Bupati Kulon Progo Kritisi Program Raskin

  • 27 Juni 2013 15:01:52
  • 2031 views

Bupati Kulon Progo dr.H.Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mengajak Kelompok Tani di DIY bersatu padu bersama Pemerintah Daerah untuk merubah sistem Raskin (Beras untuk warga miskin) yang selama ini berjalan.

Sistem yang berjalan saat ini, raskin tidak disuplai dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) setempat, tapi justru import dari luar negeri. "Beras untuk program raskin saat ini tidak dari gapoktan, tapi justru dari Vietnam, India dan lainnya. Padahal kelompok-kelompok tani sebenarnya mampu" kata dr.Hasto pada sambutan penutupan PEDA KTNA (Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan) XIV di Bendungan Wates Kulon Progo, Kamis (27/6).

Jika para pengambil kebijakan dapat merubah sistem ini, sebenarnya sudah melakukan pembelaan terhadap petani. "Kita perlu melakukan pembelaan terhadap petani, karena jika tidak kita bela dengan sistem, petani akan kesulitan membela diri" tambahnya.

Di Kulon Progo saat ini sudah dimulai pembelaan terhadap petani dengan memberikan kesempatan gapoktan mensuplai beras kepada PNS (Pegawai Negeri Sipil), sehingga keuntungan yang selama ini hanya dinikmati tengkulak, sekarang sebagian keuntungannya dapat dinikmati petani melalui gapoktan.

Bupati mengajak kelompok tani di DIY bersatu dan bercita-cita merubah sistem Raskin jadi Rasda (Beras Daerah), dengan pengadaan beras diserahkan kepada gapoktan.

"Anggaran pengadaan raskin di DIY sekitar 3 sampai 4 milyar. Jika pengadaan beras dilakukan gapoktan, maka dapat ikut mensejahterakan petani" katanya. Jika pengadaan dilakukan impor, maka yang mendapatkan keuntungan justru luar negeri.

Dengan pengadaan beras melalui gapoktan, selain ikut menyejahterakan petani, rakyat penerima beras juga lebih senang, karena lebih baru.
"Jika pengadaan beras melalui gapoktan rakyat juga akan senang karena beras yang didapat lebih baru" jelasnya.

Dalam satu tahun Kulon Progo menghasilkan 120 ribu ton. Tiap bulan mendapat jatah Raskin (Beras untuk warga miskin) sebesar 750 ton. Tapi bupati menyatakan ironis karena beras untuk raskin tidak disuplai dari Gapoktan. (MC)