BANJIR LAHAR MERAPI MENUTUP RATUSAN HEKTARE SAWAH DI KULON PROGO

  • 12 Januari 2011 08:31:57
  • 1638 views

Banjir lahar dingin Merapi menutup ratusan hektare areal persawahan di Kecamatan Kalibawang, yang berada di Desa Banjarasri yang berbatasan langsung dengan Dusun Njurang Desa Banjarharjo, sehingga areal persawahan yang pada saat itu sedang ditanami berbagai macam tanaman mengalami kerusakan.

Menurut warga Dusun Gonosari Desa Banjarasri, Dwi Suwito, banjir lahar dingin di Kali Progo terjadi pada Minggu (9/1) malam sekitar pukul 20.00 WIB disertai hujan deras sejak siang harinya.
"Dari siang sekitar pukul 14.00 WIB sudah turun hujan dan lama kelamaan air yang berada di Kali Progo tinggi dan menerjang areal persawahan ini," katanya, Selasa (11/1).
Salah satu pemilik lahan, Ponidi, warga Dusun Njurang Desa Banjarharjo mengatakan, banjir tersebut juga merusak tanaman cabe miliknya yang sudah siap panen.
Bahkan dalam minggu ini, ia baru berniat untuk memanen tanamannya di lahan seluas 1.000 meter tersebut. "Begitu harga cabe mulai merangkak naik saya lalu memutuskan untuk menanam cabe, dan dalam minggu ini rencananya mau panen, tapi ternyata sudah hancur semua," tuturnya.
Padahal tanaman cabe tersebut tadinya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian keluarganya, mengingat harga cabe yang masih sangat tinggi. "Dari 1.000 meter diperkirakan dapat memanen hingga delapan kuintal dengan harga per kilogram (kg) bisa mencapai Rp70.000. Akibat kejadian ini, saya rugi puluhan juta rupiah," keluhnya.
Warga lainnya, Suwitorejo, mengatakan, banjir datang disertai suara gemuruh seperti helikopter. Akibat kejadian tersebut areal sawahnya seluas 3.000 meter yang baru ditanami padi dua bulan lalu saat ini sudah tertutup pasir seluruhnya.
"Suara banjir terdengar bergemuruh, lalu saya langsung lihat sawah saya sudah tertutup banjir," ujarnya.
Menurut Suwitorejo, dirinya maupun warga lainnya berharap pemerintah segera memikirkan langkah-langkah konret agar warga tetap mendapatan pemasukan, karena selama ini areal persawahan tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi warga.
Sementara itu, Kasie Trantib Kecamatan Kalibawang, Mujiran, mengatakan, banjir tersebut terjadi karena ambrolnya tebing yang berada di utara kedua daerah tersebut yang jebol diterjang banjir lahar dingin.
"Tadinya ada tebing setinggi 60 meter di pinggir kali Progo yang mampu menjadi tanggul alam, namun akibat derasnya banjir yang tinggi airnya mencapai 40 meter, akhirnya jebol dan banjir menggenangi areal persawahan ini," ungkapnya.
Bebeberapa saat setelah kejadian, menurut Mujiran, pihak kecamatan juga sempat mengungsikan warga yang berada di sekitar Kali Progo karena dikhawatirkan air akan terus meninggi. "Setidaknya ada 10 keluarga yang kami ungsikan sementara, namun saat ini sudah kembali ke rumahnya masing-masing," ujarnya.
Kasie Kesra Kecamatan Kalibawang, Untung, menambahkan, di Dusun Gonosari Desa Banjarasri setidaknya ada 70 ha areal persawahan yang tertutup pasir, sementara di Dusun Njurang Desa Banjarharjo sekitar 40 ha.
Untung menuturkan, lahan pertanian ini juga sudah tidak memungkinkan untuk ditanami lagi karena ketinggian pasir sekitar 1,5 meter. "Kalaupun ditanami butuh waktu puluhan tahun untuk kembali normal seperti sedia kala," tuturnya.
Areal persawahan di kedua dusun tersebut sebelumnya ditanami berbagai macam tanaman seperti padi, buah naga, cabai, sayuran dan palawija serta ditumbuhi pepohonan seperti durian dan rambutan.(-)