Malam Renungan Hari Jadi Kulon Progo ke 61

  • 15 Oktober 2012 08:27:16
  • 1994 views

Dalam rangkaian memperingati hari Jadi Kabupaten Kulonprogo ke-61 tanggal 15 Oktober 2012 ini, pada Minggu (14/10) malam berlangsung acara malam renungan di Gedung Kaca, Pemkab. Acara diisi dengan ceramah oleh mantan Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU., DEA tentang Sumbang saran gerakan Bela-Beli demi terwujudnya ekonomi yang mandiri, pemahaman, pemanfaatan dan pengembangbiakan potensi peternakan.


Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyalaan lilin angka 61 oleh Ketua Tim Penggerak PKK dr.Hj.Dwikisworo Setyowireni,Sp.A (K), yang dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) yang diserahkan kepada Ketua DPRD Yuliardi,S.Ag. Selain itu Bupati juga menyerahkan hadiah kepada para juara lomba Mocopat serta mengukuhkan kepengurusan Bakor PKP periode 2012-2017.


Turut hadir Wakil Bupati Drs.H.Sutedjo, Forkorpimda, mantan Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo, anggota DPRD , pimpinan SKPD dan beberapa tokoh masyarakat.


Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) mengatakan saat ini Kulonprogo telah siap dengan keberadaan megaproyek, hal ini harus dipahami tidak hanya oleh aparat pemerintah saja, namun segenap tokoh masyarakat,LSM,BUMD dan swasta untuk bersama-sama menyongsong keberadaan mengaproyek tersebut agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton tetapi harus menjadi pelaku serta mendapat manfaat yang sebesar-besarnya.


"Karena megaproyek menjadi jembatan emas dalam rangka menuju Kulonprogo baru, namun juga ada tekad yang besar kemandirian Kulonprogo sesuai visi Kulonprogo. Sehingga dalam rangka mengisi keistimewaan Yogyakarta, maka Kulonprogo dengan semangat gotong-royong yang disertai dengan semangat kemandirian perlindungan terhadap produksi dan konsumsi masyarakat, yang juga sebagai jembatan emas untuk masyarakat Kulonprogo yang sejahtera,"jelas Hasto.


Sedangkan Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU., DEA mengatakan komoditas peternakan unggulan di Kulonprogo adalah Kambing Etawa di perbukitan Menoreh, Sapi Potong di wilayah pesisir pantai, serta ayam kampung dan ayam komersial. Khusus pengembangbiakan sapi diharapkan tidak sembarangan yang saat ini banyak dilakukan jenis Simental di banding PO, karena pada generasi ketiga bisa terjadi kemandulan.


"Perkawinan sapi tidak boleh sembarangan, yang sedang memasyarakat adalah jenis Simental bukan PO, padahal akan terjadi penurunan kualitas di generasi ketiga bahkan terjadi kemandulan,"terang Tri yang asli Kulonprogo yakni kelahiran Samigaluh.


  Tri menambahkan dalam peternakan Sapi sistem kandang kelompok lebih baik di banding individu, karena dapat menjadi media tukar informasi, sarana komunikasi dan adanya kompetisi positif. (mc)