BERKELUARGA BUTUH PERSIAPAN MATANG

  • 28 Januari 2011 09:08:38
  • 1974 views

Berkeluarga itu membutuhkan persiapan yang matang, bukan hanya persiapan fisik, biologis dan mental, tetapi juga persiapan sosial ekonomi, pendidikan, ketrampilan, keyakinan dan agama. Persiapan ini sangat penting karena dengan berkeluarga bukan berarti masalah hidup selesai, namun justru bertambah mengingat kebutuhan orang berkeluarga luar biasa banyak. Oleh sebab itu, berani berkeluarga berarti harus siap dan berani mengekang diri, memiliki toleransi dan pengertian yang besar, jiwa legowo, berani jujur, mau berbagi dan sebagainya. Di sinilah perlunya Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) sebagai upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia ideal pada saat perkawinan yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Yang juga perlu dipahami, PUP bukan sekedar menunda perkawinan sampai usia tertentu saja, tetapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa. Bahkan harus diusahakan apabila seseorang gagal mendewasakan usia perkawinannya, maka penundaan kelahiran anak pertama harus dilakukan. Dalam istilah KIE disebut sebagai anjuran untuk mengubah bulan madu menjadi tahun madu.

Demikian dikatakan oleh Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo Drs. Mardiya pada saat pelatihan Pendidik Sebaya, Konselor Sebaya dan Pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SMA N 2 Wates, Rabu (26/1). Peserta pelatihan adalah para siswa kelas X dan XI yang terpilih sebagai kader dan disiapkan sebagai penerus kegiatan sekolah khususnya untuk Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan UKS. Ditambahkan oleh Mardiya, bila menikah tanpa persiapan, dalam perjalanannya dapat dipastikan tidak akan berjalan harmonis, namun yang terjadi adalah keluarga yang bersangkutan akan sering cekcok, rawan terhadap perselingkuhan, perceraian dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Menurut Mardiya, berkeluarga itu ibarat membuat biduk atau kapal yang disiapkan untuk berlayar di laut lepas. Kalau dalam berlayar, suami dan isteri sebagai nahkoda kapal tidak dapat bekerjasama dan bersinergi dalam mengayuh dayung misalnya, dapat dipastikan biduk tersebut tidak akan sampai ke tempat tujuan. Tetapi justru akan terombang-ambing di tengah lautan dan rawan tenggelam karena gelombang lautan atau terbalik karena tiupan angin. Di sini mengandung makna bahwa berkeluarga tanpa persiapan maka ketahanannya dipastikan rapuh dan mudah retak sehingga fungsi-fungsi keluarga yang mestinya berjalan baik dalam rangka mendukung perwujudan keluarga kecil bahagia sejahtera.

"Mendewasakan usia perkawinan sebenarnya memiliki kaitan erat dengan upaya penciptakan generasi masa depan yang berkualitas, karena generasi yang berkualitas tidak mungkin tercipta dari perkawinan yang terlalu dini yang dapat diibaratkan tanpa persiapan apapun, sehingga upaya PUP ini harus didukung bersama, walaupun bukan berarti kita menyarankan para remaja untuk menikah di usia yang terlalu senja karena batasan usia reproduksi sehat bagi pria dan wanita sudah jelas," katanya.

 

Sumber berita: Drs. Mardiya

Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo

HP. 081328819945