat ini belum ada klinik berhenti merokok, seperti yang ada di beberapa Puskesmas. Menurutnya hal ini disebabkan karena RSUD Wates menghadapi kendala keterbatasan ruang.

Namun dirinya menekankan bahwa klinik berhenti merokok bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi tetap akan disediakan di masa mendatang. Namun untuk menuju ke arah itu RSUD memulai dari kawasan tanpa rokok di bulan Juni ini kemudian berlanjut ke arah edukasi masyarakat terutama yang berkunjung di RS tentang bahaya merokok dan akibat-akibat dari merokok.

"Tidak adanya klinik berhenti merokok tidak berarti RSUD tidak menerima pasien yang ingin berkonsultasi berhenti merokok, namun RSUD tetap menerima dan diarahkan ke poliklinik penyakit dalam bersama-sama pasien yang lain," tegas Lies.***