BUPATI KULON PROGO DAN BANK INDONESIA PERWAKILAN DIY TANDATANGANI KERJASAMA PENGUATAN KOMODITAS CABAI DAN UMKM

  • 14 Juni 2012 12:55:14
  • 2876 views

Secara nasional bobot sumbangan komoditas cabe merah terhadap inflasi menurut Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun dasar 2007 sebesar 0,45 persen. Angka tersebut relatif cukup besar dibandingkan sumbangan komoditas cabe merah terhadap inflasi di kota Yogyakarta lebih rendah yaitu sebesar 0,16 persen. Sebagai salah satu komoditas yang memberikan sumbangan yang besar bagi inflasi di Indonesia,kenaikan harga cabai merah yang melonjak hingga mencapai lebih dari 100 persen di triwulan akhir 2010 hingga awal tahun 2011 tentunya mengganggu upaya Bank Indonesia dalam stabilitas harga.


  Hal tersebut dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi DIY, Mahdi Mahmudy dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara Kantor Perwakilan BI Propinsi DIY dengan Pemkab Kulonprogo dalam rangka rangka Program Penguatan Ketahanan Pangan Daerah melalui Pilot Program Komoditas Cabai dan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).  

Dalam kesempatan itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi DIY, Mahdi Mahmudy, Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), pimpinan BRI Cabang Wates, Bank BPD DIY, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Kulonprogo Ir.Bambang Tribudi Harsono, Camat Temon Joko Prasetyo,SH melakukan panen cabai di bulak Bebekan desa Glagah di Kelompok Tani (KT) Roso Manunggal, serta menyaksikan lelang cabai.


  "Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BI tahun 2011mengenai Identifikasi faktor-faktor penentu pembentukan harga cabai merah disimpulkan bahwa permasalahan lebih mendominasi supply.Hal ini sangat terkait dengan sifat komoditas cabai yang perishable (mudah rusak). Sehingga hasil panen tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama.

 Sebagai akibat terjadi gap supply yang sangat tinggi antara musim panen dengan musim paceklik. Dengan budaya masyarakat Indonesia yang terbiasa mengkonsumsi cabai segar menyebabkan demand cabai merah segar relatif stabil sepanjang musim, adanya gap supply ini tentunya memicu kenaikan harga,"terang Mahmudy.


  Mahmudy menambahkan Kulonprogo sebagai salah satu kabupaten yang berhasil dalam menjaga kestabilan harga cabai merah melalui sistem lelang. Peserta lelang pedagang besar yang telah terdaftar di Asosiasi Pasar tani (Aspartan) Cabai. Lelang dilakukan secara tertutup untuk memperoleh harga yang tinggi. Kekuatan model ini adalah petani langsung membawa hasil penjualan sehingga model ini sangat ditentukan oleh kekuatan modal kelompok tani untuk membeli cabai dari petani sebelum dilakukan lelang.


  "Tujuan program penguatan ketahanan pangan daerah melalui pilot program komoditas cabai yang diinisiasi BI adalah mendukung program pemkab Kulonprogo dalam rangka meningkatkan produksi dan produktifitas cabai, implementasi dari kerjasama ini berupa Sekolah Lapang Pengendalian Hama Tanaman (SLPHT), penguatan model pasar lelang dan penguatan penanganan sub sistem hilir (pengolahan hasil) "katanya.


  Sedangkan Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K), mengatakan masalah utama yang selama ini dihadapi petani cabai adalah harga yang fluktuatif yang kalau pas panen harga murah sama sekali tidak menguntungkan atau bangkrut.


  " BI dapat memberikan intervensi dalam hal tunda jual, sehingga kalau pas harga turun dapat membuat usaha atau industri pengeringan cabe dalam jumlah yang besar, sehingga kalau harga cabe turun di bawah Rp.10.000,- petani tidak begitu menderita. Karena kemungkinan dapat dibeli dengan harga yang masih standar normal, sehingga kalau dikaji dengan pengeringan, biaya operasional, lalu dijual apakah masih menguntungkan apa tidak, kita cari kantong pointnya, batas yang bisa masih layak untuk membeli dalam keadaan kritis itu berapa, itulah yang kita butuhkan "kata Hasto.


  Sementara itu pembina KT .Roso Manunggal, Jarwo mengatakan harga lelang cabai selalu berubah dalam setiap menit, sedangkan malam sebelumnya mencapai Rp.15.000,- perkilo. Perhari Cabai yang dilelang sekitar 2 ton. (mc)