MESKI BARU SEKALI KE KULON PROGO, DAHLAN ISKAN TAHU MEGA PROYEK

  • 30 Maret 2012 11:27:40
  • 2124 views

Kalau mau berkata jujur Kabupaten Kulonprogo, sebenarnya masih kalah publikasi atau bahasa mudahnya masih kurang dikenal masyarakat secara nasional, di banding daerah -daerah lain di Propinsi DIY seperti kota Jogja, Sleman, Bantul dan Gunungkidul. Meskipun kabupaten paling barat di DIY ini menyimpan banyak potensi bahkan pernah memperoleh proyek tingkat nasional seperti pembangunan Bendung atau Waduk Sermo di Kokap yang diresmikan langsung kala itu Presiden Soeharto di masa Orde Baru (Orba),selain itu juga pernah dikunjungi beberapa menteri dan pejabat negara.
 
  Mendengar sebutan nama Kulonprogo melalui media mungkin masih lebih banyak, dibandingkan yang langsung atau pernah berkunjung di daerah yang berslogan The Jewel of Java atau permatanya pulau Jawa.

 Hal ini dialami langsung oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang datang di Kulonprogo Kamis (29/3) dini hari. 

  Mendampingi mantan bos Jawa Pos itu, melakukan olah raga dengan jalan-jalan di pagi hari menyusuri sawah di Triharjo Wates, seusai sholat subuh, reporter Mediacenter (MC) ngobrol sambil jalan.

Dalam obrolan itu terungkap ternyata Dahlan Iskan tahu tentang Kulonprogo, namun baru sekali itu berkunjung. Sedangkan terkait dengan program besar pemkab tentang mega proyek seperti Pasir Besi, pelabuhan maupun rencana pembangunan bandara internasional, mantan Dirut PLN ini telah mengetahuinya, namun dirinya tak mau berkomentar banyak tentang keberadaan mega proyek itu.

Ditanya tentang pembangunan Bandara Internasional, setelah menjawab tahu dan mengerti, hanya pengin tahu sedikit dengan tanya tentang letaknya, dan jauhnya lokasi bandara pengganti Adisutjipto tersebut dari dirinya berada saat jalan-jalan pagi tersebut.

  Sementara itu. mengapa Dahlan memilih datang pagi-pagi untuk menyaksikan proses tanam padi, karena dirinya tidak ingin merepotkan masyarakat, didasari kedisiplinan petani juga merupakan hal penting. Dahlan ingin para petani disiplin, seperti disiplin dalam waktu tanam, maupun waktu pemberian pupuk sehingga hasil bisa maksimal. Adanya keluhan petani masalah pupuk, sebenarnya hanya masalah komunikasi saja yang menjadi penghalang. Tidak ada masalah dalam distribusi maupun stock, namun justru keenganan para petani untuk menggunakan produk baru, ternyata para petani masih belum bisa menerima, karena masih merasa sreg dengan pupuk yang biasa digunakan sehingga kalau tidak ada, dan diberikan pupuk yang lain dengan kwalitas yang sama belum bisa menerima. Masih diperlukan kerja keras untuk membantu para petani kita dilapangan supaya mencapai hasil maksimal .semoga.  (mc)