Mahasiswa KKN Diharapkan Bantu Pendataan Warga Miskin

  • 04 Januari 2013 15:41:52
  • 2962 views

Mahasiswa KKN UGM semester gasal tahun 2012 yang memulai kegiatannya bulan November lalu di 7 kecamatan yaitu Kokap, Samigaluh, Temon, Girimulyo, Sentolo, Wates dan Kalibawang saat ini sudah selesai, sehingga segera ditarik. Penarikan tersebut ditandai dengan pelaporan hasil kegiatan mahasiswa KKN di hadapan Bupati pada Jum'at pagi (4/1) di Joglo Kantor Bupati Kulonprogo.

Menurut Heru Prasanto, dosen Fakultas Kedokteran (FK) UGM yang mendampingi mahasiswa KKN di Kulonprogo, banyak sekali pengalaman yang didapat mahasiswa sehingga bisa memberi bekal kepada 'dokter' muda yang KKN di Kulonprogo. Dijelaskannya bahwa salah satu yang dilakukan mahasiswa KKN ini adalah membangun mimpi masyarakat, karena kalau tidak punya mimpi, sesuatu akan berjalan begitu saja dan terjebak pada keseharian. Hal ini diamini oleh Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) bahwa seseorang harus punya mimpi yang jauh.

"Mimpi ini penting supaya kita fokus terhadap apa yang dikerjakan, dan fokus itu penting. Fokus artinya menjalankan syari'at sebaik-baiknya, jika sudah dijalankan dengan baik mungkin bisa berdiversifikasi," jelas Hasto.

Dari berbagai laporan mahasiswa Heru menyimpulkan bahwa keberlangsungan dari program kegiatan KKN ini sangat diharapkan, karena sangat sesuai kebutuhan masyarakat, selain juga sesuai program Pemkab Kulonprogo.

"Ke depan akan dibuat langkah-langkah lanjut supaya keberlangsungan program ini terjaga, mungkin dikembangkan dan ditingkatkan sehingga mempunyai daya ungkit yang lebih besar di masyarakat," jelas Heru.

Wahyudi Istiono, dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) UGM keberlangsungan program akan terus berlanjut dengan kegiatan KKN berikutnya yang dijadwalkan tanggal 22 Februari 2013, untuk ini banyak langkah-langkah yang sebelumnya akan dikoordinasikan dengan instansi terkait. Untuk mahasiswa FK UGM, selama KKN kemarin telah mengembangkan keilmuan di Puskesmas dengan bantuan Dinas Kesehatan dan dibimbing oleh clinical instructor di Puskesmas dan diharuskan menangani minimal 50 kasus kesehatan yang ada di pelayanan primer secara mandiri. Selain itu mereka juga mendampingi minimal 1 keluarga yang berisiko, di daerah KKN.  Laporan kasus kesehatan dan pendampingan keluarga ini dicatat dalam log book untuk kemudian dinilai oleh clinical instructor.

Hasto Wardoyo berharap peserta KKN kali ini menjadi lebih tangguh dengan digembleng oleh medan Kuklonprogo yang berat. Dikhawatirkan jika menghadapi medan yang enak dan nyaman, mereka tidak menjadi orang yang tangguh. Bahkan Bupati mengharapkan para dokter jika bertugas di Puskesmas mau tinggal di medan yang sulit.

Menurut Hasto terkait dengan KKN ini masyarakat pada dasarnya haus akan ilmu sehingga ketika dikunjungi oleh mahasiswa KKN akan memberikan nuansa tersendiri di masyarakat. Banyak ilmu yang merupakan public knowledge ternyata menyesatkan, dengan adanya dokter ataupun mahasiswa KKN diharapkan dapat meluruskan ilmu yang benar. Bupati juga menilai mahasiswa KKN sudah bekerja dengan baik dan menghayatinya, terbukti dengan pernyataan mereka akan kurangnya waktu untuk menjalankan berbagai program KKN.

Selanjutnya Hasto berharap mahasiswa KKN dapat memberikan isu yang positif pada masyarakat terutama dalam muysyawarah-musyawarah dengan masyarakat sehingga energi itu bisa digunakan untuk membangun rasa kasih sayang antara warga masyarakat. Untuk KKN periode selanjutnya, Bupati merasa senang karena jeda KKN berikutnya tidak jauh sehingga program yang telah dilaksanakan bisa terhubung dengan program yang akan datang, selain masyarakat juga masih segar dalam program tersebut. Begitu juga dengan program pendampingan keluarga bagi mahasiswa KKN, Bupati menyambut senang karena diharapkan mereka bisa membantu Pemkab melakuan pendataan masyarakat miskin yang tujuannya untuk pemutakhiran data sehingga bisa realtime.

Data tersebut merupakan data album kemiskinan yang setiap tahun selalu diperbaiki, sehingga diharapkan mahasiswa yang tinggal di keluarga miskin ataupun yang berisiko tinggi bisa mendata profilnya sesuai dengan 16 indikator kemiskinan. Dengan profil yang lengkap diharapkan diagnosis penyebab kemiskinan bisa ditemukan, karena penyebab kemiskinan antara KK masing-masing berbeda. Meskipun saat ini pemerintah biasa memberikan treatment secara broadspectrum, semua diberikan obat yang sama.

Dari masukan-masukan LPPM UGM terkait dengan rencana KKN bulan Juni/Juli Bupati menyatakan bahwa Kulonprogo siap menerima 5000 mahasiswa KKN, karena Kulonprogo memiliki tema sentral yaitu kemiskinan yang bisa di breakdown menjadi sub-sub tema di berbagai lini sesuai dengan fakultas di UGM.

"Kami sebetulnya sangat terkesiap, dengan Bappeda kita akan mengkonsep tetang tema sentral itu, sehingga nanti ada sub tema dikaitkan dengan kemiskinan," kata Hasto.

Sehingga jika memungkinkan LPPM UGM bisa bekerja sama dengan Pemkab Kulonprogo dengan membuat MoU. Jika hal ini dilakukan selama 2 tahun saja, diharapkan akan memberi manfaat, antara lain database kemiskinan akan menjadi sangat lengkap, dan profil orang miskin bisa dipotret sepersis mungkin.

"Dengan program KKN barangkali melalui kerjasama dengan UGM hipotesisnya adalah dengan mengurai profil sebaik mungkin maka pemecahan masalah kemiskinan akan sangat terbantu dan lebih cepat," kata Hasto yang juga dosen ini.