Telu-Teluning Atunggal - Jadi Pedoman Pembangunan Kulon Progo

  • 02 Februari 2010 13:08:30
  • 3422 views

Sebuah istilah Jawa, telu-teluning atunggal atau yang biasa disebut sebagai trilogi pembangunan, menjadi pedoman pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. Telu-teluning atunggal merupakan sistem pembangunan yang dititikberatkan pada tiga bidang pokok pembangunan daerah yaitu, pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Ketiganya merupakan bidang pembangunan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain dan harus dilaksanakan secara bersama-sama. Karena ketiga bidang tersebut merupakan satu kesatuan sehingga biasa disebut sebagai telu-teluning atunggal.

 

Berdasar pada hal tersebut, pendidikan yang menjadi salah satu bidang dasar pembangunan harus mendapatkan perhatian. Sejalan dengan kebijakan pembangunan pendidikan nasional yaitu, wajib belajar (wajar) sembilan tahun. Dengan kebijakan "wajar" sembilan tahun anak-anak dari keluarga tidak mampu, anak dari daerah terpencil dan anak-anak cacat memerlukan perhatian yang lebih. Karena tanpa adanya perhatian yang lebih anak-anak tersebut bisa terancam tidak bisa memenuhi kebijakan wajar sembilan tahun.

 

Demikian dikatakan oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo S Dipo, Selasa (2/2), saat memberikan bantuan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) kepada anak-anak sekolah SD/MI dan SMP/MTs dari keluarga tidak mampu di Gedung Kaca komplek pemkab. Acara dihadiri oleh Muspida, Anggota DPRD Kulon Progo Drs. Kasdiyono, Ketua GNOTA Provinsi H. Istikno, Ketua GNOTA Kulon Progo Arif Sudarmanto, SH serta anak-anak penerima bantuan.

 

Padahal anak-anak dari keluarga tidak mampu, anak dari daerah terpencil maupun anak-anak cacat juga memiliki potensi yang sama dengan anak -anak usia sekolah yang lain. "Dengan memberikan perhatian seperti bantuan GNOTA, kami berharap mampu mendukung usaha untuk menggali potensi dan mengembangkan SDM dari anak-anak dari keluarga kurang mampu," katanya.

 

Di sisi lain, Bupati juga memberikan dorongan moral kepada anak-anak penerima bantuan untuk tidak perlu berkecil hati terhadap keadaan mereka. Karena sebuah cita-cita tidak boleh menyerah hanya karena keadaan yang diterima. Ditegaskan, anak-anak harus memiliki semangat yang tinggi untuk menggapai cita-cita mereka. "Saya dulu juga berasal dari keluarga yang biasa saja namun saya tetap memiliki semangat untuk mencapai cita-cita. Saya berharap anak-anak semua juga demikian," pinta Bupati kepada 302 anak SD dan SMP penerima bantuan.

 

Sementara itu, Ketua GNOTA Kulon Progo Arif Sudarmanto, SH mengatakan bahwa bantuan GNOTA diberikan untuk 302 anak-anak SD/MI dan SMP/MTs. Jumlah bantuan keseluruhan mencapai Rp 36.480.000. Dengan rincian, Rp 36 juta untuk 300 anak SD/MI dan Rp 480 ribu untuk 2 orang anak SMP/MTs. Sedangkan selama 12 tahun sejak GNOTA berdiri, bantuan yang telah diberikan untuk anak-anak sekolah dari keluarga tidak mampu mencapai Rp 987,5 juta. Bantuan tersebut diberikan untuk 8.485 anak SD/MI, 4.399 anak SMP/MTs dan 40 anak SMA/MAN.

 

Di sisi lain, bantuan kepada anak-anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu diberikan dengan pertimbangan banyaknya program pemerintah seperti, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Raskin, Jamkesmas, Jamkesda dan yang lain belum mampu untuk menyelesaikan permasalahan bagi anak-anak sekolah dari keluarga tidak mampu. Sehingga dengan bantuan tersebut diharapkan mampu untuk mendukung anak-anak tersebut seperti, untuk keperluan membeli peralatan sekolah. "Dengan dukungan bantuan kami berharap mampu mengurangi beban bagi para siswa dari keluarga tidak mampu dalam mengikuti kegiatan belajar dan memenuhi peralatan pendukung sekolah," katanya.