UPPKS BERHASIL, KB JANGAN DILUPAKAN

  • 03 Juni 2009 00:00:00
  • 2884 views
Sejak dilakukan pembinaan secara intensif, sekarang ini sudah cukup banyak kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) di Kulonprogo yang berhasil mengembangkan usahanya sehingga secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap kesejahteraan keluarga. Terlebih setelah ada Sertifikasi Penyuluhan Makanan dan Minuman dari Dinas Kesehatan, tidak sedikit produk-produk UPPKS yang mampu menembus pasar swalayan dan toko-toko besar dengan omzet jutaan rupiah per bulan. Ini belum termasuk pasar tadisional yang selama ini menjadi tumpuan utama pemasaran produk UPPKS. Realitas tersebut tentu sangat mengembirakan, karena dari sisi ini, keluarga akan terangkat status sosial ekonominya yang berdampak pada kemandirian keluarga untuk melaksanakan fungsi-fungsinya. Mulai dari fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan hingga fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.
Demikian dikatakan oleh Kabid KB Badan PMPDP dan KB Kabupaten Kulonprogo Drs. HM Dawam yang didampingi Kasubid Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Drs. Warsidi. Lebih lanjut diungkapkan oleh HM Dawam, sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan keluarga, UPPKS secara riil telah membuktikan peran yang tidak dapat dikesampingkan untuk menambah penghasilan keluarga anggota. Artinya, dengan keberadaan UPPKS, keluarga menjadi lebih berdaya dari sisi ekonomi sehingga secara berangsur-angsur telah mengangkat tahapan kesejahteraannya dari kondisi sebelumnya Pra Sejahtera menjadi Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera II dan seterusnya. Kesemuanya itu menjadi point positif bahwa UPPKS mampu mengentaskan banyak keluarga di Kulonprogo dari kemiskinan dan ketidakberdayaan yang selama ini membelenggu.
Hanya saja, diingatkan oleh Dawam, tatkala UPPKS berhasil, KB jangan dilupakan. Karena KB adalah inti dari upaya untuk membangun keluarga kecil bahagia sejahtera. Tanpa KB, keluarga tidak akan mampu mengendalikan jumlah anak yang dilahirkan. Dengan jumlah anak yang banyak, apalagi dengan jarak yang terlalu dekat, keluarga yang kurang mampu secara ekonomi akan dihadapkan pada kenyataan sulit. Karena di satu sisi waktu orangtua (ayah ibu) habis untuk mengasuh anak, di sisi lain keluarga akan sulit untuk bangkit secara ekonomi karena berbagai keterbatasan yang dimiliki, seperti ketiadaan modal untuk usaha, ketiadaan waktu yang cukup untuk mengelola usaha, keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan, dan sebagainya. Hal tersebut perlu ditandaskan mengingat keluarga yang merasa ekonominya membaik, akan berkurang pengendaliannya untuk tidak menambah jumlah anak. Terlebih bila mereka hanya berpikir sesaat, tanpa memikirkan kebutuhan-kebutuhan anak di masa depan, baik pendidikan, kesehatan, pekerjaan, hiburan dan kebutuhan primer lainnya.
Oleh karena itu mengacu pada konsep KB yang diamanatkan dalam UU No 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, UPPKS harus menjadi media yang efektif untuk lebih memasyarakatkan KB di masyarakat. Hal ini sejalan dengan maksud pendirian UPPKS yang di masa lalu bernama Usaha Peningkatan Keluarga Akseptor (UPPKA). Dulu, UPPKS menjadi bagian dari upaya untuk mensejahterakan keluarga akseptor, di mana mereka telah aktif dan lestari dalam ber-KB selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun namun kesejahteraannya belum juga terangkat. Jadi, UPPKS dapat dikatakan sebagai bentuk penghargaan pada mereka atas partisipasinya dalam KB selama ini pada satu hal, dan merupakan upaya untuk mewujudkan cita-cita besar KB yakni keluarga kecil bahagia sejahtera pada lain hal.
?Dalam keluarga berencana, yang diutamakan adalah bagaimana keluarga sasaran itu mampu menyeimbangkan antara mengatur jumlah anak dengan slogan dua anak lebih baik, membina ketahanan dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Dengan demikian, mereka yang telah ber-KB harus pula mampu membina keluarganya agar tetap harmonis serta berupaya meningkatkan penghasilan agar lebih sejahtera. Begitu sebaliknya, keluarga yang penghasilannya telah meningkat, harus tetap ingat pada KB sepanjang masa suburnya agar kesejahteraan yang telah dicapai tidak hilang begitu saja karena ditelah oleh kebutuhan anak. Disinilah maknanya mengapa UPPKS berhasil, tidak boleh melupakan KB, ? kata HM Dawam.

Sumber berita: Drs. Mardiya
Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo
HP. 081328819945