Rekayasa Antisipasi Bencana

  • 05 Maret 2014 09:07:48
  • 2206 views

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dibekali akal dan bahkan yang paling komplit diberikan cipta, rasa dan karsa. Sedangkan dalam mengarungi kehidupan ini, manusia dianugerahi juga dengan cobaan dari Tuhan sebagai bentuk hambatan dan tantangan yang harus ditaklukan untuk kehidupan yang lebih baik. Bentuk kasih sayang Tuhan dengan memberikan kedua hal tersebut merupakan ujian atas diciptakan dan diutusnya manusia turun ke muka bumi. Apakah manusia mampu menggunakan akal budinya tersebut untuk mengatasi kesulitan hidup di dunia? Dan apakah manusia akan selalu bersyukur dengan cara memanfaatkan akalnya tersebut? Sampai detik ini pembaca pasti mengetahui dan memahami bahwa banyak hal di dunia ini awalnya berasal dari kesulitan-kesulitan yang mampu dipecahkan manusia dengan kekuatan akal budinya sehingga tercipta berbagai teknologi yang memanjakan umat manusia dengan segala kenyamanan dan kemudahannya dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan manusia. Bahkan sampai terdengar pameo kuno di jaman renaissance yakni " sapere aude " yang bermakna gunakan akal budimu. Dimana manusia diwajibkan berusaha untukmengatasi segala persoalan dan hambatan dalam kehidupannya dengan menggunakan akal pikirannya.


Filosofi dasar di atas merupakan renungan sederhana yang layak kita pikirkan di mana saja saat bangun tidur, di perjalanan, saat bekerja, belajar di sekolah dan di mana saja. Selalu ada jalan keluar dari semua persoalan yang manusia hadapi dengan upaya dan kerja keras, kerja cerdas dalam mencari pemecahannya. Jiwa dalam filosofi dasar tersebut hendaknya menjadi konstruksi pola pikir yang kuat dan tangguhbagi masyarakat/warga negara untuk menghadapi segala kesulitan hidup.


Salah satu hal yang menjadi kesulitan hidup manusia yakni fenomena bencana alam. Bencana alam selayaknya disikapi manusia dengan arif dan bijaksana serta segala daya upaya untuk menghindari maupun menanganinya. Dengan akal budinya manusia harus mampu mengatasi bencana alam baik berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus , tsunami sampai bencana social ekonomi seperti kemiskinan, kebodohan dan krisis eokonomi politik untuk kemaslahatan umat manusia. Manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang aktif bukan sebagai makhkluk yang pasif artinya kita harus mampu mengantisipasi dan mencegah bencana tersebut seawal mungkin bukan menunggu peristiwa bencana terebut menimpa manusia sebagai musibah. Dalam tahap evolusi kemampuan dan pemikiran manusia untuk mempelajari dan mengetahui semua hal termasuk fenomena bencana alam akan muncul optimism untuk mengatasinya dan mencegahnya. Ya, manusia harus berpikir optimis dalam mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya karena manusia dalam sebuah proses "apotheosis" yang berarti manusia beruaya dalam tahapan pencapaian menjadi bagian dari Tuhan.


Banyak hal bisa dilakukan mulai dari rekayasa teknis terkait peristiwa bencana yang akan terjadi, menggunakan hasil-hasil penelitian dari para akademisi dari berbagai perguruan tinggi, penyiapan jalur evakuasi, penyediaan logistic dan tempat pengungsian yang layak, pengalihan jalur transportasi. Sadar atau tidak Indonesia berada jalur bencana yang kompleks. Tidak ada manfaatnya ketika berbagai perguruan tinggi didirikan untuk mengahsilkan ilmuwan ahli bencana,ribuan riset mengenai bencana dilakukan, milyaran rupiah anggaran negara digelontorkan namun kejadian bencana tiap tahun masih terulang kembali. Jutaan manusia tetap menjadi korban bencana tanpa ada praktek nyata untuk mengantisipasi bencana tersebut.
Dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana tidak bisa disolusikan dengan 1 atau 2 bidang keilmuan saja,namun harus dipecahkan dengan berbagai disilin ilmu yang saling bersinergi dan melengkapi. Konteks suatu kebencanaan mencakup ilmu kebumian,hidrologi,geografi, ekologi, fisika, geodesi,matematika, social, ekonomi, hukum, dan bahkan hampir semua displin ilmu termasuk ilmu budaya. Keterpaduan berbagai disiplin ilmu tersebut bukan untuk saling mengungguli satu sama lain dan bahkan merasa paling unggul. Penangangan bencana juga selayaknya ditangani dari hulu hingga ke hilir sehingga permasalahan yang menyangkut warga Negara akan terselasaikan hingga tuntas. Kiranya Indonesia akan menjadi Negara kuat dan maju dengan terlibatnya berbagai macama kajian dan penelitian terkait bencana mulai dari antisipasi/ pencegahan bencana sampai detail teknis penggulangan dan manajemen bencana.


Dengan menggunakan pisau analisis dari berbagai disiplin ilmu tersebut manusia ditantang untuk selalu berpacu dengan bencana, sehingga memaksa manusia untuk mengantisipasi sebelum suatu bencana benar-benar terjadi. Bila saat ini banyak sekali musibah dan bencana yang datang tiba-tiba tanpa dapat diduga sebelumnya maka manusia harus berpikir keras dan cerdas guna menemukan solusi yang tepat dan akurat terhadap prediksi suatu bencana yang akan terjadi, sehingga manusia dapat mempersiapkannya terlebih dahulu. Dalam praktek ilmu antisipasi bencana tersebut tentu banyak menggunakan berbagai ilmu-ilmu teknis sesuai tingkat kecerdasan manusia untuk menemukan cara yang tepat dalam mengetahui suatu bencana akan terjadi. Jutaan nyawa manusia akan terselamatkan bila manusia bisa berpacu dengan bencana. Salah satu contoh yang mutakhir adalah kejadian bencana meletusnya Gunung Sinabung dan Gunung Kelud yang berakibat kerugian materil dan non materil yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut dapat dicegah bila Indonesia sudah mampu menemukan alat teknis untuk memprediksi dan mencari solusi yang tepat agar kedua gunung tersebut tidak meletus. Sedangkan contoh yang paling ekstrim adalah banjir tahunan di ibukota Negara Indonesia. Bahwa pemerintah dan masyarakat hendaknya sadar dan secepatnya mencari solusi akurat untuk menanggulangi banjir yang kian akut tersebut. Dengan dibuatnya waduk di Kota Depok dan sodetan sungai ke Cisadane di Tangerang merupakan salah satu reaksi yang nyata terhadap bahaya banjir di Ibukota Jakarta. Maka bagi suatu daerah yang masih aman dan nyaman untuk ditinggali harus selalu siap dan belajar untuk tanggap antisipatif terhadap potensi bencana yang sewaktu-waktu muncul.
-----------------------------------------SAPERE AUDE------------------------------------