19 Aug 2019

Refleksi 2 Tahun BPBD Kulon Progo, Bupati Harapkan Kerja Secara Ikhlas

BPBD Kulonprogo dibentuk 19 Januari 2011, dalam kondisi dan cuaca ekstrim yang melanda. Sehingga saat ini BPBD Kulonprogo telah mencapai umur 2 tahun. Menurut Bupati Kulonprogo, dr. H. Hasto Wardoyo, SpOG(K) bencana alam merupakan peristiwa yang tidak dapat diketahui, sehingga kesiapsiagaan BPBD tentu menjadi salah satu kunci, karena bencana tidak bisa direncanakan, bahkan anggaran yang ada pun banyak dari tempat tak terduga yang cara mengaksesnya membutuhkan cara yang khusus dan cepat tetapi harus bisa dipertanggungjawabkan. Demikian disampaikannya pada acara Refleksi dan Ulang Tahun Kedua BPBD Kulonprogo di Kantor BPBD Kulonprogo, Senin siang (21/01).

Hasto melanjutkan bahwa saat ini pemkab sedang menyiapkan mekanisme pencairan dana bencana, sehingga dalam waktu 2x24 jam bisa dicairkan serta memenuhi kaidah legalitasnya. 

"Sehingga diharapkan BPBD dapat bekerja lebih baik dengan dukungan Pemda melalui SOP yang sudah ditetapkan," kata Hasto.

Sementara itu, Kepala BPBD Kulonprogo, Untung Waluyo, berharap bahwa BPBD lahir dengan penuh niatan, semangat yang ikhlas, semangat dan tanggung jawab mulia untuk memberikan pelayanan yang cepat, tepat, koordinatif dan simultan. Bukan sekedar parsial, lips service, retorika bahkan politis. Sehingga keberadaan BPBD lebih bermakna dengan nilai-nilai kemausiaan.  Hal ini juga diamini oleh Hasto Wardoyo bahwa  ikhlas itu punya makna tidak mengharapkan imbalan kecuali pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. 

"Karena itu yang harus menjadi contoh bagi kita semua bekerja dengan ikhlas dan saya sering mengatakan bekerjalah dengan hati dan roh, karena kalau bekerja dengan fisik itu akan gampang capek," ungkap Hasto.

Untung menjelaskan bahwa yang namanya bencana pasti terjadi di luar kekuasaan manusia, tidak dapat dihindari dengan permasalahan yang kompleks dan ragamnya. Bencana banyak ragamnya dengan biaya yang mahal banyak lembaga yang terlibat, sehingga diharapkan penanganan bencana bukan sekedar tanggap darurat. Dengan segala keterbatasan BPBD juga dipaksa memutar otak untuk melaksanakan beban dan tanggung jawab. Namun Untung menarik sisi positifnya yaitu BPBD dapat jadi alat perekat antara masyarakat dan pemerintah dengan bersama-sama bersatu dengan masyarakat dan ideologis yang dapat dibangun adalah jalan murah menuju sorga. 

"Dalam menanggulangi bencana mari kita laksanakan dengan ikhlas, inilah jalan kita yang termurah menuju sorga," tegas Untung.

Untung Waluyo menjelaskan bahwa Kulonprogo memiliki bencana yang dapat diprediksi secara rutin, yaitu kekeringan, longsor, dan banjir yang dapat diprediksi periodisasinya. Diakuinya BPBD sampai saat ini belum mampu memberikan dan berbuat yang terbaik kepada Kulonprogo, karena BPBD masih dalam proses belajar.

Setelah acara tersebut, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana meliputi 5 jembatan dan 2 lokasi talud, bronjong dan krip sungai, dengan total biaya Rp 10.045.302.000,- yang berasal dari dana hibah dari BNPB yang telah selesai dikerjakan serta peresmian pemakaian truk tangki.

Hadir dalam acara itu antara lain Bupati beserta Wakil, Sekretaris Daerah, Kepala BPBD Pelaksana DIY, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Sleman, GK, Kota Yogyakrta, Pimpinan SKPD, dan Relawan berbagai unsur.***

 

Tags :  

Berita Terkait

SubDomain