Kesadaran Lingkungan Harus Jadi Nilai Masyarakat

  • 28 Maret 2014 14:33:46
  • 1485 views

Kegagalan Kulon Progo meraih Adipura pada tahun 2012 dan 2013 lalu perlu menjadi pelajaran. Bupati Kulon Progo, dr. Hasto Wardoyo mengakui bahwa ketika melihat rincian penilaian dari Tim Penilai Adipura tahun lalu ternyata masih banyak yang perlu diperbaiki dalam mewujudkan lingkungan yang indah, bersih dan nyaman.

"Bagi saya targetnya bukanlah mendapatkan Adipura, tetapi kita ingin kembali ke substansinya, yaitu untuk memperoleh kebaikan, keindahan, dan kebersihan. Ini merupakan nilai atau value yang harus kita capai, nilai ini bukan di Adipura," tutur dr. Hasto usai rapat koordinasi dan pengarahan terkait kebersihan Kota Wates, di Rumah Dinas Bupati, Jumat (28/3).

Bupati menegaskan bahwa keinginan Pemkab adalah mendapatkan manfaat dari nilai publik terkait kerapian, kebersihan, dan keindahan, bukan Adipuranya. Menurut Bupati, public value atau nilai publik adalah teori tentang manfaat yang sudah bisa diimplementasikan. Misalnya dalam hal keindahan, kebersihan, dan kenyamanan lingkungan, jika ini bisa diimplementasikan/diwujudkan maka namanya adalah manfaat. Dengan demikian pekerjaan ini adalah untuk kebaikan, bukan sekedar meraih Adipura saja, sehingga perlu penyempurnakan ikhtiar, meluruskan niat kemudian bertawakal terhadap hasilnya.

"Goal dari upaya kita ini adalah mendapatkan nilai manfaat yang diturunkan dari nilai publik. Dengan kata lain nilai publik ini diamalkan sehingga memberikan manfaat yang dinamakan nilai manfaat. Nilai manfaat inilah yang menjadi nilai puncak tujuan kita," tambah Bupati.

Karena masalah kebersihan adalah masalah kultur/budaya, maka saat ini Pemkab mendorong agar sekolah-sekolah di Kulon Progo melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungannya. Yang perlu diingat adalah makna membersihkan lingkungan sekolah ini bukan sekedar membuat sekolah jadi bersih, tetapi lebih dari itu adalah memberi pembelajaran kepada siswa. Jika siswa di sekolah dibiasakan melakukan hidup bersih, maka dia akan membawa kebiasaan itu ke rumah dan lambat laun akan menjadi budaya bersih.

Hal tersebut disebabkan karena lingkungan sekolah akan memberikan pengaruh di rumah. Perlu diingat bahwa membuat lingkungan sekolah yang bersih tidak hanya sekedar kepentingan meraih Adipura, tetapi yang nomor satu adalah membuat dan memberikan mental model yang baik mengenai kebersihan kepada siswa, selain juga muatan gotong royong. Untuk itu dalam hal pengolahan sampah pun siswa dan juga masyarakat perlu tahu cara yang baik karena hal ini akan memberikan retensi ingatan di benaknya.

Terkait Adipura, Pemkab perlu mengambil langkah yang strategis untuk memberikan hasil yang terbaik, karena waktu penilaiannya sudah semakin dekat dan anggaran yang ada terbatas. Oleh karena itu langkah yang diambil diutamakan untuk meningkatkan nilai di bidang yang masih tertinggal, yaitu pengolahan sampah dan kurangnya pohon peneduh.

Langkah yang paling murah dan bisa dilakukan sekarang yaitu intervensi pada kebersihan dan pengelolaan sampah, hal ini bisa dilakukan tanpa harus menunggu APBD. Sedang untuk penanaman pohon peneduh Pemkab masih mencatatnya kebutuhannya dan menganggarkannya di anggaran perubahan. Gotong royong dan sponsorship bisa dilaksanakan untuk mendukung kegiatan tersebut.

Menyadari masalah sampah adalah masalah budaya masyarakat, maka Pemkab akan membuat sistem yang sedikit memaksakan untuk kepentingan bersama.

"Maka kita agak memaksakan, contohnya untuk pasar, kita buat sistem yaitu bak sampah harus terpilah. Di rumah-rumah juga perlu diberi bak sampah terpilah, ini kan sebenarnya memaksakan. Artinya seolah-olah diajak untuk memasukkan sampah di tempat itu. Ini sama halnya kalau dulu masih banyak yang memasukkan sampah di bak kuning, kemudian kita hilangkan, ternyata hal ini ternyata bisa merubah kebiasaan masyarakat, artinya membuat sistem yang dipaksakan itu bisa merubah budaya," kata Bupati.

Presentasi yang dipaparkan oleh Harjoko saat itu juga merupakan tindakan untuk mengingatkan instansi dan sekolah, sekaligus treatment teguran bagi yang tidak berkomitmen terhadap kebersihan lingkungan. Diharapkan setelah teguran ini akan ada tindakan sehingga dalam rapat koordinasi kedepan  bisa dievaluasi dan dipresentasikan lagi.

Bupati berharap para pegawai di lingkup perkantoran pemerintah diharapkan punya mental habit yang baik dalam pengolahan sampah, sehingga dengan mental habit yang baik ini akan mendukung kebersihan kota. 

Menurut Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kulon Progo, Ir. Harjoko MT, secara umum masalah sampah terkait masalah kultur, sehingga menjadi hambatan dalam menerapkan pengolahan sampah yang baik. Kultur pemilahan (sampah) dari sumber yaitu rumah tangga masih belum berjalan. Rumah tangga pada umumnya membuang sampah secara campur, tidak dipilah. Sementara dari sisi lingkungan hidup, sebaiknya sampah dipilah dari sumbernya. 

Sampah di pasar  juga memberi masalah sendiri. Sebenarnya pasar memiliki otoritas untuk manajemen sampah, termasuk proses pemilahannya, namun sampai saat ini belum bisa berjalan baik. Harjoko mengakui masalah pengolahan sampah di pasar ini memang sulit.

Sementara untuk masalah pohon peneduh, KLH mencoba mengatasinya dengan bertemu masing-masing sektor untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi, dan berupaya mengatasi masalah itu. 

"Untuk masalah keteduhan, masalahnya adalah jalan kita sudah kehabisan space, sehingga kita mencari inovasi untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan pergola atau taman. Jika masih memiliki space yang cukup, kita tanami," tuturnya.***