Bupati Kulon Progo Jadi Irup di SMAN 1 Pengasih

  • 29 November 2011 08:29:20
  • 1342 views

Bupati Kulonprogo dr.H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) untuk pertama kalinya menjadi Inspektur Upacara (Irup) dalam upacara bendera yang digelar setiap hari Senin di SMAN 1 Pengasih, Senin (28/11), mengawali upacara-upacara serupa yang secara rutin akan diadakan setiap bulan di sekolah-sekolah.

Upacara di SMAN 1 Pengasih yang diikuti Kepala Sekolah SMAN 1 Pengasih Dra.Ngatini, para guru dan tenaga administrasi serta seluruh siswa siwi itu, digelar di lapangan yang berada di dalam kompleks sekolah.

Pagi itu, meski upacara baru dimulai tepat pukul 07.10 WIB, Bupati telah tiba di SMA yang dulunya merupakan bekas bangunan Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN), pukul 06.30 WIB atau lebih awal dari para guru dan siswa. Meski demikian, kepala sekolah dan beberapa pegawai dinas pendidikan Kulonprogo telah datang menyambut di depan gedung sekolah.

Dalam amanatnya, Bupati berpesan kepada para siswa untuk terus belajar dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dengan tidak merasa berkecil hati tidak usah merasa kalah dibanding sekolah-sekolah yang ada di kota-kota besar. Karena nasib yang dirasakan sekarang ini masih lebih baik dari pada yang dialami di jaman para bapak ibu guru “Pengaruh negatif untuk diseleksi, saya juga pernah alami, masa SMA adalah usia mencari jati diri, hindarilah perkelahian antar geng atau pelajar, mabuk-mabukan, apalagi sampai narkoba, dan merokok yang sangat merusak generasi muda, serta menghemat pulsa,” kata Hasto yang sejak kecil hingga SMA sekolahnya di Kokap dan Wates.

Sesuai dengan keahliannya di bidang Kebidanan dan kandungan, Hasto menjelaskan panjang lebar tentang pergaulan bebas, bahayanya kawin muda yang merupakan faktor utama penyakit berbahaya mematikan yaitu kanker mulut rahim.

Sedangkan untuk menjadi sekolah yang berprestasi atau sekolah unggulan diharapkan untuk mengintensifkan pertemuan siswa dengan guru melalui target-target yang dicapai, seperti dilakukan oleh sekolah-sekolah di kota besar yang mampu mengantarkan siswa sebagian besar sukses masuk di perguruan tinggi negeri.

Khusus kepada para guru agar memberikan perhatian kepada siswa yang tidak mampu untuk tetap dapat melanjutkan sekolah dengan tidak membebani siswa yang bersangkutan. “Mari kita hidup hemat, sederhana, mencegah penggeluaran yang tidak penting, mencintai Kulonprogo dengan mengkonsumsi beras produksi petani kita, serta berzakat untuk membantu saudara kita yang masih kekurangan,”pintanya.

Kedatangan orang nomor satu di Kulonprogo ini ternyata belum mampu meningkatkan disiplin para siswa, terbukti hingga usai upacara terdapat 15 siswa yang datang terlambat, terdiri 10 siswi dan 5 siswa, sehingga mereka dibariskan sendiri di luar oleh Satpam sekolah dan mendapatkan pembinaan oleh guru BP. (MC)