Kelompok Tani Rejo Mulyo Raih Penghargaan Nasional

  • 06 Desember 2013 14:43:24
  • 2490 views

Kelompok Tani Rejo Mulyo dari Wijimulyo, Nanggulan berhasil meraih penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) tingkat nasional tahun 2013 dalam peringatan Hari Pangan Sedunia, Jumat (29/11). Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Presiden RI, Boediono dan diterima oleh Ketua II Klomtan Rejo Mulyo, Jemingin di Istana Wakil Presiden. 

Penghargaan ini diberikan dalam rangka memberikan pengakuan dan apresiasi kepada masyarakat dan aparatur pemerintahan atas upaya dan menghasilkan karya yang luar biasa dalam mewujudkan ketahanan pangan. Penghargaan yang berhasil diraih Klomtan Rejo Mulyo adalah APN dalam kategori pelaku pembangunan ketahanan pangan.

Tujuan pemberian penghargaan APN adalah untuk menumbuhkan dan mendorong semangat, kreativitas serta partisipasi masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, danketahanan pangan serta memberikan motivasi kepada aparatur pemerintah untuk memacu daerah dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, dan ketahanan pangan di daerah.

Penghargaan APN 2013 akan diberikan kepada 100 penerima yang dibagi dalam 5 kategori yaitu Pelopor Ketahanan Pangan, Pemangku Ketahanan Pangan, Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan, Pelayanan Ketahanan Pangan dan Pembina Ketahanan Pangan.

Untuk memperoleh calon penerima penghargaan APN dilakukan penjaringan dan penyeleksian terhadap prestasi stakeholder pembangunan ketahanan pangan yang dilaksanakan secara ketat sesuai dengan yang diatur dalam Pedoman Umum dan Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Penghargaan APN Tahun 2013 . 

Dalam pengarahannya, Wakil Presiden menghendaki agar kedaulatan pangan ada di petani, jangan sampai petani tidak mau berproduksi , apalagi impor bahan pangan, dan dengan adanya UU Perlindungan Petani No 19 tahun 2013 yang telah disahkan DPR RI diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan petani.

Sebelumnya, (28/11) Klomtan Rejo Mulyo juga menerima Piagam Penghargaan karena telah berhasil meraih peringkat I lomba evaluasi kelompok PTT Kedelai tahun 2013. Penghargaan diterima di Kementerian Pertanian, Jakarta oleh Jemingin dan diberikan langsung oleh Menteri Pertanian, Suswono. Penilaian dilakukan melalui evaluasi selama 5 tahun kinerja kelompok tani ini.

Menurut salah satu anggota klomtan Rejo Mulyo, kelompok yang beranggotakan 93 orang ini telah menerapkan teknologi pertanian, sehingga hasil dari pengolahan lahan seluas 30,9 hektas selalu meningkat baik untuk tanaman padi maupun kedelai. Evaluasi dilakukan pada bulan Agustus lalu yang dihadiri oleh tim verifikasi yang diketuai oleh Ir Rahayu Dwikorawati, dan anggota Indra Rochmadi, Ricky Ruhimat dan Delly Kurniawan. Verifikasi ini dilakukan untuk mengecek nilai yang telah diberikan tim verifikasi provinsi bulan Mei lalu.

Sejak berdiri tahun 1996, Klomtan Rejo Mulyo telah banyak meraih prestasi, misalnya juara I lomba intensifikasi padi tahun 2008, juara I lomba intensifikasi padi tingkat propinsi tahun 2009, juara I lomba intensifikasi kedelai tingkat kabupaten tahun 2013 dan juara I lomba intensifikasi kedelai tingkat propinsi tahun 2013, juara I Intensifikasi kedelai tingkat Nasional, dan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara tahun 2013 Katagori Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan.

Namun begitu, Klomtan ini sempat mengalami kebekuan kegiatan sekitar tahun 2005 sehingga anggotanya tinggal 7 orang. Namun setelah perbaikan manajemen oleh pengurus baru, kelompok tani ini dapat bergerak lagi hingga mendapatkan banyak prestasi. Bahkan Kelompok Tani Rejo Mulyo pada tahun 2013 sudah mulai jadi Penangkar Kedelai maupun padi untuk mencukupi kebutuhan bibit khususnya Wilayah Kulon Progo utara dan diharapkan mampu berkipah lebih di wilayah Kulon Progo. Diharapkan kelompok ini dapat menjadi contoh bagi kelompok tani yang lain untuk belajar berprestasi di kemudian hari 

Kepada para petani kedelai, Mentan Suswono meminta jangan putus asa, tetapi tetap semangat untuk berproduksi dan mengembangkan inovasi produk kedelai yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Suswono menyarankan supaya hasil produksi tidak langsung dijual, namun diproses dulu agar mendapat kedelai yang bermutu sesuai standar pemerintah dan mempunyai nilai tambah.***