Tidak Memiskinkan, Warga Setuju Bandara di Temon

  • 28 Desember 2012 09:51:06
  • 4765 views

TEMON (KRjogja.com) - Sebagian petani penggarap lahan pasir di Desa Paliyan dan Glagah Kecamatan Temon mengaku 'manut' pemerintah terkait rencana pembangunan bandara baru sebagai pengganti Bandara Adi Sutjipto di wilayah Kecamatan Temon.

"Sebagai orang kecil tentu kami tidak punya kemampuan untuk menentang keputusan pemerintah. Selama pembangunan bandara mampu memberikan manfaat dan besaran ganti untung lahan serta tanaman sesuai harapan masyarakat, kami setuju saja bandara dibangun di sini. Tapi sebelumnya pemerintah dan investor harus menjelaskan secara rinci proses dan manfaat bandara nanti bagi masyarakat lokal," kata petani, Tarti (45) di lahan cabenya di Pantai Desa Paliyan, Kamis (27/12).

Hal senada disampaikan, Supri (28) juga petani di lahan pasir Pantai Desa Paliyan. "Kalau memang rencana pembangunan bandara tersebut sudah menjadi keputusan pemerintah, saya setuju-setuju saja. Karena kalau pun saya menentang sementara warga yang lain mendukung, kan tidak ada artinya juga saya menolak rencana pembangunan bandara. Artinya tidak ada manfaatnya saya menentang program pemerintah, apalagi program tersebut mendapat dukungan sebagian besar warga," ujarnya.

Secara pribadi, Supri mengaku keberatan dengan rencana pemberintah untuk membangun bandara di wilayah selatan Kecamatan Temon, apalagi sampai menggusur lahan pertanian warga, mengingat lahan pasir yang saat ini sudah produktif merupakan andalan bagi masyarakat petani setempat dalam meningkatkan taraf ekonomi keluarga mereka. "Tapi demi kepentingan yang lebih besar bahkan mungkin untuk kesejahteraan masyarakat secara umum, saya akan mengikuti sikap sebagian besar masyarakat. Kalau memang warga banyak yang mendukung dan menerima rencana pembangunan bandara, ya saya ikut saja, yang penting pembangunannya tidak menyengsarakan masyarakat sekitar sini," tuturnya.

Mengenai kemungkinan lokasi bandara dipindah ke Bantul, jika harga tanah di wilayah selatan Kecamatan Temon melambung, Supri menyerahkan seluruhnya kepada pemerintah dan investor. "Kalau memang harga tanah di Bantul lebih murah daripada di sini, silah kan saja bandara dibangun di Bantul," katanya.

Sementara itu Ketua Paguyuban Petani Penggarap Paku Alaman Ground (PAG) Agus Parmono saat dimintai komentarnya menegaskan, rencana pembangunan bandara di wilayah pesisir Kecamatan Temon baru sebatas wacana. Sebab sampai saat ini Pemkab Kulonprogo belum menentukan secara pasti lokasi bandara dibangun. Selain itu Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga belum mengeluarkan Ijin Penentuan Lokasi bandara. "Ada pun pertemuan antara Bupati Hasto Wardoyo dengan Dukuh, BPD dan kades empat desa yakni Jangkaran, Sindutan, Paliyan dan Glagah beberapa waktu lalu juga baru sebatas wacana," terangnya.

Ditambahkan adanya pro dan kontra terhadap sebuah rencana pembangunan mega proyek merupakan hal wajar. "Selama untuk kepentingan mendongkrak PAD dan kesejahteraan masyarakat, apalagi prosesnya dilakukan secara elegan, saya yakin warga nanti setuju," ujarnya. (Rul)