Gubernur DIY Meletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Sakit Daerah di Sentolo

  • 27 Agustus 2013 12:18:55
  • 2588 views

 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwana X mengatakan sesuai keputusan Gubernur masalah pelayanan kesehatan di DIY dilakukan berjenjang, hal ini karena Depkes telah menentukan RSUP Sardjito sebagai rumah sakit spesialis, jadi tidak bisa lagi menampung warga masyarakat tanpa ada proses rujukan terlebih dahulu dari rumah sakit yang ada di kabupaten/kota, dulu pasien dari Puskesmas bisa dilangsungkan ke Sardjito, sekarang tidak bisa. Dari Puskesmas sekarang harus ke Rumah Sakit Daerah terlebih dahulu, kalau berdasarkan rujukan dan rekomendasi rumah sakit daerah, baru Sardjito bisa menerima.

Hal tersebut dikatakan Gubernur dalam peletakan batu pertama Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kelas D di desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Selasa (27/8).  Turut hadir Wakil Gubernur Paku Alam IX, Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), beserta istri dr.Hj.Dwikisworo Setyowireni,Sp.A(K), Wabup Drs.H.Sutedjo, Ketua DPRD H.Ponimin Budi Hartono,SE dan Forkorpimda serta beberapa pimpinan SKPD.

"Untuk melaksanakan itu, di RSUP Sardjito adanya tim consultan atau asistensi yang anggotanya dokter-dokter spesialis, bisa membantu kabupaten/kota bahwa pasien perlu dirujuk atau tidak. Sehingga untuk memudahkan jangan sampai pendapatnya dokter di rumah sakit kabupaten/kota harus dirujuk ternyata di Sardjito ditolak, jadi pasien bolak balik di ambulance. Daripada proses seperti itu lebih baik rumah sakit setempat bisa berkoordinasi lebih dulu dengan tim asistensi yang ada pasien perlu dirujuk atau tidak, karena sesama dokter spesialis semestinya bisa membangun komunikasi yang baik perlu tidaknya dirujuk"kata Sultan.

Dengan kondisi seperti ini menurut Sultan, memang bagi Pemda tidak ada pilihan kecuali masing-masing kabupaten/kota mau tidak mau mampu maupun tidak mampu harus membangun kamar tambahan di rumah sakit type C atau type B di daerah karena tidak akan menumpuk di Sardjito, tetapi akan menumpuk di pemda. Sehingga khususnya bagi kelas 3, apalagi dengan sistem jaminan sosial yang dikembangkan bersama akan menumpuk di kabupaten/kota, tanpa penambahan kamar di rumah sakit daerah baik type C maupun type B, maka akan kewalahan untuk menampung.

"Pembangunan awal kalau hanya 100 kamar pasti kurang, karena akan melayani warga Kulon Progo di Utara dan Timur yang lebih dari 100 ribu orang. Saya hanya mohon  kepada Bupati, Kadinas Kesehatan Kabupaten koordinasi dengan Pemda DIY, untuk merumuskan bersama, tanggung jawab Pemda DIY untuk membangun kebersamaan dengan kabupaten /kota bagaimana dengan sistem jaminan sosial yang ada, selama ini harus membangun kamar jumlahnya berapa," jelas Sultan.

Raja Yogyakarta ini mencontohkan jenis penyakit apa yang cukup dirujuk di Puskesmas, penderita TBC yang hanya rawat jalan di Puskesmas sudah cukup kenapa harus datang ke rumah sakit type C atau type B,  Kalau Demam Berdarah (DB) cukup tidak di Puskesmas, ada alatnya tidak kalau cukup berarti Puskesmas harus ada kamar untuk inap, berarti Puskesmas harus dikembangkan untuk tidak hanya tempat pemeriksaan tetapi juga punya kamar inap. Itu yang dimaksud rujukan sehingga pelayanan jauh lebih bagus.

"Pasien karena sakit jangan disuruh nunggu untuk masuk nunggu ke kamar inap, kalau di hotel penuh bisa cari lain tetapi kalau rumah sakit kan tidak mungkin, sehingga pelayanan jangan sampai terganggu",katanya.

Sultan juga berpesan jangan sampai pasien tidak dilayani karena tidak ada kamar kosong. Kabupaten /kota bisa membuat blue print perluasan rawat inap, apa yang bisa di bantu oleh pemda DIY di dalam sharring harus ada kepastian serta tahapannya jelas. Sehingga dalam tahap awal ini Pemda DIY dapat berpartisipasi dalam pembangunan RSUD di Sentolo karena 100 kamar tidak akan mampu menampung jumlah warga masyarakat di Kulon Progo, semoga yang dilakukan di Kulon Progo bisa juga dimulai di Kabupaten/Kota,  semoga pembangunan cepat selesai dan membawa manfaat bagi pelayanan kesehatan masyarakat Kulon Progo.

 

         Sementara Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) mengatakan bahwa Kelas RSUD Wates saat ini adalah Kelas B. Situasi Pelayanan Kesehatan rawat inap di Rumah Sakit tersebut cukup berat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan rawat inap masyarakat yang mengakibatkan jeda waktu pemakaian ruang rawat inap sangat pendek (TOI=0,91 hari), sehingga dikuatirkan mutu pelayanan kesehatan menjadi berkurang. Apabila dicermati kasus-kasus penyakit yang dirawat di RSUD Wates tersebut sebenarnya dapat dilakukan perawatan pada Rumah sakit kelas di bawahnya (Kelas D maupun C). Dengan pembangunan RSUD Kelas D di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo ini diharapkan rujukan berjenjang dapat terlaksana dengan baik.

                "Area Pelayanan RSUD Kelas D di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo ini akan mampu mempermudah akses pelayanan  masyarakat akan kebutuhan rawat inap dari wilayah Kecamatan Sentolo, Lendah,  Nanggulan, Girimulyo dan sebagian Kalibawang, dengan jumlah penduduk dilayani lebih dari 187.000 penduduk,"kata dr.Hasto

                Ditambahkan Hasto, pembangunan Rumah Sakit Kelas D di Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo ini direncanakan akan dapat diselesaikan secara bertahap, Insya Allah tahun 2016 dan menghabiskan dana sekitar Rp. 30 Milyard.

                Pada tahun 2013 Kabupaten Kulon Progo baru dapat mengalokasikan dana sebesar Rp. 6,4 Milyard untuk itu  dibangun terlebih dahulu unit-unit pelayanan yang memang mendesak diperlukan oleh masyarakat yaitu ; Unit Gawat Darurat dan Ruang Rawat Inap sebanyak 25 tempat tidur didukung oleh unit pendukungnya seperti Ruang Administrasi dan Manajemen, Pelayanan Obat, Laboratorium (masih terbatas) dan pelayanan rumah tangga  seperti Dapur dan Linen. Dengan demikian tahun 2014 direncanakan telah dapat beroperasi karena pembangunan fisik gedung, peralatan, penataan SDM serta organisasi kelembagaan akan dapat diselesaikan pada tahun 2013 ini. Kemudian untuk pembangunan Gedung tahap II tahun 2014  baru mampu menganggarkan sebesar Rp. 3 Milyard.

                "Selain membangun rumah sakit type D, di dekat bangunan yang bersebelahan juga telah berlangsung pembangunan Autis Center DIY-Jateng yang nantinya satu pelayanan dengan rumah sakit, sehingga Autis Center akan berkembang karena membutuhkan banyak layanan unit tumbuh kembang dan unit layanan spesialis anak-anak,"kata Hasto yang juga minta kepada Sultan untuk memberikan nama rumah sakit daerah pada kesempatan lain. (MC)