Balai Besar PBPTH Kembangkan Tanaman Nyamplung

  • 15 Juli 2010 08:22:05
  • 2957 views

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BB PBPTH) Yogyakarta akan mengembangkan pembibitan tanaman nyamplung dan akasia unggul di Kulonprogo. Pengembangan dilakukan dengan pembuatan plot pembibitan di Desa Karangwuni, Wates dan Jangkaran, Temon.

Untuk merealisasikan program tersebut, Rabu (14/7) di gedung Joglo Pemkab dilakukan penandatanganan nota kerja sama oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo dan Kepala BB PBPTH Yogyakarta Dr Ir Rufi'ie, MSc. Acara itu dihadiri Kepala Bappeda Ir Agus Langgeng Basuki dan segenap pejabat Pemkab serta Kabid Perencanaan BB PBPTH Yogyakarta Ir Gunawan Hadi Padnoto MSi.

Menurut Yufi'ie, pengembangan bibit nyamplung dan akasia unggul di Kulon Progo diutamakan untuk kepentingan penelitian. Namun demikian, di masa depan akan dilakukan pengembangan dan budidaya tanaman. Kedua jenis tanaman tersebut, kata dia, memang belum banyak dikembangkan oleh masyarakat.

"Padahal keduanya mempunyai potensi ekonomis yang cukup besar. Terutama, tanaman nyamplung yang buahnya bisa diolah sebagai bahan bio energi," katanya.

Dituturkan oleh Yufi'ie, plot pembibitan akan dibangun di 2 lokasi. Di Desa Jangkaran untuk nyamplung seluas 2,25 hektar dan akasia 1 ha. Sedang di Karangwuni hanya untuk pembibitan akasia seluas 1 ha. "Ini untuk tahap I, pada tahap II nanti akan kami tambah 5 hektar lagi," jelasnya.

Toyo menyambut baik program dari BB PBPTH Yogyakarta tersebut. Karena, menurut dia, Kulonprogo memiliki potensi pengembangan hutan rakyat yang sangat prospektif. Pada 5 tahun terakhir, kata dia, terjadi peningkatan jumah tanaman di kawasan hutan rakyat yang sangat tajam. Karena setiap tahun Pemkab memprogramkan penanaman 1 juta pohon yang harus hidup.

"Dengan adanya pengembangan tanaman nyamplung dan akasia unggul akan menambah jumlah pohon, yang dengan demikian akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Terutama tanaman nyamplung yang memiliki fungsi ganda untuk meningkatan ekosistem dan ekonomi masyarakat. Buahnya merupakan bahan dasar bio fuel yang harganya cukup tinggi," katanya.(-Media Center)