Pengurus Paguyuban Tirto Menoreh Dikukuhkan

  • 28 Desember 2012 18:14:32
  • 1901 views

Dalam upaya melayani penyediaan air minum di daerah pedesaan yang tidak terlayani PDAM, perlu dilaksanakan program pengembangan sistem penyediaan air minum pedesaan (PAMDES). Agar pelaksanaan program tersebut berjalan tertib dan lancar untuk mencapai hasil optimal, di Kulonprogo dibentuklah Paguyuban Air Minum "Tirto Menoreh". Pengurusnya. Pengurus "Tirto Menoreh" terdiri 11 orang unsur masyarakat yang diketuai oleh Sagiman dan Mujiran, dan pengukuhan kepengurusan telah dilakukan Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) di Gedung Kaca, Jum'at sore (28/12).

Pengukuhan tersebut dihadiri oleh Bupati, Diretur PDAM Tirta Binangun Kabupaten Kulonprogo, Jumantoro, Dewan Riset Daerah DIY, Ir. Darmanto Dipl. HE. MSc, Kasatker PK PAM DIY, Ir. Hardjono Sudjanadi, MM, dan pengelola air minum di Kulonprogo.

Menurut Darmanto, Pamdes dibentuk karena PDAM tidak mampu memenuhi kebutuhan air hingga ke desa-desa. Dengan demikian Darmanto dan rekan-rekan menemui Sultan HB X untuk menjelaskan program kerjanya. Sedangkan Pemda DIY terus mendorong pengembangan peran pengelolaan air bersih non-PDAM yang dikelola masyarakat pedesaan melalui Paguyuban Pengelola Air Minum Masyarakat Yogyakarta (Pamaskarta). Menurutnya, peran Pamdes Tirto Menoreh di antaranya untuk memfasilitasi masyarakat pedesaan memperoleh pemenuhan kebutuhan air bersih yang selama ini daerahnya belum mendapatkan jaringan pipa PDAM. Selama ini yang menjadi persoalan, adalah minimnya instalasi penyediaan air bersih tersebut, sehingga kalau pun ada sumber air, percuma karena tidak bisa dikelola secara baik karena belum adanya instalasi air. Dilanjutkannya, problem pengelolaan air bersih di masyarakat pedesaan itu khususnya mengenai pemenuhan kebutuhan instalasi penyalur air seperti pipa, sehingga mereka koordinir dan fasilitasi agar warga pedesaan bisa terpenuhi akan air bersih.

Menurut Hasto Wardoyo, air merupakan kebutuhan utama bagi mahluk hidup, oleh karena itu pengelolaan air oleh Paguyuban Tirto Menoreh bisa menjaga kualitas air. Juga ditekankan supaya PDAM dan paguyuban menjaga fasilitas air minum sehingga terhindar dari upaya sabotase, supaya masyarakat terbebas dari air yang tidak sehat.

"Oleh karena itu tugas mengelola air memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga PDAM dan paguyuban memberi perhatian kepada keamanan fasilitas distribusi air," kata Hasto.

Pemda DIY juga telah memberikan bantuan sejumlah kurang lebih Rp 150 juta untuk pengelolaan air ini di Kulonprogo, pesan saya uang ini harus dimanfaatkan secara hati-hati supaya tidak terkena kasus hukum.

Bupati melanjutkan bahwa saat ini PDAM Tirta Binangun sedang melakukan proses industrialisasi air minum dalam kemasan, hal ini bisa ditiru oleh paguyuban seperti yang dilakukan di salah satu pengelolaan air di daerah Panjatan. Dengan pengelolaan demikian, diharapkan akan muncul kemandirian di pengelola air.

"Jangan sampai air yang berasal dari daerah kita diolah oleh perusahaan asing kemudian dijual kepada kita sendiri. Harusnya dengan spirit bela dan beli Indonesia, kita sendiri yang harus mengolahnya untuk kepentingan dan bermanfaat bagi masyarakat sendiri," tutur Bupati. ***