SETELAH VAKUM 10 TAHUN; Pakualaman Kembali Gelar Labuhan

  • 08 Januari 2009 00:00:00
  • 1969 views
Puro Pakualaman kembali melakukan acara ritual berupa labuhan di Pantai Glagah Indah Temon Kulon Progo, Rabu (7/1). Acara rutin yang dilakukan kerabat Puro Pakualaman ini sebenarnya telah berlangsung lama, namun sempat vakum atau terhenti selama 10 tahun, karena wafatnya orang yang diberi kepercayaan oleh pihak Puro.

Salah satu kerabat kraton Puro yang hadir , KPH Indrokusumo menjelaskan ritual Labuhan yang diselenggarakan ini sebenarnya telah berlangsung sejak turun temurun, namun pada tahun 1998 sempat terhenti karena yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan wafat dan baru setelah 10 tahun ini ada yang berani. ? Labuhan ini awal dari ritual Puro yang nantinya dilakukan setiap tanggal 10 bulan Suro tahun Jawa, ini sempat berhenti selama 10 tahun, karena yang bertanggung jawab wafat, sekarang sudah ada dan berani bertanggung jawab,? terang Indro.

Ritual Labuhan Hajad Dalem KGPAA Paku Alam IX, dihadiri oleh kerabat Puro antara lain Permaisuri Gusti Kanjeng Raden Ayu (GKRA) Adipati Pakualam, KPH, Indrokusumo, BRM Haryo Seno, BRM Aryo Damandono, dari Pemkab Kulon Progo Bupati H.Toyo Santoso Dipo, Asisten Pembangunan Ir.Agus Anggono, Kadinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Drs.Bambang Pidegso, Msi, Camat Temon Dra.Sri Utami,M.Hum.

Acara labuhan diawali dengan serah terima uba rampe labuhan berupa dua gunungan palawija, pakaian bekas, serta sesaji yang akan dilabuh dari pihak Puro yang diserahkan kepada abdi dalem yang diwakili Kades Glagah di Pesangrahan Paku Alaman. Selanjuntnya semua uba rampe di arak dengan jalan kaki menuju lokasi labuhan di pantai Glagah yang berjarak sekitar 3 km. Kirab uba rampe diawali pasukan Puro Bregodo Lombok Abang yang menggenakan pakaian serba merah dengan tombak kemudian sesaji dan gunungan, yang dibelakangnya pasukan Puro Bregodo Plangkir yang berpakaian serba hitam dengan menggenakan senapan .

Sebelum dilabuh, uba rampe terlebih dahulu singgah di Joglo Labuhan untuk melaksanakan doa. Usai dilakukan doa baru dibawa ke laut untuk dilabuh. Uba rampe yang dilabuh berupa pakaian bekas Puro kemudian gunungan yang kemudian menjadi rebutan oleh para pengunjung.