MEMBANGUN KELUARGA MASA DEPAN

  • 28 Februari 2011 08:41:09
  • 3419 views

Sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, tampaknya keluarga dengan banyak anak bakal makin tidak populer. Apalagi pola hidup masyarakat terus mengalami perubahan. Antara lain perubahan konsep extended family ke konsep "keluarga batih" (nuclear family). Di Indonesia, gejala ini tampak jelas pada Sensus Penduduk 1999 lalu. Perubahan komposisi dari keluarga besar ke keluarga batih (inti), telah menjadi fenomena demografis yang menarik perhatian ahli-ahli kependudukan waktu itu. bayangkan, keluarga dengan 4 atau 5 anak yang ditumpangi paman, bibi, uwak, kakek, nenek, sepupu, dan sebagainya yang mendominasi rumah tanggal pada waktu 1970-an, menjadi keluarga kecil dengan 2 anak tanpa dibebani kerabat pada saat ini. Tentu hal ini akan menarik untuk diteliti.

Berkurangnya extended family dan membengkaknya keluarga batih selama kurun waktu tersebut, memberikan indikasi semakin berkurangnya rumah tangga yang ditumpangi sanak saudara. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan mustahil 10 atau 15 tahun mendatang, pola keluarga batih sudah menjadi gaya hidup. Yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang masing-masing memiliki tanggung jawab karir. Dalam hal ini, nantinya pembinaan anak bukan lagi merupakan keharusan anggota keluarga sendiri. Namun sudah dialihkan kepada orang yang "profesional" di bidangnya. Misalnya, pengelola penitipan anak. Dan masyarakat dengan karakteristik demografis terbaik akan menjadi penganut terdepan sistem ini.

Munculnya keluarga batih, sebenarnya hanya merupakan bentuk antisipasi terhadap pesatnya perkembangan zaman. Antara lain sebuah kenyataan gamblang, bahwa hidup makin sulit. Pemenuhan kebutuhan hidup keluarga tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab suami (ayah). Ledakan jumlah penduduk, umpamanya, mau tidak mau mendorong orang harus bekerja ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Disini anggota keluarga terlibat. Tidak jarang harus tercerai berai. Suami di Jawa, isteri merantau ke Malaysia, dan anak ikut transmigrasi. Atau suami kantoran, isteri pegadang di pasar, dan anak mondok di lain kota untuk meneruskan studi.....

Selengkapnya silakan download file (pdf 72,9 kb)

Ralat :

Pada alinea pertama tertulis menurut "Sensus Penduduk 1999" yang benar "Sensus Penduduk 2010"

Drs. Mardiya