MENTERI BUMN DAHLAN ISKAN KUNJUNGI KULON PROGO;Tidur Beralas Tikar, Makan Tiwul, Geblek dan Growol

  • 29 Maret 2012 14:21:38
  • 2061 views

''Maturnuwun sanget nggih, Pak. Kulo remen sanget Pak Menteri purun mampir sekalian nyare wonten omah kulo (Terima kasih sekali, Pak. Saya sangat senang Pak Menteri mau mampir dan menginap di rumah saya)," ujar Hadi Sumarto sembari menjabat tangan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.


  ''Nggih, Pak,Bu, kulo sing sejatosipun kedah maturnuwun, panjenengan sak kulowargo purun nampi kulo. Kulo nyuwun pangapunten nek sampun ngrepoti Pak Hadi Sumarto. (Ya, Pak, Bu, saya yang seharusnya berterima kasih, Anda dan keluarga mau menerima saya. Saya minta maaf sudah merepotkan Pak Hadi Sumarto dan Ibu," ujar Dahlan saat baru saja datang di rumah Hadi Sumarto.

  Itulah sekelumit dialog antara Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan Hadi Sumarto.Mantan Dirut PLN sedang melakukan kunjungan kerja di Kulonprogo yang datang pada Rabu (28/3) dini hari ini memilih mengginap di rumah warga milik Hadi Sumarto tepatnya di pedukuhan Seworan desa Triharjo, Wates.  

  Malam itu memang menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi Hadi Sumarto dan keluarga. Selama semalam, rumah milik petani sederhana itu menjadi tempat bermalam bagi Dahlan. Dia bermalam dan mengunjungi desa tersebut dalam rangka meninjau tanam perdana areal binaan progam Pro Beras BUMN PT.Sang Hyang Seri (Persero).

  Ada sesuatu yang lain dalam kunjungan Dahlan kali ini. Dia enggan menginap di hotel di Yogyakarta. Dia lebih memilih tidur di rumah salah seorang petani. Rumah yang dipilih Dahlan pun sangat sederhana. Dia memilih tidur di rumah Hadi Sumarto yang hanya berdinding bambu dan berlantai tanah. 

  Dahlan tiba di rumah tersebut sekitar pukul 24.00 WIB. Seperti biasa, dia hanya mengenakan baju putih dan celana panjang hitam serta tak ketinggalan sepatu kets kesayangannya. Begitu tiba di Dusun Seworan, Dahlan menuju rumah milik Hadi Sumarto di Rt.18 Rw.08.

  Awalnya, pihak pemkab dan desa menyiapkan dua rumah, salah satunya milik Keminem di Rt.19 Rw.08. Rumah itu lebih bagus karena lantai telah di plester semen. Namun, Dahlan lebih memilih tidur di rumah Hadi Sumarto.

  Kedatangan Dahlan yang didampingi Dirut PT.Sang Hyang Seri, Sri Edy Budiyono malam itu sempat mengecoh beberapa pejabat Kulonprogo termasuk Wabup Drs.H.Sutedjo karena telah siap menunggu di samping rumah Keminem, ternyata lokasi yang dituju rumah Hadi Sumarto.

Wabup dan rombongan baru mengetahui menteri telah datang setelah ada seseorang yang melaporkan bahwa Sang menteri telah datang, Wabup dan rombongan kemudian bergegas menuju rumah yang di dalamnya telah ada Dahlan yang sedang ngobrol dengan pemilik rumah Hadi Sumarto dan istrinya serta Kadus Seworan Sutari.

  Dia telah duduk di atas hamparan tikar yang telah disediakan pemilik rumah di dalam rumah sederhana berdinding bambu yang berlubang kemudian ditambal sedikit lembaran tripleks. Sambil menikmati minuman Secang dan beberapa makanan lokal, Dahlan ngobrol santai dengan Hadi Sumarto dan istri serta Kadus Seworan.
 
  Banyak hal yang ditanyakan Dahlan dalam dialog ringan dan penuh canda itu. Mulai soal keluarga, pekerjaan sehari-hari sampai penghasilan sebagai petani. Semua berlangsung santai tanpa merasa canggung meski yang dihadapi seorang mentri, begitu pula sebaliknya Dahlan yang merakyat dengan dialog bahasa Jawanya.

  "Kulo mboten gadah sabin namung buruh hasilipun maro, luasipun1800 m, angsale 10 karung, lan mboten disade namun cekap ngge maem saben dintenipun, paling-paling disade ngge tumbas rabuk. (Saya tidak punya sawah hanya buruh yang hasilnya dibagi dua, luasnya 1800 m dengan hasil bagian 10 karung, dan tidak pernah dijual hanya cukup untuk makan sehari-harinya, paling untuk beli pupuk saja," kata Hadi Sumarto. 

  Setelah ngobrol santai, tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Dahlan lantas pamit untuk beristirahat. "Monggo kita akhiri dulu obrolannya. Kita beristirahat, tidur dulu besok pagi dilanjutkan lagi,"," ujar mantan Dirut PLN ini.

  Tak lama kemudian, Dahlan berganti kaos berwarna unggu dan merebahkan diri di tempat ngobrol tadi untuk istirahat. Sebenarnya Sang empunya rumah sudah menyiapkan sebuah kamar dan kasur di ruang tidur yang dibatasi dinding bambu di sebelahnya. Namun, Dahlan tak tidur di dalam kamar. Dia memilih tidur di ruang tamu dengan hanya beralas tikar. Dia tidur bersama Dirut Sang Hyang Seri dan Wakil Bupati Kulonprogo. 

  Pagi-pagi sekali sekitar pukul 04.30 setelah terdengar suara adzan Subuh, Dahlan sudah bangun. Dia bergegas keluar rumah, menuju sebuah masjid, meski lokasinya beda desa namun lokasi masjid hanya 400 meter, karena rumah tempat menginap Dahlan memang berada di perbatasan antara desa Triharjo Wates dengan Tawangsari Pengasih. Di masjid Nurul Hidayah di pedukuhan Garang desa Tawangsari Pengasih tersebut Dahlan salat Subuh berjamaah dengan para warga masyarakat.

  Selesai salat, Dahlan kembali pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian keluar untuk jalan kaki sekitar 3 km keliling perkampungan dan persawahan, perjalanan yang setengah lari sehingga membuat rombongan sempat tertinggal agak jauh ini, baru berhenti di lokasi tempat tanam perdana areal binaan progam Pro Beras BUMN PT.Sang Hyang Seri (Persero). Di lokasi ini sempat terdengar kabar sebelumnya Dahlan akan turut tanam padi, namun sampai lokasi ternyata hanya ngobrol sejenak dan menyapa beberapa ibu-ibu yang baru saja mulai menanam padi. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju gudang Bulog yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dengan menyusuri pematang sawah. 

  Dahlan, yang terus dibuntuti beberapa wartawan mengakui meski tidak tidur di kamar bagus dan hanya beralas tikar namun merasa tidur pulas, dan menyatakan, bahwa kunjungannya yang dirasa lain dari pejabat umunya bukan untuk mencari kepuasaan, karena ia lakukan tidak hanya sekali ini saja. Dia tak mau menginap di hotel karena ingin penghayatan yang riil. 

  "Saya memilih tidur di rumah petani untuk mengetahui secara detail kehidupan mereka sekarang ini. Bagi saya, tidur seperti itu tak masalah. Sebab, saya juga dulu anak petani. Justru saya merasa mendapatkan pelajaran berharga yang tak bisa didapatkan di sekolah mana pun. Dari sini saya bisa mengetahui secara detail masalah-masalah yang dialami para petani selama ini, ada penghayatan yang riil itu saja" terang dia.

  Sementara terkait program Pro Beras BUMN, Dahlan mengharapkan terjadi revolusi yang cukup mendasar untuk mengatasi ketersediaan pangan yang merupakan masalah utama yaitu beras. Ini adalah cara peningkatan produktifitas secara signifikan dengan pendekatan korporasi.

  "Program Peningkatan produktifitas Padi menggunakan sistem korporasi itu definisi dari Pro Beras,"terangnya.

  Dahlan kepada wartawan, menceritakan pengalamannya ketika meninjau suatu desa terpencil di negeri Tiongkok, desa itu lalu menjadi sumber inspirasi revolusi beras, karena Tiongkok berpenduduk 1,3 Milyar sulit waktu itu memenuhui kebutuhan berasnya. Lalu dengan cara Inspirasi Kelompok Tani di Xiaogang prop Anhui. Hal ini seperti di Kulonprogo yang petaninya mau memulai sesuatu yang baru untuk meningkatkan produktifitas secara nyata dan terangsang untuk produksinya lebih besar dan dilakukan bukan karena adanya tekanan.
   
  Di Tiongkok saat itu untuk memulainya belum berani terang-terangan dengan rapat gelap karena kalau gagal bisa dihukum mati, pada akhirnya karena hasil produktifitas meningkat yang lain jadi tahu, akhirnya ini memberi inspirasi sehingga Tiongkok mengubah secara keseluruhan,"terangnya.

  Dalam kesempatan itu, Dahlan menuturkan bahwa kondisi saat ini di lokasi seluas 24 ha di KT Sidodadi pertanian dikerjakan sendiri-sendiri sehingga ada kesulitan dalam pengadaan pupuk, pembasmian hama, yang akhirnya produktifitas hanya 5,1 ton atau 5 ½ton bahkan kurang, untuk itulah coba kerjasama dengan PT.Sang Hyang Seri.

  Pola kerjasama yang akan dilakukan PT.Sang Hyang Seri dengan petani adalah memberikan biaya olah lahan, bantuan benih, pupuk, obat hama, yang nanti hasilnya diambil Sang Hyang Seri untuk BULOG supaya stock nasional cukup. Karena Indonesia masih impor beras 1,8 ton.

Dengan hitungan bahwa dari hasil panen 5,5 ton/ha yang diambil Sang Hyang Seri hasil kelebihannya diambil petani sebagai keuntungan petani, misal hasilnya nanti mencapai 7,5 ton maka yang 2 ton diambil petani sebagai keuntungannya, supaya petani sungguh-sungguh dalam bertani.

  "Waktu panen tiga bulan lagi saya akan datang kesini, kalau hasilnya sukses di Kulonprogo ini secara nasional kita akan lakukan revolusi, terlebih saat ini sawah sudah banyak berubah fungsi,"terangnya.

  Ketua KT.Ngudi Makmur, Slamet menyambut baik program yang diberikan Kementerian BUMN tersebut, meski diakui banyak hambatan untuk merealisasikan program tersebut. Hal ini karena dilakukan pada MT (Musim Tanam) II, yang berdasarkan pengalaman selama ini di musim tersebut sudah banyak hama yang muncul, iklim kurang mendukung sehingga hasilnya lebih rendah dibanding MT I
.
  "Prinsip kita sambut baik, kendalanya MT II biasanya hanya panen 5,1 ton/ha GKG, padahal MT I mampu panen 7,7 ton/ha GKG untuk jenis padi Ciherang, mudah-mudahan kalau nanti ada perhatian pupuk, obat-obatan hama bisa meningkat,"jelas Slamet.

  Slamet mengusulkan agar yang dikembalikan ke Sang Hyang Seri tidak berwujud gabah tetapi uang, karena selama ini hasil panen hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-harinya. 

  Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) yang sedang kursus di Lemhanas Jakarta melalui telpon langsung dengan Dahlan Iskan menyampaikan program-program yang selama ini telah dilakukan seperti program Gapoktan yang menyediakan beras bagi PNS dan rencana Gapoktan untuk menyediakan raskin.

  Kunjungan kerja diakhiri pukul 08.00 pagi dengan mengunjungi lokasi penggilingan padi Gapoktan Panca Manunggal di desa Sogan Wates yang setiap bulan menyuplai beras PNS untuk selanjutnya Menteri BUMN menuju kampus UGM Yogyakarta.(mc)