BI Tertarik Bantu Kulon Progo Lagi

  • 28 Februari 2013 16:31:23
  • 2261 views

Kesuksesan bantuan pada KUB Tiwi Manunggal, yang mampu memproduksi gula 15 ton per bulan yang bernilai Rp 215 juta, membuat Bank Indonesia tertarik untuk memberi bantuan yang sama, namun bantuan ini rencananya akan diberikan di Sekendal, desa Hargotirto. Demikian disampaikan Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) saat peresmian gedung pengelolaan gula kelapa dan pengukuhan masyarakat perlindungan indikasi geografis (MPIG) gula semut Kulonprogo, di Hargowilis, Kokap (28/2).
Namun Bupati mengakui bahwa dirinya masih memiliki PR besar dimana di Desa Hargowilis dan Hargotirto mayoritas penderesnya masih termasuk dalam KK miskin. Hal ini menunjukkan bahwa para petani penderes yang ikut membesarkan KUB, pedagang gula, dan eksportir sebenarnya masih berat hidupnya.
"Usaha ini masih meninggalkan pikiran yaitu para penderes sebagai grass root belum terangkat hidupnya menjadi tidak miskin. Ini adalah PR kita," kata Hasto.
Untuk itu Pemkab masih melakukan intervensi terhadap usaha-usaha industri, karena ketika pertumbuhan ekonomi pesat meningkat, akan diikuti kesenjangan antara yang kaya dan miskin, atau gini ratio juga meningkat.
Bupati berharap supaya usaha seperti KUB Tiwi Manunggal bisa direplikasi dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Dengan kapasitas lima belas ton per bulan dan jika produksi total sebulan adalah 180 ton, maka idealnya ada 8 KUB seperti ini, karena sisanya dikelola oleh koperasi atau kelompok lain. Replikasi juga bisa berupa usaha yang mirip namun bidangnya lain, seperti pengolahan kopra, cengkeh, atau cabe.
Menurut Ir. Bambang Tri Budi Harsono, Kadinas Pertanian dan Kehutanan, Kulonprogo mempunyai komoditas unggulan perkebunan, salah satunya adalah kelapa. Dengan demikian diharapkan produk kelapa beserta turunannya bisa memberikan nilai tambah atau meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. Berbagai program telah diluncurkan termasuk dukungan pasca panen pengolahan dan pemasaran hasil.
"Konsentrasi kita adalah bagaimana bisa memenuhi tuntutan pasar bahwa produk ini harus ada sertifikasi organik ataupun sertifikasi indikasi geografis yang menjadi ikon produk dari daerah. Program tersebut akan kita monitor dan evaluasi sampai sejauh mana perkembangannya apakah bisa meningkatkan pendapatan atau jam kerja dari masyarakat, sehingga harapannya bisa berdampak pada penurunan KK miskin di Kulonprogo. Sedang untuk audit keuangan nanti ada petugas Dinas Pertanian akan mengawal dan membimbing sehingga bisa sesuai dengan tata kelola keuangan yang benar," tutur Bambang.
Terkait replikasi usaha sejenis, Bambang menjelaskan bahwa dari potensi Pertanian di Kulonprogo usaha seperti itu bisa dilakukan karena luas tanam kelapa ada 17 ribu hektar dengan produksi kelapa hampir 35 ribu ton per tahun. "Sehingga ketika dibentuk replika yang baru maka saya kira potensi produksi kelapa masih memungkinkan, di sisi yang lain kita tetap ada upaya peningkatan produktifitas dan produksi kelapa itu sendiri melalui kegiatan intensifikasi, peremajaan yang setiap tahun kita lakukan. Sedangkan replikasi untuk tanaman yang lain, bisa diwujudkan di tanaman cengkeh, cabe, atau komoditas biofarmaka. Yang jelas harus menyerap tenaga kerja sehingga bisa meningkatkan jam kerja masyarakat, sehingga otomatis pendapatannya meningkat yang berarti juga akan menurunkan tingkat kemiskinan di Kulonprogo," jelasnya.
Menurut Direktur Pengolahan Hasil Pertanian, Departemen Pertanian, Anjar Rohani, total bantuan sosial untuk Kabupaten Kulonprogo tahun 2012 hampir senilai Rp 1,3 milyar, yang diberikan antara lain kepada KUB Tiwi Manunggal, juga pada komoditi tanaman pangan, holtikultura, dan peternakan. Kemudian juga pada tahun ini (2013) diberikan bantuan lagi untuk gula kelapa di tempat lain. Anjar merasa senang dapat melihat sendiri kesuksesan pemberian bantuan pada KUB Tiwi Manunggal, karena dirinya sering mendengar bahwa bantuan yang diberikan sering tidak dimanfaatkan dengan baik.
Anjar berharap kesuksesan KUB ini bisa menjadi motivasi pada kelompok lain dan juga KUB Tiwi Manunggal untuk bisa mengembangkan lagi sehingga apa yang kita upayakan ini bisa menjadi motivasi pengembangan ekonomi pedesaan atau menjadi embrio dari agrobisnis/agroindustri pedesaan.
Triyono, Ketua KUB Tiwi Manunggal menjelaskan bahwa KUB ini dinamakan Tiwi karena merupakan gabungan dari nama dua desa, yaitu Hargotirto dan Hargowilis, dan manunggal, yang berarti kelompok ini adalah gabungan dari 2 desa yang menyatu. Kelompok ini terbagi dalam 12 dusun di dua desa tersebut.
Pada awalnya kelompok ini terdiri dari 10 pengepul gula kelapa yang berorientasi pada penjualan saja dan hasilnya langsung diterima para pengepul. Seiring peningkatan pasar, banyak pengrajin yang ingin bergabung, sehingga membutuhkan dasar hukum yang kuat atas pendirian kelompok ini, dan pada 24 Oktober 2012 sudah dinotariskan hingga menjadi kelompok yang berbadan hukum. Saat ini kelompok ini memiliki anggota 110 orang yang terdiri dari 10 unit usaha. Pada April 2012 kelompok mendapat bantuan Rp 310 juta dan dimanfaatkan untuk pembangunan gedung produksi, peralatan dan permodalan.
Triyono berharap agar gedung bantuan ini bisa bermanfaat dan bisa meningkatkan taraf hidup atau pendapatan petani penderes dan anggota kelompok. Dimana 110 anggota adalah petani penderes.
Mengatasi kebiasan para petani menjual ke pengepul, Triyono berusaha merekrut para pengepul supaya mereka bergabung dengan KUB. "Jadi kita tidak bersaing tetapi malah merangkul mereka. Jadi petani penderes bisa memilih menjual di tengkulak, dan dari tengkulak ini kita tampung, dengan kenaikan harga, sehingga tengkulak juga menaikkan harga beli dari petani," katanya.
Dalam pengembangan usaha, Triyono akan lebih fokus ke penjualan retail, karena nilai tambahnya lebih tinggi dan penyerapan tenaga kerja lebih banyak. Saat ini sebagian hasil sudah diekspor melalui eksportir, dengan tujuan Amerika, Jerman dan Norwegia. Sedangkan untuk higienitas dirinya lebih terfokus pada unit pemrosesan, termasuk pengembangan pada ventilasi dan penambahan cerobong asap.***