PAKSI KATON SEGERA DIBENTUK DI KULONPROGO

  • 13 Juni 2012 14:30:52
  • 4111 views

         Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Paksi Katon dibentuk karena keprihatinan terhadap masyarakat yang tidak peduli terhadap lingkungannya dan kecenderungan masyarakat yang egoistis. Hal tersebut terlihat dengan seringnya tindak kekerasan ataupun kejahatan yang terjadi di sekitar alun-alun Yogyakarta, namun masyarakat sekitar merasa tidak berdaya terhadap aksi tersebut di lingkungannya. Dari situ diambil kesimpulan bahwa untuk memerangi pekat harus dilakukan bersama-sama, tidak dilakukan sendiri-sendiri, karena jika dilaksanakan banyak orang, maka pelaku pekat akan berpikir untuk melanjutkan aksinya. Demikian disampaikan Muchammad Suhud, dari Paksi Katon saat audiensi dengan Pemkab Kulonprogo, Rabu (13/06) di Ruang Rapat Wakil Bupati Kulonprogo.

 

         Rombongan dipimpin oleh Ketua Paksi Katon, Muchammad Suhud, SH didampingi lima orang anggota Paksi Katon dari Kota Yogyakarta, Kulonprogo, dan Sleman. Rombongan diterima oleh Asisten Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Sarjana, M.Si didampingi oleh Kepala Bagian Kesra, Jumanto, SH serta beberapa SKPD terkait. Dalam sambutannya, Sarjana mengapresiasi dan menyambut positif jika Paksi Katon didirikan di Kulonprogo, karena memiliki visi dan misi yang secara jelas sejalan dengan visi-misi Bupati Kulonprogo, yaitu terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat. Selain itu ditegaskan bahwa terwujudnya keamanan dan ketertiban masyarakat bukan semata-mata tanggung jawab Pemerintah saja, tetapi merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Sehingga pembentukan FKPM Paksi Katon yang berasal dari masyarakat (bottom-up) tentunya akan membantu tugas pemerintah dalam menjaga ketertiban dan keamanan.

 

       "Pembentukan Paksi Katon yang berasal dari masyarakat menunjukkan adanya kepedulian sosial, dan karena dibentuk oleh masyarakat sendiri, maka keberadaannya akan awet, karena sesuai kebutuhan masyarakat," kata Sarjana. Selanjutnya Sarjana memandang penting kepedulian sosial, karena itu pemkab akan berusaha semaksimal mungkin untuk menumbuhkan kearifan lokal untuk menunjangnya. Seperti penggunaan kentongan di masyarakat, yang dimaksudkan untuk menunjukkan kesiagaan masyarakat dalam menjaga lingkungannya. Selain itu kepedulian sosial kepada lingkungan merupakan wujud dari semangat bela Kulonprogo yang saat ini sedang digalakkan Pemkab Kulonprogo.


       Suhud menjelaskan, sebenarnya fungsi Paksi Katon mirip dengan pecalang di Bali, hanya saja Paksi Katon berbasis pada adat budaya Yogyakarta yang berpangkal di Kraton Ngayogyakarto. Keanggotaan Paksi Katon juga terbuka untuk masyarakat umum selama memenuhi 3 syarat, yaitu bebas pekat (penyakit masyarakat), berjiwa sosial, dan memiliki nyali yang kuat. Sebagai organisasi yang independen, Paksi Katon tidak hanya berkiprah dalam bidang keamanan saja, tetapi juga dalam bidang sosial, misalnya kepedulian sosial saat terjadi bencana Gunung Merapi, membantu pengaturan lalu lintas, ataupun menjaga ketertiban saat terjadi demonstrasi.

 

       Paksi Katon melihat banyaknya potensi wisata dan budaya di Kulonprogo, sehingga berharap Paksi Katon juga bisa didirikan di Kulonprogo, dan ikut berperan serta dalam mengembangkan budaya di Kulonprogo. Supaya lebih merakyat, Paksi Katon memakai seragam yang menarik sehingga bisa menjadi tontonan bagi masyarakat sebelum menonton event budaya inti, dan dalam penertiban dilakukan dengan sopan santun sesuai adat budaya masyarakat setempat. Ke depan, jika sudah terbentuk Paksi Katon di Kulonprogo, Suhud berharap Bupati berkenan menjadi anggota kehormatan dan setelah itu melantik anggota Paksi Katon wilayah Kulonprogo. Meskipun di Kulonprogo belum terbentuk, tetapi sebenarnya Paksi Katon sudah sering berkiprah di Kulonprogo dalam berbagai event budaya. Menurut Suhud, Paksi Katon tidak ingin dianggap sebagai organisasi kacangan, sehingga dengan masuknya Bupati, Kapolres, dan Dandim sebagai anggota kehormatan, Paksi Katon akan menjaga nama baiknya dengan bekerja tanpa pamrih sebaik-baiknya.