Potensi Sentolo Luar BIasa, Perlu Dimaksimalkan

  • 28 Juni 2013 14:29:35
  • 3757 views

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten di DIY yang mempunyai potensi kekayaan alam sangat melimpah dan belum sepenuhnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu pengembangan kawasan ekonomi khusus, bandara internasional, penambangan pasir besi dan dermaga menjadi salah satu program kabupaten Kulon Progo untuk mengentaskan kemiskinan. Disamping itu produk-produk potensi unggulan Pulonprogo terus digalakkan dan ditingkatkan. Demikian diungkapkan Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo saat meluncurkan Pasar Seni Tugu Binangun, Sentolo sekaligus mengukuhkan pengurus Koperasi Tugu Binangun, di Sentolo Jum'at (28/6). Acara dihadiri oleh beberapa pimpinan SKPD, Kades Sentolo, Pembina Pusat Kewirausahaan UNY, Dekranas, dan Muspika.

Hasto juga menyampaikan hal yang sangat sering dinyatakanya bahwa megaproyek itu adalah ibarat ayam yang dinanti-nantikan, sedangkan kerajinan atau industri kecil lain adalah telur yang sudah ada saat ini.

"Oleh karena itu saya sampaikan bahwa anda jangan terus menerus berangan-angan ayam besok pagi, tetapi telur hari ini nikmatilah. Sehingga telur hari ini sebenarnya lebih baik dari ayam besok pagi. Sehingga kita tidak hanya berangan-angan besok akan dapat ayam, tapi kalau hari ini sudah ada telur jangan abaikan telur itu," pesan Hasto.

Hasto menekankan agar sumber daya alam yang ada di Kulon Progo dimaksimalkan, apa saja yang ada harus lebih diberdayakan. Gerakan Bela dan Beli Kulon Progo adalah suatu kendaraan untuk membawa potensi-potensi yang ada agar bisa dipublish.

Terkait Pasar Seni Sentolo ini, hasto menyebutkan bahwa potensi Sentolo sebenarnya luar biasa, yaitu jarak dengan pusat kota Yogya bisa ditempuh hanya 25 menit, kemungkinan kecil terkena bencana gempa bumi atau lahar Merapi, di Sentolo memiliki jalan pintas ke Borobudur, dan jika sudah ada bandara, Sentolo menjadi daerah yang akan sering dilewati kendaraan yang akan ke bandara. Dengan kondisi Sentolo seperti itu, Hasto yakin bahwa pasar seni dan kerajinan ini masa depannya akan bagus sekali.

"Kita harus berpikir sistem, bukan berpikir cubluk. Kalau berpikir cubluk itu, kalau di sini ada pasar seni kemudian di sebelahnya membuka kerajinan lain maka kita akan iri dengki. Tetapi kalau kita berpikir sistem, supaya Sentolo ini bisa terkenal sebagai kawasan industri kerajinan seni, maka harus ada pasar seni-pasar seni lain yang banyak, tidak hanya di sini," kata Hasto.

Selanjutnya, di pasar ini harus ada public image yang dibangun, misalnya pasar batik sore, dengan cara begitu akan ada acara yang menarik minat wisatawan. Cara lain untuk memikat wisatawan antara lain dengan diadakan kesenian tradisional, atau menjajakan kerajinan khas dari daerah lain. Hasto menyatakan bahwa dirinya tidak alergi dengan produk luar Kulon Progo asal bukan produk asing luar Indonesia. Menurutnya pasar Sentolo adalah pasar percontohan, sehingga tidak boleh ada barang impor, oleh karena itu dirinya berharap agar pasar seni ini bisa berkembang tanpa ada produk impor yang dijajakan.

Sementara itu menurut Camat Sentolo, Aspiyah, di tahun 80an kios seni ini sudah dirintis namun perkembangannya belum begitu pesat. Tahun 2008 terbentuk koperasi Tugu Binangun dan mulai diramaikan untuk pusat kerajinan bagi wisatawan, namun belum memuaskan hasilnya. Saat ini Koperasi Tugu Binangun bisa mengampu 500 pengrajin, harapannya ke depan pasar seni ini bisa berkembang lebih baik lagi, apalagi pemkab sudah memfasilitasi dengan membangun 7 kios, diiringi dengan swadaya oleh pengrajin dengan membangun 9 kios, sehingga total semuanya ada 24 unit, termasuk 1 unit mushola dan informasi, dan 22 kios penjualan.

Aspiyah menjelaskan bahwa ada 3 jenis usaha dilakukan di pasar ini, yaitu usaha yang menampilkan antara 70-80% adalah kerajinan asli Kulon Progo, kerajinan dari luar Kulon Progo antara 20-30%, dan kuliner. Dalam memasarkan produknya, perajin memiliki motto yaitu 3T (Terbaik, Terlengkap, Termurah). Ke depan, karena di belakang pasar seni masih ada 1700 m2 maka tanah bisa dimanfaatkan lagi untuk perkembangan pasar seni.

"Harapan kami ada penataan kembali kios-kios pemda yang lama, sehingga ketika diserbu wisatawan, mereka bisa masuk dan keliling melihat apa yang ditampilkan. Juga mohon diberi drainase di tempat parkir, karena kalau hujan airnya menggenang. Pasar ini juga perlu lampu penerangan, karena kondisinya gelap sehingga tidak bisa terlihat dengan baik dari jalan, termasuk papan nama yang jelas dan gerbang parkir," kata Aspiyah. ***