PELATIHAN MANAJEMEN KELOMPOK UNTUK PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KOMPONEN 2 DI KULON PROGO

  • 26 Oktober 2010 09:02:35
  • 4125 views

Pelaku usaha mikro harus memahami tujuan dan prinsip dasar kelompok swadaya masyarakat sebagai lembaga ekonomi yang berpihak pada kepentingan anggota serta memahami tugas dan tanggung jawab pengurus serta anggota, memahami teknik-teknik penghimpunan dana, tabungan juga mampu mengelola pinjaman secara
profesional tetapi sederhana. Hal tersebut diutarakan Bupati Kulonprogo, Toyo S Dipo di dalam sambutannya dalam acara Pelatihan Manajemen Kelompok yang diselenggarakan oleh GTZ-Livelihood Recovery Project bekerja sama dengan PD BPR Bank Pasar Kulonprogo, Senin (25/10) di Kecamatan Panjatan.


Toyo S Dipo menambahkan, pelatihan ini menunjukkan adanya semangat untuk maju bersama mengembangkan Kabupaten Kulonprogo melalui kelompok swadaya masyarakat, melalui upaya peningkatan kemampuan dan kualitas KSM sebagai mitra kerja. Bupati berharap pelatihan ini dapat bermanfaat bagi peserta, dalam arti materi yang diajarkan dapat dimengerti, dipahami, dikuasai, dan dipraktekkan dalam manajemen kelompok usaha swadaya masyarakat sehingga mampu mengelola dana dan dapat mengembangkan usaha.


Dalam sambutannya, Bupati memberi saran agar uang usaha dan uang keluarga dipisah, supaya mudah dikelola dan tidak mengganggu pengelolaan usaha, menekankan tertib administrasi, dan jika memungkinkan jumlah jam kerja masyarakat bisa ditingkatkan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dalam laporannya, Yoga Saptono, Ketua Panitia pelatihan ini, menyatakan bahwa pelatihan manajemen kelompok ini merupakan salah satu kegiatan dari GTZ-LRP. Latar belakang pelatihan ini adalah adanya kendala dari usaha mikro dalam menjalankan usaha sehingga berdampak pada sulitnya membayar angsuran kepada bank pasar Kulonprogo, termasuk pembiayaan melalui pola kelompok.


Ditambahkan Yoga, kredit melalui kelompok dianggap sebagai cara yang efektif dan efisien dalam menjangkau usaha mikro dan kecil, terutama yang berada di pelosok pedesaan. Namun begitu ada permasalahan yang muncul, antara lain tidak adanya peraturan yang jelas dalam kelompok, mekanisme pertemuan yang tidak teratur, dan tidak adanya catatan keuangan dalam kelompok. Sehingga kelompok sebagai lembaga
intermediasi antara usaha kecil dengan bank tidak dapat berfungsi dengan optimal. Dengan pelatihan ini diharapkan anggota kelompok dapat mengenal kelompoknya dengan baik sehingga hubungan kemitraan yang saling menguntungkan dan memperkuat antara bank dengan UKM dapat diwujudkan.

  
Pelatihan ini diikuti oleh 33 orang pengurus/kader kelompok swadaya masyarakat dari 11 KSM yang tersebar di wilayah kecamatan Panjatan, Temon, Wates dan Kokap yang telah menjadi mitra keuangan PD BPR Bank Pasar Kulonprogo dan telah dilakukan assessmen oleh tim GTZ-LRP. Pelatihan ini juga diikuti oleh petugas PLKB dari 4 kecamatan di atas. Pelatihan ini akan diselenggarakan mulai Senin (25/10) hingga Rabu (27/10) pukul 09.00 - 16.00. Selain pelatihan manajemen kelompok, juga
diberikan pelatihan kewirausahaan yang akan diselenggarakan di Kecamatan Lendah pada hari Selasa (26/10). Pelatihan ini akan dilakukan hingga bulan Januari 2011 pada kurang lebih 250 usaha mikro di Kulonprogo untuk 2 topik pelatihan. Dalam pelatihan ini, juga dilakukan kunjungan ke masing-masing kelompok oleh trainer untuk melakukan advokasi atau konsultasi kepada usaha mikro supaya usaha mereka dapat berkembang lebih baik lagi.


Sementara itu, Direktur Utama PD BPR Bank Pasar Kulonprogo, Fahmi Akbar Idris, SE,MM menyatakan bahwa kerjasama antara PD Bank Pasar dengan bank dunia yang difasilitasi oleh GTZ ini bernilai 10 Milyar, dimana 5 miliar harus disalurkan ke Kulonprogo dengan bunga yang relatif lebih murah, sedangkan untuk 5 milyar yang kedua harus disalurkan kepada BUKP di seluruh Yogyakarta yang terdiri dari 40 BUKP. Ditambahkan Fahmi, Kerjasama antara Bank Pasar dengan Bank Dunia sudah berlangsung sejak tahun 2003, dan total dana yang sudah disalurkan untuk kelompok usaha kecil ibu-ibu di Kabupaten Kulonprogo bernilai lebih dari 28 milyar.


Menurut Frank Pohl, Team Leader GTZ-LRP, dalam rangka Program Livelihood Recovery untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, program GTZ-LRP ini selain menyediakan komponen dana kredit yang dapat diakses lewat PT. PNM juga menyediakan bantuan teknis, baik bagi lembaga keuangan mikro (dalam hal ini BPR dan Koperasi) serta bantuan teknis kepada UMKM sesuai kebutuhan. GTZ-LRP berencana mengadakan pelatihan bagi usaha mikro dalam komponen 2 ini yang sebagian besar berada di wilayah Kulonprogo. Dengan pelatihan ini diharapkan kelompok usaha mikro dapat pulih kembali dan dapat menjalankan fungsinya dalam hubungan dengan pihak Bank Pasar Kulonprogo dan pada gilirannya mendukung perkembangan usaha mikro.


GTZ (Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit) adalah sebuah organisasi dari Jerman yang berkirah dalam kerjasama internasional untuk kelangsungan pembangunan. Di Indonesia, kerjasama ini diprioritaskan dalam tiga bidang, yaitu: perubahan iklim, pengembangan sektor swasta, dan good governance/desentralisasi. (-)