Samudera Indonesia Bakal Jadi Halaman Depan DIY

  • 15 Oktober 2012 13:23:10
  • 2721 views

Penetapan DIY sebagai daerah Istimewa sebagaimana tersirat dalam UU No. 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta melahirkan komitmen membangun peradaban baru Yogyakarta. Peradaban baru tersebut disongsong melalui renaissance Yogyakarta. Menurut Sri Sultan HB X, renaissance Yogyakarta yang dimaksudkan adalah filosofi hamemayu-hayuning bawana yang dihidupi semangat gotong royong dengan mengacu pada konsep aworing kawula-gusti dan golong-gilig, serta diekspresikan oleh sikap satriya: sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, memberikan vitalitas dan ruh baru, arah baru, nilai baru, serta kekuatan baru dari pergeseran kekuatan peradaban yang bergerak menuju ke timur.


Hal tersebut diutarakan oleh Gubernur DIY yang baru saja dilantik, Sri Sultan HB X pada acara Hari Jadi Kabupaten Kulonprogo ke-61 di Alun-Alun Wates, Senin (15/10).


Ditambahkan oleh Sri Sultan, bahwa membangun peradaban baru memerlukan strategi budaya, yaitu membalik paradigma 'among tani' menjadi 'dagang layar', dari pembangunan berbasis daratan ke maritim, dengan menggali, mengkaji, dan menguji serta mengembangkan keunggulan lokal berupa teknologi. Sehingga Laut Selatan akan ditempatkan sebagai halaman depan. Perubahan paradigmatis ini paralel, bahkan didukung oleh kebijakan ekonomi nasional dengan ditempatkannya wilayah Kulonprogo dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia berupa kawasan industri yang termasuk dalam 'Koridor Delapan'.


Seiring dengan pernyataan Gubernur DIY, Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) menjelaskan bahwa Pemkab Kulonprogo merasa harus ada jembatan emas supaya pelaksanaan pembangunan segera terwujud. Ada dua program yang bisa ditetapkan sebagai jembatan emas untuk mewujudkan Kulonprogo baru yang lebih sejahtera, yaitu dilaksanakannya megaproyek supaya mengembangkan industri dan investasi, dan pelaksanaan kegiatan untuk mengisi keistimewaan DIY, yaitu melalui program pembangunan berbasis gotong royong dengan semangat kemandirian dan pengayoman terhadap produksi serta konsumsi di wilayah Kulonprogo. Program tersebut dilaksanakan antara lain melalui bedah rumah dan gerakan Bela-Beli Kulonprogo.


dr. Hasto menjelaskan, bahwa upacara hari jadi Kulonprogo ke-61 mengambil tema: "Dengan Semangat Hari Jadi ke-61 Kabupaten Kulonprogo, Kita Wujudkan Gerakan Bela dan Beli Kulonprogo, Bela dan Beli Yogyakarta, Bela dan Beli Indonesia, Demi terwujudnya Ekonomi yang Mandiri".


Setelah upacara, dilaksanakan penyerahan sertifikat hak cipta motif batik Kulonprogo, "Gebleg Renteng", dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dengan nomor pendaftaran 060873 berlaku selama 50 tahun sejak diumumkan tanggal 6 Mei 2012. Dengan demikian motif batik Gebleg Renteng menjadi milik Kulonprogo dan tidak bisa ditiru siapapun tanpa ijin dari Pemkab Kulonprogo sebagai pemegang hak cipta.


Upacara tersebut dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Kulonprogo, Pangarsaning DPRD Kabupaten Kulonprogo, Wakil Bupati Kulonprogo, Dinas/Instansi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo, Para Camat, Lurah/Kepala Desa se-Kabupaten Kulonprogo, dan para tamu undangan.


Tak lama berselang, juga dilakukan serah terima akta pendirian Koperasi Pengrajin Batik Citra Mandiri serta penyerahan dokumen penyelenggaraan dan hasil karya lomba desain motif batik dari Bupati Kulonprogo kepada Kepala Perpustakaan Kulonprogo.


Dalam acara itu diserahkan pula penghargaan PAM (Pengolahan Air Mandiri), Juara kategori 200-500 SR, Tirto Margo Saras, Garongan, Panjatan dan Watu Belah, Pagerharjo, Samigaluh; Juara Kategori 100-200 SR: Tirto Kencono, Hargorejo, Kokap dan Terto Sendang Mudal, Karangsari, Pengasih; serta Kategori 0-100 SR, Tirto Gayam, Kulur, Temon, dan Tirtosari, Donomulyo, Nanggulan. Dalam acara istirahat, para hadirin upacara ditunjukkan penampilan kesenian Tari Banjaran Putri Badui dan senam angguk yang diikuti 3000 peserta senam.(mc)