Cegah Abrasi Pantai Tanam Bibit Mangrove 25.000 Batang

  • 07 Februari 2013 13:57:36
  • 3007 views

 

Untuk mencegah abrasi pantai khususnya di wilayah pedukuhan Pasir Kadilangu Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo dilakukan upaya pencegahan lebih awal berupa penanaman bibit Mangrore sejumlah 25.000 batang.

Pelaksanaan penanaman dalam rangka program Aksi Rehabilitasi Pantai dilakukan oleh Wakil Bupati Kulonprogo Drs.H.Sutedjo, Dandim 0731 Kulonprogo Letkol Inf Tommy Siagian, serta beberapa pimpinan SKPD,  dan Kelompok Kerja (Pokja) Mangrove Kabupaten Kulonprogo bahkan puluhan siswa SD dan SMK Kelautan Temon di kompleks budidaya udang Pasir Kadilangu,Kamis (7/2).

Menurut Ketua Pokja Mangrove Kabupaten Kulonprogo Supriyono,SE,MM harapan dari penanaman Mangrove, wilayah Pasir Kadilangu tidak tergerus oleh air laut sehingga lahan yang ada bisa dimanfaatkan oleh masyarakat seperti adanya kolam-kolam untuk budidaya udang. Selain itu akan ada binatang laut yang mampu menjadi daya tarik untuk obyek wisata pantai.

 “Bibit yang ditanam berjumlah 25.000 batang berasal dari Yayasan Damar di Pasir Kadilanggu,”jelas Supriyono yang juga Kabag Perekonomian Setda Kulonprogo.

Sementara Wakil Bupati Kulonprogo Drs.H.Sutedjo mengatakan penanaman Mangrove merupakan spirit baru Kulonprogo untuk mempertahankan wilayah pantai di Kulonprogo dari abrasi pantai . Meski yang dilakukan belum banyak actionnya dalam mengatasi abrasi melalui penanaman Mangrove  namun tidak usah merasa malu, sehingga upaya di masa-masa mendatang terus dilakukan untuk melakukan rehabilitasi pantai.  

 “Kita bisa mencontoh bangsa lain seperti Belanda yang amat sangat pro aktif untuk bisa melindungi pesisir pantai dari ancanam abrasi, karena luas negaranya yang relatif sempit, bahkan kemudian ekspansi menambah daratan yang semula berupa lautan,”terangnya.  

Sementara itu, Supriyono juga menjelaskan bahwa sejak tahun 2003 hingga 2011 sejumlah 197.100 batang mangrove dari jenis Rhizopora dan Api-api telah ditanam, baik yang berasal dari Perguruan Tinggi, Pemerintah maupun Swasta. Potensi pengembangan mangrove di Kulonprogo seluas 7,07 Ha, 5 Ha di Dusun Pasir Mendit, 1,5 Ha di Dusun Kadilangu, dan 0,57 Ha di Dusun Nglawang.

Diakui Supriyono, perkembangan tanaman mangrove masih menemui kendala, sehingga tidak semua tanaman yang ditanam bisa hidup. Menurutnya kendala tersebut antara lain adanya faktor alam seperti abrasi, air pasang bekepanjangan, hama pengganggu, ataupun dari faktor manusia seperti keterbatasan kemampuan dan keterampilan dalam pengelolaan mangrove serta belum adanya grand design pengembangan wilayah mangrove, sehingga sering berbenturan dengan pengembangan pada bidang yang lain.

Tanaman mangrove memiliki manfaat yang besar, Secara fisik mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi pantai, penahan intrusi (peresapan air laut) ke daratan, penahan badai dan angin yang bermuatan garam, menurunkan kadar CO¬2, menghambat pencemaran di pantai. Secara biologis, hutan mangrove akan menjadi tempat hidup biota laut yang menyediakan sumber makanan bagi spesies yang ada di sekitarnya. Secara Ekonomi, hutan mangrove bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi, sumber bahan kayu bakar/bangunan dan penghasil pangan melalui hewan-hewan yang ada disekitarnya. Melihat besarnya manfaat kawasan mangrove sebagai green barrier di daerah pesisir, sudah selayaknya jika Kulonprogo memiliki grand design yang jelas dalam pengembangan kawasan mangrove. (her/***)