ANGKAT KB LEWAT LAGU CAMPURSARI

  • 31 Januari 2011 10:28:44
  • 2818 views

Di kalangan masyarakat umum terutama yang menggeluti seni musik, Budi Jolong, seniman yang bernama asli Muhammad Mashudi dan terlahir di Pati 14 Maret 1965 dari pasangan Muh. Ma'ruf /Masmi itu, sudah sangat dikenal. Bukan hanya di level kabupaten atau provinsi, tetapi sudah sampai tataran nasional. Selama ini, ayah dari dua anak Muhammad Galih Rambujadi (19 tahun) lulusan SMK Maarif Wates yang sekarang kerja di Polytron Kudus dan Muhammad Lukman Hakim (13 tahun) kelas VII SMP N 1 Pengasih ini dikenal sebagai pengarang/pencipta lagu yang cukup beken. Mulai menggeluti musik sejak tahun 1985 lalu, telah menciptakan banyak lagu hit yang dinyanyikan penyanyi terkenal. Sebut saja lagu Jujur (pop kreatif) yang dinyanyikan Dewi Gita, lagu Monggo Mas (dangdut) yang dinyanyikan oleh Lisnawati, Mirnawati dan Megamustika, lagu Wes Ewes dan Ae Don No (campur sari) yang dinyanyikan oleh Cici Sahita, kemudian lagu Cinta Rasul 2 (Religi) yang dinyanyikan oleh Sulis, lagu Yatim Piyatu dan 25 Nabi yang dinyanyikan oleh Wafiq Azizah, dan masih banyak lagi.

Yang menarik, seniman yang beristerikan Raminah dan sekarang tinggal di Dusun Terbah, Desa Pengasih ini punya pandangan yang luar biasa terhadap Keluarga Berencana (KB). Pandangannya yang pertama adalah bahwa KB itu penting dalam rangka pengendalian penduduk sehingga pemerintah harus menggalakkan program KB. Khusus untuk Kulonprogo, meskipun pertumbuhan penduduknya terbilang rendah, tetapi KB harus tetap digalakkan terutama pada sisi peningkatan kualitas dan kesejahteraan penduduk. Pandangan yang kedua, Budi Jolong menganggap bahwa di zaman sekarang, keluarga yang tidak ikut KB adalah keluarga yang bodoh bahkan amat bodoh. Persoalannya yang sangat mendasar adalah bahwa untuk merawat dan membesarkan anak pada saat sekarang sangatlah besar, belum lagi kebutuhan hidup sehari-hari dan sosial yang tidak kalah banyaknya. Dengan ber-KB, menurut Budi Jolong, pasangan suami isteri dapat merasakan bulan madu dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bahkan untuk pengguna alat kontrasepsi hormonal seperti Pil, Implant dan Suntik, dalam kondisi normal tidak akan mengalami mentruasi karena kondisi rahim dibuat seperti orang hamil muda. Sedangkan pandangan yang ketiga adalah bahwa para generasi muda/remaja harus sudah dipahamkan dengan program KB sejak awal. Hal ini penting dilakukan karena mereka suatu saat pasti akan berkeluarga. Oleh sebab itu, Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) harus ditanamkan sejak dini selain aturan main dalam berkeluarga sehingga mereka dapat menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Khusus untuk remaja Kulonprogo, Budi Jolong punya harapan, mereka dapat menjaga diri dalam pergaulan dalam arti tidak terseret arus pergaulan bebas, karena ini sangat berbahaya. Dalam pandangan Budi Jolong, remaja yang sudah terseret pergaulan bebas bukan hanya akan mencemarkan nama baik keluarga, lingkungan dan masyarakat, tetapi juga akan mengundang masalah bagi sang remaja itu sendiri. Semisal karena bergaul terlalu bebas yang menyebabkan remaja putri hamil, pasti banyak masalah yang terjadi, baik dalam hal perawatan kehamilan, perawatan bayi, atau dalam membina keluarga bila remaja tersebut kemudian menikah. Masalah jadi makin pelik bila remaja putri tersebut pikirannya kalap sehingga mengambil tindakan aborsi untuk menutupi aib. Ini akan menjadi tragedi bagi keluarga, masyarakat dan bangsa bila kasus-kasus aborsi ini tidak segera diantisipasi, baik yang belum terjadi maupun yang sudah terjadi.

Tentang upaya menggemakan program KB, Budi Jolong punya kiat tersendiri sesuai dengan kemampuannya dalam menggubah lagu. Dirinya akan mengangkat program KB lewat Lagu Campursari. Tidak sembarang lagu campursari, tetapi lagu yang liriknya punya makna dalam pembangunan keluarga sejahtera, keluarga yang menjadi ending dalam pelaksanaan program KB di Indonesia. Menurut Budi Jolong, KB itu menggarap empat aspek, yakni Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Pengaturan Kelahiran, Pembinaan Ketahanan Keluarga, dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga. Empat aspek garapan ini yang akan digubah oleh Budi Jolong dalam empat lagu. Untuk aspek pengaturan kelahiran, Budi Jolong telah membuat lagu Mas Gundul Melu KB yang dibiayai oleh BKKBN DIY pada tahun 2009 lalu. Lagu ini telah beredar dan disosialisasikan lewat televisi, radio, media cetak bahkan internet melalui jejaring sosial Facebook. Sedangkan untuk aspek PUP akan disusun lagu "Rabine Diundur Wae" yang akan dikerjakan tahun ini. Lagu ini menggambarkan perlunya para remaja kita menunda pernikahannya hingga mencapai kedewasaan penuh baik fisik, mental psikologis, sosial, ekonomi, keyakinan maupun agama dengan pathokan umur untuk wanita minimal 20 tahun dan 25 tahun untuk laki-laki.

"Untuk lagu terkait aspek pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga masih dalam bayangan, karena untuk menggarap lagu Rabine Diundur Wae biayanya masih kurang cukup banyak. Dari total biaya sekitar Rp. 10 juta baru ada Rp 3 juta, bantuan Gubernur DIY lewat BPPM Provinsi DIY pertengahan Oktober 2010 lalu," katanya seraya menambahkan dirinya akan merasa sangat senang bila ada pihak-pihak tertentu (pengusaha atau perorangan) yang mau menutup kekurangan pembiayaan pembuatan lagu tersebut.

 

Sumber berita: Drs. Mardiya, Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDP dan KB) Kabupaten Kulonprogo HP. 081328819945