SANGGAR KARYA TULIS ?NIDYA PENA? SALAMREJO; Membudayakan Menulis Melalui Keluarga

  • 27 Januari 2009 00:00:00
  • 1291 views
Menjadi seorang penulis itu paling harus dapat memadukan tiga unsur dasar, yakni motivasi, inspirasi, dan idealisme sebagai satu kesatuan yang utuh. Mengingat ketiga hal tersebut yang akan mampu menggerakkan seseorang untuk mau dan mampu menulis, maka ketiganya dapat dianggap sebagai modal dasar menjadi seorang penulis. Menulis apa saja, karena tulisan adalah representasi dari apa yang kita pikirkan, kita renungkan, dan yang kita inginkan. Persoalannya, motivasi, inspirasi dan idealisme tidak akan dapat hadir begitu saja tanpa dirangsang oleh lingkungan, tanpa ditempa oleh pengalaman, dan tanpa dituntun oleh mereka yang memiliki kemampuan memadai yang kami ibaratkan sebagai lahan miring yang memungkinkan air dapat mengalir lancar.
Demikian dikatakan oleh Drs. Mardiya, Pengelola Sanggar Karya Tulis Keluarga ?Nidya Pena? yang beralamat di RT 19 RW 10 Dusun Karangwetan, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo pada saat di temui di kediamannnya, belum lama ini. Turut mendampingi isteri tercintanya Rr. Erny Trisusilaningsih, AMA, AMA.Pd dan kedua anaknya Nidya Zainun Faqiha (8 tahun) dan Nidya Zaim Faiq (1,5 Tahun).
Faktor lingkungan, khususnya lingkungan dalam keluarga, lanjut Mardiya, memberi pengaruh yang cukup besar bagi seseorang untuk dapat termotivasi menulis. Namun ini sifatnya hanya sementara dan lebih banyak berlaku pada orang yang baru akan mencoba menulis, karena motivasi menulis pada diri seseorang yang sudah matang jiwa kepenulisannya, dapat tetap menggelora tanpa harus mendapat rangsangan yang cukup dari luar. Hal ini akan berjalan seiring dengan kemampuannya membangun konsep diri, keinginan untuk mengaktualisasikan jati diri, serta dorongan untuk bertahan hidup. Dalam beberapa hal, menulis bisa menyebabkan ketagihan. Artinya sekali menulis, tidak pernah mau berhenti lagi.
Yang perlu disadari, walaupun sifatnya hanya sementara, atensi dan kepedulian orangtua (ayah/ibu) serta saudara kandung (kakak, adik) yang menjadi bagian dari lingkungan keluarga akan menjadi pemicu dan pemacu seseorang untuk mau menulis. Oleh sebab itu, lingkungan keluarga harus dibangun agar kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya budaya menulis seseorang. Tanpa kepedulian dan dorongan penuh dari keluarga, keinginan menulis pada orang tersebut tidak akan tumbuh dan berkembang, justru akan mudah redup kemudian mati. Sementara pengalaman dan tuntunan orang yang lebih berpengalaman adalah sebagai faktor penguat bagi seseorang untuk terus melangkah, menghindari atau menghadapi masalah yang ditemui selama proses melahirkan sebuah tulisan. Pengalaman dan tuntunan orang yang berpengalaman juga akan menghindarkan seseorang dari rasa bosan dan cepat putus asa yang memaksa orang itu untuk berhenti menulis
Prinsip tersebut yang mendasari Drs. Mardiya yang puluhan kali memenangkan lomba karya tulis baik ditingkat kabupaten, provinsi maupun nasional itu memberanikan diri bersama isterinya yang memiliki prestasi serupa, mewujudkan impian membangun Sanggar Karya Tulis Keluarga ?Nidya Pena? 1 Oktober 2006 lalu. Maka wajar bila visi dan misi sanggar yang dikelolanya sangat kental nuansanya dengan upaya memberdayakan keluarga agar para anggotanya berkemampuan menulis. Visi yang dimaksud adalah membangun keluarga cerdas, kreatif, berkemampuan dan mandiri melalui pengembangan karya tulis pada seluruh anggota keluarga. Sementara misinya adalah : (1) mengembangkan pengetahuan dan pengalaman keluarga dengan banyak membaca dan latihan menulis; (2) merangsang kreativitas keluarga dengan memanfaatkan lingkungan dan pengalaman untuk menulis berbagai versi; (3) meningkatkan kemampuan dan keberanian keluarga dengan menggugah keberanian setiap anggota keluarga untuk mengirimkan tulisan ke media massa; dan (4) meningkatkan daya saing anggota keluarga pada saat lomba karya tulis.
Guna mewujudkan visi dan misinya itu, Sanggar Karya Tulis Keluarga ?Nidya Pena? telah menyusun program dan kegiatan antara lain: Pertama, ekspose berbagai bentuk karya tulis baik yang pernah memenangkan lomba maupun naskah yang belum pernah dipublikasikan. Kedua, menyediakan tempat bagi peminat untuk latihan menulis. Ketiga, melayani konsultasi karya tulis. Keempat, melakukan pelatihan/privat secara insidental sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Kelima, menyusun buku petunjuk penulisan karya ilmiah.
Soal peminat dan pengunjung, Drs. Mardiya menyatakan cukup banyak, dan ini diiyakan oleh isterinya. Walaupun tidak tiap hari ada pengunjung. Tetapi paling tidak 3 ? 4 orang atau keluarga dalam seminggu, datang berkonsultasi atau berdiskusi soal karya tulis. Praktis selama lebih dari satu tahun sejak sanggar berdiri, telah ratusan kali dikunjungi oleh orang yang punya kepentingan dalam hal penyusunan karya tulis, mulai dari pikiran pembaca hingga laporan penelitian/tugas akhir. Yang membanggakan, mereka yang berkunjung berasal dari lintas profesi. Ada yang berprofesi sebagai pendidik, penulis buku, pegawai/pejabat kantor, peneliti/asisten peneliti, wiraswastawan, hingga mahasiswa dan pelajar. Beberapa mahasiswa S2 dari Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta pun pun sempat singgah di sanggarnya dan berdiskusi tentang tugas akhir yang disusunnya.
?Kami mengakui, sanggar karya tulis kami memang belum optimal dalam memainkan perannya agar masyarakat khususnya generasi mudanya untuk peduli dan memiliki minat dalam bidang penulisan karya ilmiah. Hal ini kami sadari karena tenaga dan pembiayaan kami yang sangat terbatas, karena semua masih ditanggung oleh keluarga. Kalau suatu saat ada lembaga atau institusi pemerintah, swasta atau perorangan yang peduli dan membantu kami, tentu kami akan berusaha semaksimal mungkin agar pelayanan menjadi lebih baik, ? papar pria asli kelahiran Kulonprogo, 20 April 1966 lalu dari pasangan keluarga Soma Sukarta-Usrek.
Disinggung tentang bentuk kegiatan riil yang telah dilakukan sanggar untuk kepentingan masyarakat umum, Drs. Mardiya diusulkan mendapat anugerah dari Bupati Kulonprogo berupa kenaikan pangkat istimewa bulan pada tahun 2009 mendatang mencontohkan, telah menyusun Tips Menulis Berita, Artikel, dan Tinjauan Ilmiah yang belakangan disusun dalam betuk modul Pembinaan Jarak Jauh (PJJ) tentang Ketrampilan Dasar Menulis Karya Ilmiah serta beberapa kali melatih pengunjung yang datang secara khusus (privat). Selain itu, pernah diajak bekerja sama dengan wira usahawan menyusun buku teknologi tepat guna. Hari Sabtu, tanggal 21 Juni 2008 lalu, ikut berkiprah dalam Seminar Tumbuh Kembang Anak yang digelar Balai Desa Wates bersama Forum Komunikasi IMP bersama IpeKB dan TP PKK Kabupaten Kulon Progo dan menghadirkan pembicara Prof. Dr. Suharsimi Arikunto serta Ir. Ambar Rahayu, MNS. Selanjutnya selaku Penyiap Bahan Pembinaan Ketahanan Keluarga di Dinas Kependudukan Catatan Sipil Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Kulonprogo, Drs. Mardiya yang juga pengelola sanggar ikut aktif membantu Seksi Ketahanan Keluarga dalam menyusun Materi Pengayaan Ketahanan Keluarga yang diterbitkan setiap bulan, kemudian membantu penulisan Buku Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak tahun 2007 lalu bersama Ny. Wiwik Toso Santoso Dipo, dkk, Buku Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Remaja yang akan segera terbit. Selain itu, bersama para penyuluh KB menyusun Buku Pedoman Institusi Masyarakat Pedesaan yang juga akan segera terbit. Bahkan belakangan ini, bersama Ny. Wiwik Toyo Santoso Dipo, Ny. Mulyono, Drs. Dwi Wicaksana BS dan Endar Sunarsih, S.Pd tengah menulis Buku Pegangan Membangun Keluarga Sejahtera Bersama PKK yang draftnya baru saja selesai disusun.
?Satu hal lagi yang sudah menjadi pemikiran kami, adalah keinginan sanggar untuk menyusun buku pedoman Penelitian Tindakan Lapangan (PTL) untuk Penyuluh KB agar mereka dapat menelorkan karya tulis yang memiliki nilai plus bukan hanya bagi sang penyuluh karena nilai angka kredit penelkitian yang cukup tinggi. Tetapi juga memiliki nilai plus di lapangan, karena PTL menuntut inovasi dan kreativitas dalam kegiatan KIE dan Konselingnya. Sasaran kami nantinya adalah para penyuluh KB yang sudah mencapai golongan ruang VI/a. Selain itu, kami juga berencana membentuk semacam ?Depot Karya Tulis Ilmiah? agar para pengunjung dapat leluasa melihat, mempelajari bahkan memfotokopi atau menggandakan bila ada yang benar-benar membutuhkan dengan harga yang terjangkau. Dan yang kami rasakan mendesak adalah untuk memasang papan informasi di depan sanggar yag akan kami tempeli harian Kedaulatan Rakyat dan informasi lain dari sanggar? jelas Drs. Mardiya sambil menginformasikan bahwa sanggarnya memiliki puluhan koleksi karya tulis ilmiah, baik berbentuk artikel, tinjauan ilmiah, laporan penelitian, skripsi maupun tesis disamping buku-buku referensi, majalah ilmiah/jurnal. Selain itu juga karya tulis yang pernah memenangkan berbagai event lomba maupun yang telah dipublikasikan di media massa. Bahan-bahan tulisan dari internet pun juga cukup banyak tersedia, khususnya yang menyangkut permasalahan kesehatan, kependudukan, pendidikan, sosial, KB dan ketahanan keluarga.