Lemsaneg Sosialisasikan Museum Sandi

  • 26 November 2013 14:51:08
  • 2479 views

Dalam rangka memperkenalkan dan mendalami penelusuran sejarah persandian dunia pada umumnya dan sejarah persandian Indonesia pada khususnya, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) menyelenggarakan Sosialisasi dan Pameran Museum Sandi di Hotel King, Wates (26/11). Acara tersebut dibuka oleh Asisten Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Riyadi Sunarto, mewakili Bupati Kulon Progo dan Deputi Bidang Pengamanan Persandian, Syahrul Mubarak, SIP, MM.

Sosialisasi tersebut digelar selama 3 hari berturut-turut dan mengambil tema "Persandian dari Masa ke Masa" dengan visi Menjadi Media Sosialisasi dan Pembelajaran Persandian bagi Generasi Muda. Dalam acara tersebut Lemsaneg mengundang 150 peserta dari kalangan guru, dan Pemkab Kulon Progo.

Saat membacakan sambutan Bupati, Riyadi Sunarto menceritakan sejarah persandian di Indonesia yang tidak bisa terlepas dari keberadaan Bumi Menoreh Kulon Progo, dimana pada masa Agresi Militer II yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948, Pihak Belanda mendahulukan serangan atas sasaran komunikasi dalam pendudukannya di Yogyakarta sehingga para CDO (Code Officer) menghancurkan seluruh dokumen termasuk arsip-arsip

sejak Bagian Code berdiri 4 April 1946 agar tidak sampai jatuh ke tangan Belanda sebelum meninggalkan tempat tugasnya. Beberapa orang CDO pindah ke sebuah desa kecil di tepi barat Kali Progo di kaki Pegunungan Menoreh yang bernama Dekso dan berusaha untuk bergabung dengan salah satu kesatuan yang mempunyai hubungan kode, setidaknya pemancar radio (PHB). Tidak jauh dari Dekso, di Banaran (saat ini termasuk Pedukuhan Kaliwunglon) Banjarsari Samigaluh, terdapat markas sementara Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Selama di Dekso, Letnan II Soemarkidjo dan Letnan Md. Soedijatmo membentuk Bagian Code yang berkedudukan dibawah PHB Angkatan Perang dipimpin oleh Mayor Dartodjo. Pengiriman salinan kawat dilakukan menggunakan jasa kurir dari Dukuh ke Banaran.

Dekso, Dukuh, dan Banaran tentu sangat melekat erat di hati dan sanubari para sandiman. Peran sandiman pejuang sunyi sejati dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia teruji dan terbukti di sini. Namun, sangat sedikit masyarakat Kulon Progo khususnya para pelajar penerus bangsa yang mengetahuinya, sebuah ironi yang tak mungkin di sangkal.

"Untuk itulah, saya sangat menyambut baik momentum hari ini. Semoga dapat menggugah anak-anak muda, pelajar khususnya untuk tahu sejarah negerinya, tahu jasa pahlawannya, sehingga mau menghargai perjuangannya dengan mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya," kata Didik, panggilan akrab Riyadi Sunarto.

Dalam sosialisasi itu, Syahrul memaparkan tentang sejarah persandian, visi dan misi Lemsaneg, peran Lemsaneg dalam upaya pengamanan informasi berklasifikasi di instansi pemerintah, dan pembinaan SDM persandian.

Menurut Syahrul, Lemsaneg juga ikut serta dalam mengawal program nasional penerapan KTP elektronik yang menjadi prioritas. Aspek keamanan informasi yang diharapkan dalam E-KTP adalah terjaminnya ketunggalan data, keutuhan dan otentikasi data kependudukan melalui penerapan teknik-teknik pengamanan yang meliputi pengamanan fisik maupun logik (enkripsi, autentifikasi, dan tanda tangan digital). Selain itu, Lemsaneg juga berperan dalam sistem pengadaan secara elektronik yang digunakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Peran itu adalah menyediakan layanan aplikasi pengamanan komunikasi dokumen dan pengelolaan sertifikat digital pada LPSE Nasional secara optimal serta menjamin kerahasiaan informasi, otentikasi, dan integritas data informasi melalui rekayasa perangkat lunak aplikasi pengamanan dokumen dan pengelolaan sertifikat digital pada LPSE Nasional.

Arif Prastowo, Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan juga memberikan paparan mengenai peran generasi muda dalam membangun bangsa menjelaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki segi positif dan negatif. Segi positifnya antara lain pemuda saat ini lebih aktif dan dinamis dalam berbagai kegiatan dan berperan dalam lingkungannya, menguasai teknologi dan lebih pintar. Namun sisi negatifnya adalah generasi muda saat ini lebih mudah terpengaruh, tidak tahan uji, mudah menyerah dan ingin serba gampang dan cepat. Untuk itu, Arif mengharapkan agar generasi muda mempunyai karakter yang baik dan berwawasan kebangsaan. Apalagi generasi muda merupakan pewaris sejarah sehingga harus mengetahui sejarah bangsanya sekaligus menjadi pembangun sejarah di masa mendatang. Tidak salah jika sosialisasi ini mengambil moto "Berbagi sejarah untuk menciptakan sejarah".

Sosialisasi juga diisi dengan kegiatan persembahan seni dan kreasi siswa, games sandi dan door prize dari Museum Persandian RI. Sekitar 27 sekolah turut diundang dalam acara tersebut, terdiri dari SMA/SMK dan SMP di Kulon Progo.

Museum Sandi terletak di Jl. Faridan M Noto 21, Kotabaru, Yogyakarta dekat dengan Stadion Kridosono. Sebelumnya Museum Sandi masih jadi satu dengan Museum Perjuangan, Jl. Kol Sugiyono, Yogyakarta.***